Boaz Si Bungsu dari Solossa Bersaudara

0
9121

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com— Sang ibu berharap Boaz dan Ortizan bisa sukses membawa Persipura berjaya di Asia.

Ketika nama Boaz Solossa diumumkan sebagai pemain terbaik, sontak istrinya, Adelina Gedy, memeluk istri Ortizan Solossa, dan mertuanya, Mama Merry Solossa, menangis haru.

Mereka tak menyangka, Boaz, si bungsu dari keluarga Cristian Solossa ini mampu menyisihkan kedua kandidat lain, Bambang Pamungkas dan Aldo Bareto.

Namun, di balik kesuksesan Boaz dan Ortisan dalam menggeluti sepakbola, ternyata tak lepas pula dari peran seorang ibu dalam membesarkan dan mendidik mereka. Mama Maria Sarobi Solossa dalam usia 59 tahun ini tetap berenergi menemani kedua putranya saat bermain di Lapangan Mandala. Nenek dari Abigael Solossa ini sudah lama menjanda sejak Crist Solossa, ayah kandung Boaz, meninggal pada 6 Februari 1996, saat bermain bola di Lapangan Hoki Sorong.

Untuk mengingatkan hari wafat ayah mereka, Boaz memakai kostum nomor 86 di Persipura, Ortizan juga memakai kostum bernomor 26 dan juga Nehemia saat bermain di Persegi Gianyar. Nomor 26 artinya tanggal 6 bulan 2 atau Februari. Kini hanya ortizan yang memakai nomor 26, sedangkan Boaz, nomor 86 di Superliga dan nomor 2 di AFC. Praktis, hanya Maria Sarobi Solossa yang membimbing dan membesarkan keempat anak laki-lakinya, Joice, Ortizan, Nehemia, dan si bungsu Boaz.

Mama Merry Solossa tinggal di rumah sederhana yang penuh dengan suasana damai dan kekeluargaan. Rumah Mama ini juga dikenal sebagai Panti Asuhan Pelangi di kota Sorong, provinsi Papua Barat. Mama kandung Boaz yang akrab dipanggil mama Merry ini, menyambut setiap orang dengan sangat ramah dan penuh tawa ceria bercerita tentang dua orang anaknya yang bermain bola di Persipura.

“Mama bangga kedua anak mama bisa berprestasi dan mengangkat nama Papua melalui sepakbola,” tutur Mama Merry.

Perannya sangat besar pula dalam mendidik dan memberi spirit bagi anak-anaknya dalam menggeluti sepakbola. Joice Solossa terakhir bermain di Tim PON Papua, Ortizan dan Boaz di Persipura. Nehemia pernah main di Pra PON Papua bersama Boaz. Sekarang Nehemia merumput bersama Persiram Raja Ampat di Divisi Utama.

Mama Sarobi Solossa memulai karirnya sebagai seorang guru TK dan mengajar di Inanwatan pada TK dan juga guru SD. Kemudian bertugas di Dinas Pendidikan dan Pengajaran Kabupaten Sorong. Hampir sebagian besar usianya bekerja sebagai PNS hingga memasuki masa pensiun pada 2008 di Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Sorong.

Ketika nama Boaz bersinar membela tim Merah Putih dan mendapat tawaran mencapai miliaran rupiah, Mama Merry bersikeras menolak. Bahkan, nenek dari Abigael yang lemah lembut ini berbicara dengan lantang kepada Bochi.

“Uang satu miliar sekarang tak ada artinya jika sekolah terganggu dan putus sekolah. Mama ingin engkau menyelesaikan sekolah terlebih dahulu baru berkarir di sepakbola,” papar Mama Merry Solossa mengingatkan tentang pentingnya sekolah dan belajar.

Saya hanya punya satu mimpi sekarang. Saya ingin membawa tim ini menjuarai Piala AFC. Itu cita-cita saya. Semoga terwujud. Amin.”

Bahkan, saat Boaz terpilih menjadi kapten Persipura, Mama Merry berpesan, “Tidak apa-apa anak, engkau terima saja ban kapten. Apalagi untuk tim Persipura Mutiara Hitam. Mutiara Hitam ini bukan nama sembarangan. Walau masih kecil tetapi engkau sudah dipercaya memimpin rekan-rekanmu menjadi kapten Persipura,” tutur Mama Merry.

Namun yang terpenting di sini, lanjut Mama Merry, bagaimana anaknya itu bisa menjawab harapan semua orang dan bisa mengangkat nama Papua.

“Boaz, engkau harus belajar menempatkan diri, belajar dari orang yang lebih tua dan berpengalaman. Banyak bertanya. Sehingga, ban kapten di lengan itu bisa berhasil baik dan mengangkat nama Papua di tingkat Asia,” harap Mama Merry Solossa.

Kini Mama Merry hanya selalu berdoa agar Boaz dan Ortizan bisa sukses bersama rekan-rekan setim Persipura pada putaran delapan besar Piala AFC 2011. (gk-34)

Sumber: Goal Papua