Saya dan Aktivitas di Kantor Dinas Pendidikan Paniai

Sebuah catatan kunjungan penulis selama satu minggu: 28 Agustus - 3 september 2018

0
8071

Oleh: Agustinus Kadepa)*

Entah seperti apa dampak dari catatan ini, saya harus melakukannya. Mungkin para pihak yang menjalankan roda pendidikan akan merasa pedis dengan catatan ini, tetapi akan menjadi bahan evaluasi demi kemajuan pendidikan di bumi Wagadei.

Catatan ini ditulis karena gelisah melihat kondisi pendidikan yang selama ini dibungkam dan tidak diketahui publik. Dampak nyata yang terlihat beberapa tahun terakhir adalah terjadi aksi demonstrasi oleh para honorer, sehingga semua sekolah tidak belajar selama dua minggu. Saya temukan beberapa calon mahasiswa yang selesai dari SMA di kabupaten Paniai ‘belum bisa baca’.

Sekarang saya tinggal di Paniai selama empat bulan, kondisinya tidak berubah, stagnan, dan melakukan aktivitas dinas pendidikan di luar kantor. Supaya statement (pernyataan) tentang kondisi pendidikan itu tidak menjadi bahan konsumsi negatif atau terlihat memojokkan dinas pendidikan, maka saya berkomitmen untuk melakukan perjalanan ke kantor Dinas Pendidikan selama satu minggu pada jam kerja (jam dinas).

Saya melakukan pengamatan pada setiap jam efektif dinas. Dalam tulisan ini saya akan menyampaikan semuanya yang saya lihat dan dengar dari semua pihak yang dijumpai, dan pada orang yang mengalami dan merasakan kondisinya (Dinas Pendidikan).

Sistematika penulisan dari catatan ini akan menyampaikan pengamatan setiap hari kunjungan. Dengan proyek kecil ini akan menjadi bahan untuk melihat lebih jauh tentang kondisi pendidikan di sekitaran Danau Wissel.

Berikut ini pengamatan saya di kantor Dinas Pendidikan Kabupaten Paniai:

Kondisi Dinas Pendidikan Pada Kunjungan Pertama (28 Agustus 2018)

Saya naik angkot ke Madi. Saat jalan santai ke terminal, ada seorang hentikan motor, dia adalah seorang Kepala Sekolah di sebuah sekolah di distrik Bogobaida. Dia masih muda, namun diangkat menjadi kepala sekolah di Sekolah Dasar (SD) di daerah tersebut. Dia persilahkan saya naik di motor menuju ke Madi. Kami bercerita soal sekolah di tempat tugasnya. Saya mengajukan beberapa pertanyaan, tetapi dia hanya menjawab sebagian pertanyaan. Ya, lainnya tidak terjawab karena angin membawa jawaban atau pertanyaan pun disapu angin. Entahlah!

Jam 09.43 pagi saya berada di kantor UT, pagar kantor masih tertutup. Hampir beberapa menit di depan kantor ini dan menghubungi orang yang hendak ditemui, tetapi tidak digubris. Akhirnya saya memutuskan untuk jalan santai ke kantor Dinas Pendidikan kabupaten Paniai sekitar jam 10.39.

Pintu kantor yang masih tertutup rapat di hari pertama kunjungan saya. (dok pribadi – SP)

Kondisi kantor ini masih seperti empat bulan sebelumnya. Di halamannya masih ada rumput tinggi dan belum dibersihkan. Di samping halaman kantor ada beberapa pegawai dengan berbaju dinas sedang berdiri. Semuanya berdiri membawa tas dan noken di punggung mereka. Saya langsung menuju pintu kantor ini, tetapi pintu tertutup dan digembok.

Akhirnya saya kembali dan bergabung bersama para pegawai yang berdiri dan bercerita. Saya adalah orang baru di tempat ini, juga tidak tahu apa yang terjadi sebelumnya.

Juga belum tahu penyebab macet, tutup, digemboknya kantor ini pada waktu efektif kerja. Kenapa kantor ini ditutup? Kenapa semua staf dan beberapa guru lainnya berdiri di di samping gedung ini? Karena pintu kantor digembok!

Beberapa staf Dinas Pendidikan saat berada di halaman kantor dinas. (dok Agustinus Kadepa)

Tetapi pertanyaan ini hanya berlaku saat itu. Lalu akan bagaimana dan jadi apa jika kantor itu hampir dua atau tiga kali dalam seminggu dengan kondisinya masih seperti itu?

