Anggota MRP PB Pastikan Data Marga Sub Suku di Kabupaten Maybrat

0
9590

MAYBRAT, SUARAPAPUA.com — Mengisi masa jedah sidang, Majelis Rakyat Papua (MRP) Papua Barat “turun” ke daerah. Masa reses ketiga ini dilakukan dalam rangka pendataan marga/keret sub suku Maybrat wilayah Aifat dan Mare di kampung Susumuk, distrik Aifaf Jaya, Kamis (4/10/2018).

Anggota MRP Papua Barat, Samuel Kambuaya mengatakan, kegiatan reses ketiga MRP PB daerah pemilihan kabupaten Maybrat bertujuan menjaring aspirasi dan pendataan suku Maybrat terutama sub suku Aifat dan Mare yang dipusatkan di kampung Susumuk.

“Reses untuk pendataan marga dan sub suku yang tersebar di kabupaten Maybrat. Pada tahap pertama dan kedua sudah dilakukan di wilayah Aitinyo,” jelasnya.

Dari pantauan suarapapua.com, kegiatan ini mendapat perhatian dari masyarakat setempat.

“Kami sangat bersyukur karena seluruh masyarakat dalam reses sangat merespon baik adanya kegiatan dalam upaya perlindungan, keberpihakan dan pemberdayaan bagi orang asli papua di wilayah Maybrat ini,” kata Samuel.

Menurutnya, dari pendataan sub suku marga wilayah Aifat ada 16 marga, Maysomara berjumlah 32 marga, sub suku Aifat Utara berjumlah 11 marga dan Mare berjumlah 12 marga.

“Total di wilayah Mare dan Aifat berjumlah 59 marga.”

Setelah ini, kata Samuel, pihaknya akan lanjutkan tahap berikut di sub suku Ayamaru, Wayer dan sub suku Kais.

“Nanti setelah pendataan seluruh marga dari sub suku yang ada, kami akan laporkan ke Pemda Maybrat. Dari situ akan digelar musyawarah adat untuk mengetahui marga-marga di kabupaten Maybrat itu seluruhnya berapa,” ungkapnya.

Hal yang menjadi dasar dalam pendataan ini, kata Samuel, orang Maybrat harus mengetahui sukunya memiliki beberapa marga baik di wilayah Aifat, Ayamaru, Aitinyo dan Mare.

Sebenarnya, lanjut dia, agenda tersebut dilakukan oleh anggota MRP periode lalu, tetapi tidak terlaksana, sehingga baru diadakan saat ini.

“Bagian data base yang disampaikan kepada pemerintah dalam pengambilan kebijakan misalnya penerimaan CPNS jangan hanya marga tertentu, tetapi marga yang belum ada di birokrasi harus diperhatikan dan direkrut dalam pengangkatan CPNS dan infrastruktur dasar,” tutur Samuel.

Selain itu, memperhatikan kearifan lokal orang asli Papua lebih khusus Maybrat seperti bahasa daerah semakin hari terkikis dengan perkembangan luar membuat anak-anak asli Papua tidak lagi berbahasa daerah serta diwujudkan dalam sebuah cerita adat.

“Kalau Tuhan berkehendak kami akan membuat sebuah buku tenang cerita adat dan diedarkan ke sekolah-sekolah,” imbuh Samuel.

Dalam reses ini, banyak aspirasi yang muncul terkait pendidikan di sekolah dengan bahasa daerah dalam muatan lokal, aspek pemmbangunan infrastruktur dasar, pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi kerakyatan bagi orang asli Papua di tanah Maybrat.

“Kegiatan ini sangat bagus supaya ada data dan itu menjadi pegangan bagi pemerintah dalam pengambilan kebijakan,” kata salah satu tokoh masyarakat usai kegiatan.

Samuel juga berharap, pemerintah kabupaten Maybrat agar terus memberi suport agar kegiatan yang diilakukan bagi orang asli Papua khususnya di kabupaten Maybrat untuk melakukan proteksi kepada orang asli Papua, dan untuk generasi yang akan datang.

Kegiatan reses bertema “Jaga marga, jaga dusun dan jaga suku”, dibuka bupati Maybrat yang diwakili kepala distrik Aifat Timur Jauh, Bernadus Aikinking, dan dihadiri tokoh adat, marga dan suku kedua wilayah Aifat dan Mare.

Pewarta: Engel Semunya
Editor: Mary Monireng