Pemerintah Intan Jaya Sudah Tangani Anak dengan Sakit Langka

0
8694

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com— Natalis Tabuni, bupati kabupaten Intan Jaya, Papua mengatakan pemerintah kabupaten intan jaya siap dan mampu bertanggungjawab terhadap seorang anak sekolah dari distrik mbiadoga yang didiagnosa kena penyakit langka.

Tabuni mengatakan, sejak awal dirinya mendapatkan informasi tentang kondisi dan keberadaan anak tersebut dari seorang guru yang bertugas di Mbiandoga. Setelah itu dirinya sudah mengambil tindakan cepat. Tindakan cepat yang dimaksud adalah membentuk sebuah tim kecil dan terbatas yang terdiri dari tenaga medis dan pihak keamanan.

“Setelah kami bentuk tim, saya sudah perintahkan untuk carter dua helikopter dari Nabire ke Mbiandoga untuk jemput anak itu. Setelah tim tiba, harus jalan kaki satu hari lagi ke tempat di mana ada anak itu. Lalu hari berikutnya tim sudah antar pasien ke Nabire,” jelasnya kepada suarapapua.com di Jayapura tidak lama ini.

Kata Tabuni, dirinya tidak mau ada bantuan dari dinas kesehatan provinsi maupun dari luar untuk menangani anak tersebut. Alasannya, karena pemerintah kabupaten intan jaya sangat mampu untuk membawa pasien dan berobat.

“Anak itu sudah ada di Nabire. Sampel darah sudah diambil dan untuk saat ini tunggu hasil dari laboratorium untuk identifikasi sakit diderita oleh anak tersebut. Jika sudah, pihaknya akan umumkan,” terangnya.

Dengan demikian, semua orang mengatakan intan jaya keadaannya seperti ini dan itu, perlu disampaikan bahwa saat ini keadaan di intan jaya sudah aman.

Terkait dengan sakit yang diderita anak dari Mbiandoga itu, ia mengatakan bahwa jika sudah ada hasil dan ketahui penyakitnya, maka pemerintah akan turun untuk mencari orang-orang dengan sakit yang sama agar tidak menyebar dan menyebabkan kematian.

“Untuk anak yang sudah ditangani pemerintah intan jaya akan tangani dan akan bawa ke Jakarta untuk berobat. Kami juga sudah meminta kepada tim yang turun ke Mbiandoga untuk lakukan survey selama tiga hari untuk cek kemungkinan penderita lain dengan penyakit serupa,” katanya.

Guru Dazakiey, orang pertama yang melaporkan kondisi anak tersebut mengatakan, ia sudah mendapat informasi bahwa pemerintah daerah sudah ambil tindakan untuk ke Mbiandoga dan saat ini sedang menjalani perawatan di Nabire.

“Kondisi anak itu sudah membaik, namun hidungnya cacat. Pihak dokter sudah tangani dan dari hasil laboratorium, anak tersebut dinyatakan kena Frambusia,” ungkapnya.

Frambusia atau patek merupakan jenis penyakit kulit yang mudah menular, penyakit ini ditandai dengan timbulnya bintil-bintil kecil pada kulit yang letaknya berdekatan. Setelah matang, bintil-bintil tersebut merekah dan mengeluarkan nanah. Jika mengering, menimbulkan kerak dan membekas dan disertai dengan sakit kepala dan nyeri pada sendi.

Dikatakan, anak tersebut sedang menjalani perawatan intensif dari tim dokter di bawah pengawasan karena penyakit yang dideritanya itu penyakit menular.

“Tim yang menangani anak itu adalah tim yang dibentuk oleh pemerintah intan jaya,” katanya.

Ia mengaku, setelah informasi awal tentang kondisi anak tersebut di sosial media, sudah ada beberapa dokter yang siap membantu dari Jakarta. Namun, ia tidak bisa melangkahi upaya yang sedang dilakukan pemerintah daerah.

“Karena mereka sudah bekerja. Tapi jika nanti dibutuhkan, pastinya dokter-dokter ini akan membantu,” ujarnya.

Pewarta: Arnold Belau