Kemudian saya tinggalkan kantor ini, lalu pulang dan membuat agenda lanjutan dari proyek kecil ini. Demikanlah perjalanan pertama pada akhir bulan Agustus.

Kondisi Dinas Pendidikan Pada Kunjungan Kedua (29 Agustus 2018)

Siang hari sekitar jam 10:15 (29/8/2018) saya jemput seorang kakak. Dia selesai S2 di sebuah Sekolah Kristen di Kota Jayapura. Saya memintanya menemani perjalanan menuju Madi untuk mengamati situasi dan aktivitas dari kantor dinas pendidikan. Ya, ini merupakan kunjungan kedua saya.

Semua yang berkunjung harus masuk melalui pintu pagar samping dan parkir motor atau mobil. Kami parkir dan mata saya tertuju pada pintu gedung berbeton itu. Tampaknya pintu kantor sudah dibuka dan saya langsung masuk ke kantor itu. Tidak ada petugas (piket), dan meja piket pun tidak ada. Dalam ruangan itu terdapat sebuah daftar hadir pejabat Dinas P & P. Dari daftar itu, semua keterangannya adalah Keluar.

Daftar hadir para atasan di kantor Dinas Pendidikan. (dok Agus Kadepa)

Kemudian masuk lagi dan menelusuri setiap ruangan yang ada, terdapat beberapa pintu ruangan dan di bagian atas setiap pintu ada papan nama dari masing-masing bidang, hampir semua pintu tertutup dan hanya satu ruangan terbuka yakni ruang administrasi. Saya masuk. Di dalam ruangan ada seorang staf (laki-laki). Saya mendekatinya dan menanyakan keberadaan kepala dinas, tetapi si staf sampaikan bahwa sejak (mantan) Bupati Hengki Kayame mengganti kepala dinas yang baru, kepala dinas itu tidak pernah datang ke kantor apalagi pimpin rapat atau melakukan aktivitas di kantor ini.

Kami berdiskusi beberapa hal soal pendidikan. Setelah itu saya pamit untuk keluar dan bertemu kakak di luar, lalu jalan pulang ke Enarotali dari kota Madi.

Kondisi Dinas Pendidikan Pada Kunjungan Ketiga (30 Agustus 2018)

Perjalanan kali ini lebih fokus lihat dari sisi kedisiplinan aktivitas kantor, sehingga Jam 08:13 saya jalan ke kantor mengamati dan melihat jam buka kantor di kantor. Kali ini pergi ke kantor lebih pagi

Jam Berapa Buka Kantor?

Dalam perjalanan menuju kantor dinas pendidikan, tidak ada orang di pinggir jalan yang mengenakan pakaian dinas, baik yang sedang berjalan kaki maupun yang sedang mengendarai kendaraan roda dua dan roda empat. Di Kantor DPRD masih sepi, tidak ada aktivitas. Kantor Direktorat tertutup rapat. Kantor Lingkungan hidup juga masih tutup. Kantor Kependudukan dan Pencatatan Sipil juga masih sama. Begitupun kantor Statistik. Semua kantor masih dalam keadaan tertutup pagi itu sekitar pukul 08.15 lebih.

Saya lihat ada seorang membuka pintu gerbang kantor BKKBD Paniai. Dia membuka pintu kantor, lalu membuang sampah di tempat sampah. Kantor ini berdampingan dengan kantor Dinas Pendidikan. Saya menghentikan motor di pinggir jalan (perempatan jalan) mengamati aktivitas yang dilakukan di semua kantor yang bisa lihat dan jangkau dengan mata.

Hampir 30 menit duduk di atas motor. Belum ada orang datang dan atau masuk ke setiap kantor. Ada sebuah mobil Avansa hitam datang dan masuk di pintu gerbang kantor BKKBD, dia parkir, kemudian masuk ke kantor itu memakai pakaian bebas tapi rapi. Pada jam 09.43 ada seorang laki-laki datang, memakai celana panjang hitam dengan berjaket hitam, dia langsung menuju ke kantor Dinas Pendidikan, langsung menuju pintu membuka pintu kantor itu.

