Papua Merdeka: Jalan Pemberontakan Rakyat yang Sadar

0
8437

Oleh: Jhon Gobai)*

Judul tulisan ini saya tegasi pada kesimpulan dan isi dari evaluatif pergerakan pembebasan rakyat West Papua. Pengetahuan tentang perjuangan pembebasan Nasional West Papua saya peroleh dari beberapa buku, catatan kamerad, dan buku terakhir saya baca mampu pengaruhi perspektif tentang judul ini. Buku Novel “ Sentuh Papua” Karya Perempuan West Papua, Aprila Wayar. Mengapa? Penting hal ini dibicarakan secara terbuka dan saling mengevaluasi pada titik-titik kelemahan perjuangan yang telah/sedang yang diperjuangkan ini.

Singkatnya, pergerakan perjuangan rakyat West Papua telah menunjukan kemajuan pada organisasi pergerakan sebagai alat perjuangan. Disisi lain kemajuan pergerakan ini terlihat pada perdebatan-perdebatan ideologis yang makin polemik. Kemajuan secara kuantitas telah lahir pergerakan perlawanan yang lahir dari realitas kehidupan yang sampai pada sektor lini kehidupan. Misal, gerakan Mama Pasar, Gerakan Masyarat Adat, hingga pergerakan politik yang terang-terangan terus mendorong isu “hak Penentuan Nasib Sendiri” dengan pola perlawanan bersenjatah; demonstrasi damai di kota-kota dan gerakan diplomatif. Bahkan mampu melahirkan/mendorong dan melahirkan gerakan persatuan Pembebasan Nasional, atau United Liberation Movement for West Papua (ULMWP).

Namun persatuan dan kemajuan pergerakan tak harus semulus teori yang telah/sedang kita telaah. Kita meng-amini bahwasannya mempraktekkan teori membutuhkan konsentrasi, analisa realitas social, dan proses ber-kesesuaian dengan realitas: konseptualisasi. Sehingga perdebatan secara ideologis harus terjadi dan sangat penting bermanfaat agar melahirkan kesimpulan-kesimpulan sementara terus memanifestasi proses mengideologisasi pergerakan sesuai realitas pergerakan-perlawanan yang ada.

Pada kenyataannya keinginan kemerdekaan itu telah dimanifestasi oleh realitas penindasan yang terus terjadi ditengah keberadaan rakyat west Papua. Perkebunan Sawit menghilangkan hutan, rawah, lahan sagu, dan sebagainya; gunung-gunung makin gundul dan meratah akibat penebangan liar dan penggalian sumur emas dan minyak demi capital, dan sebagainya. Atas praktek dari sistim tanpa massa depan ini sulit memastikan massa depan anak-cucu bangsa yang labih baik. Apa lagi slow Genosida terjadi drastis. Pembunuhan, pemenjarahan, jumlah kematian semakin tinggi daripada jumlah kelahiran. Kesehatan buruk hampiri rakyat tradisisonal akibat pergeseran pola makan, dan sebagainya. Pendeknya kenyataan itulah yang terus memanifestasi perjuangan rakyat Papua untuk bebas dari penindasan tersebut.

Organisasi sebagai alat perjuangan

Organisasi-sosial lahir atas kenyataan timbal-balik hubungan kerja. Ketika makan, rumah dan pakaian menjadi kebutuhan primer, dan desakan kebutuhan mengharuskan kerja ‘Gerak’ sosial, sehingga terjadi hubungan sosial, terbangun komunitas-komunitas kesukuan, marga, klan yang mediami di wilayah masing-masing dengan tradisi kehidupannya yang terbangun sesuai kebutuhan kerja produksi alam dan produksi sosial. Tetapi dengan pendudukan Belanda dan NKRI yang menerapkan sistim yang menindas, menguras sumber-sumber produksi, hutan-hutan, rawah, lahan pertanian (tradisional) sehingga reaksi atas realitas penindasan itu terjadi secara spontanitas (sejak tahun 1831-1942) di West Papua. Hasil kesimpulan perlawanan sementara dan kemunculan kaum terpelajar papua dari pendidikan Pola berasrama-Belanda, Dewan New Guinewa (New Guinea Raad) pun lahir melalui mekanisme pemilihan yang dimotori oleh14 partai (1960), saat itu. Sepanjang 189 tahun Rakyat West Papua di Jajah oleh Belanda dan (kini) Indonesia (1828 pendudukan Belanda- penjajahan Indonesia sejak 1962  sampai 2018), gerakan perlawanan pun mengalami kemajuan secara Ideologi, Politik dan Organisasi.

Marx menyatakan bahwa realitas keberadaan sosial lah membentuk kesadaran sosial. Realitas hegemonik dan kekuasaan yang menindas, menguras kekayaan alam, terus memenjarah kesadaran kritis rakyat. Itu lah kenyataannya. Tapi, sejarah pergerakan rakyat West Papua telah dipelopori oleh kaum terpelajar yang kritis, yang mampu merefleksikan realitas sosial dan mengkritisinya. Sehingga dari aksi-aksi perlawanan yang spontanitas memberikan kesimpulan-kesimpulan sementara hingga para titik kuantitasnya lahir banyak organisasi pergerakan. Dengan lahirnya organisasi gerakan mampu membawa-mencorong kesadaran rakyat akan penindasan dan mendorong/mempelopori rakyat dengan pola perjuangan yang sesuai dengan kondisi yang ada.