Staf Tra Tahu Wajah Kepala Dinas

Dia adalah seorang staf yang kerja di kantor Dinas Pendidikan, sudah kerja hampir lima tahun, sebagai honor. Menurutnya, semenjak terjadi pergantian kepala dinas, pimpinan baru tidak pernah tunjukan muka di kantor.

“Kami hanya mengetahui namanya. Nama kepala dinas adalah Bapak Joko dan sekertaris dinas pun tidak tahu, kata orang, sekertaris Dinas Pendidikan adalah istri dari Bapak Herman Kayame (Kepala Dinas Keuangan). Saya tidak kenal mereka berdua, apalagi keberadaannya.”

Saya ingin berdiskusi soal pendidikan, melihat perbandingan dan keseimbangan antara data yang termuat di dalam Data Pokok Pendidikan Dasar dan Menengah Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan kenyataan lapangan di kabupaten Paniai, mulai dari Dinas Pendidikan sampai di Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Atas (SMA).

Situasi kantor ini sangat sepi, saya juga belum lihat pekerjaan yang dikerjakan semua oleh semua staf. Beberapa menit kemudian ada 2 orang staf datang bergabung bersama kami. Salah satu diantaranya menyapa saya dan langsung menanyakan maksud kedatangan saya di kantor tersebut. Dia sarankan untuk saya bertemu kepala dinas di rumahnya.

Menurutnya, sekarang kantor dinas pendidikan sedang beraktivitas di rumahnya, makanya kantor ini selalu sepi, tidak ada aktivitas.

“Tidak ada beban kerja yang diberikan kepada kami sebagai staf. Kami juga tidak tahu, kepala dinas bekerja dengan siapa di rumahnya?”

Ada banyak soal lain yang terus dengan leluasa dituturkan persoalan rumah tangga mereka (Dinas Pendidikan) lagi, sehingga saya mendengarkannya dengan amat serius hingga selesai.

Karena tidak berhasil ketemu kepala dinas, saya keluar tinggalkan kantor dan pergi ke kantor tetangga, dinas BKKBD kabupaten Paniai.

Kata Tetangga tentang Aktivitas Kantor Dinas Pendidikan

Setelah keluar dari kantor Dinas Pendidikan, saya ingin memastikan ketidakhadiran kepala dinas dan sekertaris dinas melalui kantor tetangga yang tadinya parkir mobil yakni di kantor BKKBD.

Di kantor BKKBD ada aktivitas, ada pegawai sedang duduk di meja kerjanya, beraktivitas menggunakan laptopnya. Saya melaporkan kepada piket yang sedang duduk di meja piket di lorong gedung ini untuk bertemu dengan kepala dinas.

Kepala dinas di kantor ini ada di kantor. Dia adalah Martinus Yukei, S.KM. Dia sempat dipindahkan menjadi kepala Dinas Lingkungan Hidup, tetapi sempat ditahan oleh stafnya dengan alasan: staf masih mau belajar banyak dari si kelapa dinas.

Dalam perbincangan saya dengan kepala BKKBD Paniai, dia mengakui dan tahu aktivitas dari kantor Dinas Pendidikan sebagai tetangga.

“Saat Bapak Amatus Tatogo, kantor itu aktif. Tetapi pasca pergantian, lihat kantor di sebelah kurang ada aktivitas dinas, mereka yang hadir adalah staf dan kepala seksi,” katanya pada saya.

“Anak, tentunya orang lain atau dinas lain pasti menilai dengan pandangan mereka masing-masing pada saya dengan keluarga (maksudnya kantor), maka lebih baik urus rumah tangga saya di kantor ini. Alangkah baiknya ko pergi lihat sendiri dari kantor itu,” pintanya.

Yukei tidak ingin berdiskusi soal kondisi dinas yang letaknya tidak jauh dari kantornya. Melihat arah pembicaraan itu, saya alihkan pembicaraan. Saya meminta untuk ia menggambarkan dan menceritakan kondisi sekolah yang ada di daerah Paniai Barat, tempat pak Yukei berasal.

Operator Sekolah dan Kepala Sekolah di Warnet

Setelah cerita dengannya, saya meminta pamit kepada bapak Yukei. Saya langsung ke warung internet (warnet) di kota Enarotali. Di dalam warnet saya berjumpa dengan beberapa orang. Di dalamnya ada sejumlah orang sedang mengurus data DAPODIK.

Saya duduk di samping kelompok operator sekolah itu. Diam sambil mengikut alur pembicaraan mereka sambil ikut dan baca informasi-informasi yang berseliweran di dunia maya. Juga di dunia nyata yakni semua suara di sekitar dengan fokus pada para pengurus DAPODIK. Mereka duduk mengelilingi sebuah meja. Ada empat orang di meja itu.

Jaringan internetnya sangat lambat di kabupaten ini, terlihat semua operator sekolah bermuka tembok, mereka didesak untuk menginput data dalam aplikasi Dapodik, namun lambat dalam proses penginputan. Mereka juga mengomel dengan pendanaan. Kata mereka, membeli voucer internet dengan uang pribadinya, mereka ingin diperhatikan lebih serius oleh para kepala sekolah ketika ada dana operasional, dan lain-lain.

Sementara mereka menginput data, ada pula beberapa orang datang menemui para operator. Saya lihat ada satu orang datang beri uang kepada salah satu operator, selain itu ada yang bawa data baru yang kemudian membuat operator tersebut menjadi tambah beban kerja. Batas waktu voucer saya habis, saya tinggalkan warnet, lalu pulang ke rumah.

Itu dinamika kerja yang saya jumpai pada hari ketiga.

Kondisi Dinas Pendidikan Pada Kunjungan Keempat (31 Agustus 2018)

Hari keempat, tepat jam 10 pagi saya tiba di kantor Dinas Pendidikan lagi. Staf yang kemarin sedang berdiri di depan teras kantor persilahkan saya untuk masuk dalam ruangan dan duduk di ruang kerjanya. Saya bertanya tentang pengalaman menjadi staf di kantor tersebut.

Dia menceritakan pengalaman aktivitas di kantor tersebut, inti dari penyampaian adalah rutinitasnya setiap pagi di sini adalah datang pagi dan hanya duduk di kantor. Ia mengaku tidak pernah kerja dokumen, dan lain-lain. Datang pagi, bercerita dengan staf lain.

“Aktivitas itu kami lakukan dari satu ruangan ke ruangan lain dan hampir semua staf melakukan hal yang sama,” katanya.

Hampir beberapa menit mereka tiga bercerita banyak soal kondisi mereka dalam kantor. Saya hanya diam, mendengarkan semua pembicaraan mereka. Mereka merindukan, mendambakan orang yang bisa mengatur, memimpin dan selalu bersama staf dalam kondisi apapun. Satu penilaian yang didapat, uang selalu menjadi momok dalam kehidupan, sehingga staf masuk kantor, tetapi mungkin karena uang juga pimpinan melakukan aktivitas di luar kantor agar tidak diketahui staf di kantor.

Jam menunjukkan pukul 12 siang, mereka sudah capek bicara lagi soal pimpinan mereka. Saya pamit tinggalkan mereka dan melanjutkan perjalanan saya ke Timida. Dari Madi ke Timida ada 2 SD. Saya menjumpai banyak anak sedang pulang sekolah. Ada yang berseragam merah-putih, ada lagi yang tidak mengenakan pakaian seragam, ada yang bersepatu/sendal dan ada pula yang tidak menggunakan sendal.

Saya menikmati kegembiraan mereka, mengamatinya sungguh menikmati. Tawa mereka, kepercayaan dirinya, sangat asyik sekali.

Itu dinamika kerja yang saya jumpai pada hari keempat.

Kondisi Dinas Pendidikan Pada Kunjungan Kelima (3 September 2018)

Karena hari Sabtu adalah libur fakultatif bagi semua dinas di kabupaten Paniai, maka saya pulang ke kampung dan kembali ke Enarotali tanggal 3 September. Tiba di kota Enarotali sekitar jam 10 siang dan bergegas ke Madi -kantor Dinas Pendidikan- lagi.

Kunjungan kali ini, saya ingin melihat seperti apa aktivitas di dalam kantor di masing-masing ruangan. Di dalam kantor terdapat beberapa ruangan yakni ruang kepala dinas, ruang sekertaris dinas, ruang kasubag keuangan, ruang kabid PNFI (PAUDNI), ruang bagian umum, ruang kabid SD/SMP, ruang dapur dan ada satu ruang yang tidak punya papan nama.

Tidak ada aktivitas. Hanya kursi dan meja yang membisu di kantor Dinas Pendidikan Paniai. (Dok Agus Kadepa)

Saya menyampaikan kondisi setiap ruangan. Tiba di kantor Dinas Pendidikan pada jam 11:13 siang, waktu seperti ini adalah waktu aktif kerja dan tentunya mendapat energi baru pada minggu pertama di bulan baru.