Pendeknya, dierah imperialism mengkoloni ini, organisasi ada sebagai alat perjuangan. Organisasi  menjalankan tupoksi dan fungsi perjuangan serta pola yang berbeda. Itu lah kemajuan pergerakan kita hari ini. Dengan adanya organisasi perlawanan yang mempelopori kehendak merdeka/bebas dari kenyataan penindasan, mampu mendorong keberanian, kesabaran dan ketekunan pada keyakinan masa depan West Papua yang labih baik dengan jalan revolusi ini. Bahwa kenyataannya kemerdekaan harus direbut oleh tangan rakyat. Bahwa kemerdekaan tak diberikan secara sukarelah oleh penjajah. Kemerdekaan tak turun dari langit. Sangat mustahil memperoleh kemerdekaan bagi rakyat terjajah tanpa ada pergerakan perjuangan secara revolusioner.

Hingga pada periode ini perjuangan terus berlanjut dan masih terus melakukan perlawanan. Dan terus melahirkan pertanyaan-pertanyaan tentang jalan menuju revolusi.

Solidaritas dan Aksi Massa

Atas kesadaran rakyat akan perlawanan, keberanian dan keteguhan atas kepercayaan jalan revolusi telah mencerminkan perjuangan yang terus bergerak maju. Mulai dari gerakan bersenjatah, sipil kota hingga gerakan diplomasi. Bahkan, atasnama kemanusiaan, telah banyak dukungan dari kelompok solidaritas yang terus menyuarahkan/memperjuangkan kemerdekaan bagi bangsa West Papua secara terang-terangan.

Keberadaan kelompok solidaritas bukan satu-satunya pembawa cahaya bagi jalan perjuangan. Apa lagi gantungkan keyakinan kemerdekaan kepada kaum solidaritas. Hal ini harus ditegasi bahwa pandangan itu fatal.

Pada prinsipnya, kesatuan tindakan  dan aksi bersama menuju kemerdekaan West Papua berada ditangan kaum terjajah (rakyat West Papua dan kaum solidaritas). Kita tidak bisa taru harapan sebesar-besarnya kepada kaum solidaritas, entah ini Negara-negera yang bersolidartas hingga kelompok pergerakan, bahwa gantungkan harapan sebesar-besarnya jalan menuju kemerdekaan adalah mereka. Hal ini tidak boleh terjadi.

Hal yang sangat fatal ketika kaum nasionalis Papua yang mengatakan bahwa dengan jalan diplomasi oleh ULMWP, kemerdekaan west Papua akan datang dari luar Negeri. Berpandangan Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) akan menentukan nasib rakyat West Papua, sehingga rakyat west Papua digiring ke aksi dukungan dan doa. Ini kekeliruan. Hal ini harus tegasi bahwa pergerakan sedang kita memaikan perannya masing-masing dengan pola yang berbeda menuju satu tujuan, yakni Pembebasan Nasional.

Sebab kita tidak ingin terjadi/tanamkan sebuah janji yang mengiming-imingi keyakinan rakyat pada sebuah kepercayaan yang sangat idealistis. Kesalahan kaum revolusioner ketika terus mengagitasi rakyat dengan satu pola saja, yakni perjuangan diplomatif dan mendorong rakyat dalam aksi-aksi dukungan kepada perjuangan diplomatif. hingga aksi-aksi massa gerakan perlawanan pula digiring dalam agitasi-agitasi aksi dukungan tersebut.

Pergerakan pembebasan selalu dinamis. Saat kondisi pemberontakan yang tak terelahkan Pola perjuangan yang lahir selalu sesuaikan dengan  kondisi penindasan yang ada. Teori revolusiner, atau gerakan revolusioner tak harus dan tidak boleh mengagitasi perjuangan dengan satu pola saja yang ditawarkan dalam teori, atau pun dari pengalaman-pengalaman pergerakan dinegeri-negeri lain, selain manfaat hokum-hukum perlawanannya. Apa lagi Pergerakan Pembebasan Nasional Papua membawa kesadarannya dalam perspektif aksi-aksi dukungan dan doa saja.

Kesimpulan

Sehingga detik ini bukan lagi rakyat West Papua melakukan petisi-petisi kemerdekaan atau aksi-aksi dukungan kepada kaum solidaritas yang sedang membicarakan perjuangan West Papua, tetapi bagimana membangun kekuatan besar, membangun pergerakan yang lebih massif lagi hingga sector di basis-basis penindasan sesuai realitas penindasan yang ada dalam kerangka persatuan nasional di dalam negeri yang solid.

Akan lebih mudah dan lebih terkonsentrasi ketika semua gerakan perlawanan terkonsolidasi dalam persatuan nasional di dalam Negeri dan melakukan pekerjaan pengorganisiran, mobilisasi massa, dengan membagi peran secara satu-kesatuan tindakan dengan pola yang tentu sesuai realitas penindasan yang ada.

*Penulis adalah Anggota Aliansi Mahasiswa Papua, Kuliah di kota Yogyakarta