Berikut ini hasil kunjungan di semua ruangan: pertama, di ruang kepala dinas tertutup.

Kedua, ruang sekertaris dibuka, tetapi tidak ada orang, hanya tersusun meja dan kursi sekitar 4 pasang. Di atas meja ada kertas dan sebuah botol kecap ABC. Saat berdiri dekat pintu ruang ini, ada seorang ibu guru (kepala sekolah) masuk untuk cek ruang bagian dalam (ruang khusus sekertaris) yang saat itu terbuka, ternyata ruangannya dibuka oleh karyawan yang sedang pasang jaringan internet.

Ketiga, ruang Kasubag Keuangan terbuka. Saya amati, pintunya dibongkar orang, kemudian masuk lihat kondisi dalam ruangan ini. Tidak ada orang. Ada 5 meja dan 2 kursi, di atas meja tidak ada satu dokumen pun.

Keempat, Ruang kabid PNFI (PAUDNI) tertutup, sehingga tidak bisa lihat kondisi di dalam ruang.

Kelima, ruang bagian umum, dibuka dan di dalamnya tidak ada orang. Saya lihat ada 6 buah meja dan 3 buah kursi serta 4 buah lemari. Dua lemari terdapat beberapa dokumen dan dua lainnya tertutup.

Keenam, ruang Kabid SD/SMP terbuka dan dalam ruang ini hanya ada satu staf honorer, ada beberapa meja dan kursi, 1 lemari dan di atas satu meja terdapat binder dokumen.

Ketujuh, ruang dapur, di ruang ini ada aktivitas, ada sejumlah orang sedang mengambil jatah beras. Saya tidak amati ke dalam ruangan, hanya melihat aktivitas orang yang sedang mengambil beras.

Kedelapan, ruangan tanpa nama, di ruangan ini tertutup.

Setelah mengamati semua ruangan dalam kantor, saya keluar tinggalkan kantor.

Tiba tepat di teras kantor ada seorang pegawai yang saya kenal, dia baru datang. Dia adalah kepala seksi di satu bidang di dinas ini. Kami saling menyapa dan menanyakan maksud kedatangan saya. Saya hanya sampaikan bahwa saya ingin ketemu kepala dinas untuk menyampaikan beberapa kegiatan yang kami lakukan di Jayapura dan di kampung sekarang.

Kami berdua melangsungkan percakapan setelah tanya keberadaan kepala dinas. Si kepala seksi ini bilang bahwa ia tidak tahu keberadaan kepala dinas dan sekertaris dinas. Dia menyarankan untuk bertemu kepala dinas di rumahnya.

“Anak, saya baru datang dari kampung setelah kerja di kebun karena semua tugas dimonopoli, tupoksi saya diambil alih oleh kepala bidang, sehingga di kantor ini saya tidak kerja. Saya lebih memilih untuk pulang kampung dan kerja kebun. Saya datang ke kantor pun seperti sekarang (tiba jam 11:49),” tuturnya pada saya.

Ada beberapa orang juga datang, sehingga tidak banyak tanya padanya dan beralih ke topik lain. Beberapa menit kemudian tinggalkan mereka lalu pulang ke Enarotali.

Kondisi Dinas Pendidikan Pada Kunjungan Keenam (4 September 2018)

Kali ini saya ingin melihat jam berapa tutup kantor. Pagi hari saya melakukan urusan lain yakni antar adik laki-laki ke sekolah, dan menjumpai seorang teman. Saya dari Enarotali ke kantor Dinas Pendidikan pada jam 12.13 siang. Perjalanannya hanya 9 menit ke Madi menggunakan sepeda motor.

Saya tiba di kantor ini, pintu kantor masih terbuka, tanda orang sedang melakukan aktivitas kantor. Saya pun masuk dan memantau setiap ruangan. Kondisinya sama seperti sebelumnya.

Dongkol sekali melihat kondisi ini setiap hari. Saat masuk, saya lihat orang yang sama dalam ruangan. Dia adalah staf yang juga menjadi guru di sebuah SMP di Paniai Barat. Dia orang paling aktif, menurut saya. Selama kunjungan ke kantor ini, setiap saat saya menjumpainya dan dia orang setia pada tugasnya. Dia bertugas di kantor ini menjadi tenaga honorer.

Dia katakan pada saya, “Nogei, inii ke uwiyake taina keitete” (kawan, kami mau pulang”). Melihat dia dan 2 staf lainnya itu sedang siap-siap untuk pulang bersama. Ya, mau apa lagi, kalau kondisinya seperti ini, tidak melakukan apa-apa di kantor, maka jam berapa pun kita pulang. Lebih baik melakukan pekerjaan di rumah daripada datang melamun di kantor ini, tidak ada kegiatan apa-apa.

Kami meninggalkan kantor ini jam 12:30 siang. Kalau lihat dari sisi jam efektif kerja, tentunya jam seperti ini adalah jam istirahat untuk melanjutkan pekerjaan selanjutnya. Tetapi tidak ada pekerjaan di kantor, maka kapanpun pulang dan masuk kantor juga bagian yang tidak dielakkan.

Kondisi dinas Pendidikan Tanggal 28 September 2018

Dalam bulan September ini, saya pulang ke kampung setiap hari Sabtu untuk merayakan hari Minggu di kampung. Artinya setiap hari efektif kantor saya berada di Enarotali, ibu kota kabupaten Paniai. Setiap saat ke Madi, tentunya saya lewat di jalur kantor Dinas Pendidikan untuk melihat dari luar.

Tepat tanggal 28 September, saat lewat di depan kantor Dinas Pendidikan, saya melihat orang banyak di kantor itu. Situasinya beda dengan hari-hari sebelumnya. Saya jadi penasaran dan masuk ke kantor itu ke sekian kalinya. Pokoknya hari itu sangat ramai.

Saya masuk dan lihat di sebuah ruangan ada banyak orang. Sebagian lainnya sedang berkerumun di sebuah meja. Pokoknya tidak bisa lihat siapa yang sedang duduk di kursi melayani banyak orang itu.

Saat berdiri dan memotret aktivitas mereka, saya menjumpai seorang ibu guru. Dia kenal saya dan karena saya adalah anak dari guru, ibu guru ini ajak saya untuk menerimanya. Tetapi saya ajukan pertanyaan. “Terima apa ibu guru?”

“Itu mereka sedang ambil Uang Lauk Pauk (ULP),” jawabnya.

Saya jadi kaget dan tidak pernah mengurus urusan bapak, apalagi urusan hak bapak. Sehingga saya menolak permintaan ibu guru tersebut.

“Ibu, saya mau hubungi mama, biar mama mengambilnya,” kata saya menolak tawarannya.

Ternyata situasi kantor jadi ramai karena ibu guru dan pak guru terima ULP. Nampaknya semua urusan hak guru di sekolah-sekolah diurus oleh setiap guru masing-masing. Jikalau semua guru mengurus haknya masing-masing, siapa yang menjalankan kewajiban setiap guru di sekolah?

Karena saya jadi makin penasaran, saya bertahan di kantor ini hampir satu jam lebih dan situasinya masih ramai. Menghubungi mama di kampung dan dia sampaikan bahwa “akan ambil uang tersebut pada hari Senin.”

Mama Ambil Uang ULP di Los Bank Papua

Saya dan mama dari kampung ke Enarotali hari Senin 1 Oktober untuk mengambil hak bapak. Saya hidupkan motor, untuk pergi ke kantor Dinas Pendidikan. Sebelum naik motor, mama telepon bendahara, kemudian mama sampaikan dia ada di sekitar Enarotali dan menjumpainya di sebuah tempat. Akhirnya saya mengikuti petunjuk dari mama untuk ketemu si bendahara.

Kami menjumpai dia di sebuah los Bank Papua, langsung mengeluarkan sebuah daftar nama dan meminta mama untuk menandatanganinya. Saat mama tanda tangan, bendahara itu keluarkan uang dan menghitung ulang uang dalam ikatan tersebut, kemudian serahkan pada mama.

Inilah sebuah catatan saya dan aktivitas kantor Dinas Pendidikan di Kabupaten Paniai dalam akhir bulan Agustus dan September 2018.

)* Penulis adalah Aktivis Pendidikan Papua, Pendiri Gerakan Papua Mengajar (GPM) dan Pendiri Kelompok Belajar Ayago di Kampung Tuguwai, Distrik Aweida, Kabupaten Paniai