Catatan Buat Generasi Papua di Zaman Otsus dan Setelahnya

0
7926

Oleh: George Saa)*

Kami generasi muda yang saat ini menjadi bagian dari sistem yang ada ini makin hari makin dibingungkan oleh kondisi persoalan yang hari ini orang Papua mayoritas alami. Kami berada dalam bingkai Otonomi Khusus (Otsus), dimana keberadaan Otsus membuat semua elemen bangsa ini menjustifikasi kalau Papua itu sudah dan sedang dibangun.

Kampanye tentang keberhasilan Otsus serta pembangunan di Papua ini dilakukan di dalam dan luar negeri. Okelah kita banyak yang bangga sebagai pencetus Otsus dan juga memperjuangkannya hingga hadir dan dinikmati orang Papua, namun pertanyaannya: orang Papua siapa/mana?

Kemudian, kita semua yang pernah membaca tulisan-tulisan dari Bapak Gembala Socratez Sofyan Yoman ini perlu dijadikan sebagai bahan diskusi bersama pemuda Papua lintas wilayah adat. Beliau menulis ini menurut saya, yang pernah lihat langsung kondisi di Inggris, bertemu dan melihat perjuangan Bapak Benny Wenda, membuat saya bertanya: apakah kita orang Papua sudah di ‘goreng’ sedemikian mungkin, sehingga kita makin keluar, bahkan acuh tak acuh terhadap persoalan fundamental?

Saya pernah mendengarkan langsung suatu statement yang jelas dari kita punya bapak senior yang sudah makan garam dalam sepak terjang perpolitikan di negara ini, yakni:

“Papua ini masalah fundamentalnya adalah masalah ideologi atau masalah politik dimana masalah politik dan ideologi ini harus diselesaikan dengan cara politik juga, namun yang terjadi adalah persoalan politik ini coba dijawab dengan pembangunan infrastruktur.”

Saya pikir, itu ada benarnya walaupun saya harus akui banyak macam pengetahuan yang saya kurang tahu apalagi bidang sosial ekonomi politik. Tetapi statement sederhana ini dapat diartikan secara eksplisit yakni saat ini kegagalan sistem yang diterapkan untuk bangun Papua ini tentunya membuat kita semua harus kembali mempertanyaakan beberapa pertanyaan fundamental.

Kelompok cinta NKRI dan kelompok pro-referendum atau apapun istilah yang dipakai ini terus akan berseturu walau dalam kondisi tetap menghargai satu sama lain karena kita sama-sama orang Papua. Juga, hari ini orang sudah mulai malas berpikir landasan politik dan beberapa aspek yang harusnya menjadi pijakan bersama manusia Papua kedepan – dasar fundamental ini harus ditetapkan secara jelas, detil dan menyuluruh, sehingga semua manusia Papua dapat dengan percaya diri menatap masa depan tanpa harus curiga atau dicurigai oleh karena pandangan hidup.

Negara sekelas Inggris saya dapati masih saja ada kampanye ‘white power’ ataupun neo-nazi. Flyer-flyer gerakan ini sering saya dapati di tengah kota bahkan di pintu masuk kampus. Di sini saya amati karena dasar negara ini sudah solid karena ‘common ground’ dan juga basis berdirinya civic society-nya sudah mapan, sehingga gerakan sejenis di sana tidak mendapatkan dukungan.

Namun yang tidak begitu jelas buat saya adalah negara sekelas Inggris ini masyarakatnya sudah memang majemuk dengan komposisi origin-nya yang adalah multinasional ini membuat saya bertanya: apakah memang diharapkan atau akan terjadi begitu Papua yang kita cintai ini kedepannya 100-200 tahun dari sekarang? Namun saya cukup percaya satu hal: kebebasan berekspresi, tidak kakunya citizen dari suatu nation seperti Inggris Raya ini dalam berpendapat/berkarya, dan semua kebebasan yang dinikmati dan dijamin konstitusinya ini telah membawa negara ini menjadi satu-satunya negara yang pernah menjajah dunia ini (Hanya 22 negara yang tidak pernah dijajah/berperang dengan Inggris dari total 159 negara yang ada di muka bumi ini).

Sebenarnya apa tugas berat bagi orang Papua saat ini? Menurut saya, kita perlu dudukan persoalan Papua hari ini secara jujur dan tidak bias. Kemudian masalah fundamental ini harus diselesaikan. Bangsa Indonesia sudah tidak bisa menganggap Papua sebagai adik bungsu di negeri ini yang masih banyak tidak pahamnya, sehingga apapun harus didikte dengan slogan ‘kakak selalu benar’.

Bangsa Indonesia harus sadar bahwa proses integrasi Papua menjadi bagian dari rumah tangga yang kita sebut NKRI dilakukan lewat proses kekerasan, paksaan dan ancaman. Oleh karena, sebagai tuan rumah pemilik negeri ini, layaknya negara ini harus mundur diri dan membiarkan orang Papua bangun dirinya sendiri dengan cara dan maunya sendiri. Dengan begini saya rasa orang Papua akan lebih menghargai negara dan bangsa Indonesia dan bisa jadi akan tetap memilih menjadi bagian dari bangsa Indonesia yang besar ini.

Contoh konkrit, Skotlandia yang memperjuangkan bangsanya pisah dari Inggris Raya 2 tahun lalu diberikan kesempatan untuk voting referendum keluar dari Inggris Raya setelah 300 lebih tahun lamanya mereka berjuang, namun mereka pada akhirnya memilih tetap menjadi bagian dari Inggris Raya.

Saya saksikan, setelah ratusan tahun ini, ternyata orang England (yang dituduh menjajah bagian lain dari Inggris Raya seperti Wales, Irlandia Utara, Skotlandia), sudah tidak peduli atau menekan budaya dari bangsa-bangsa ini, sehingga walau sudah ratusan bahkan ribuan tahun mereka melawan England, hari ini mereka masih menjaga budaya bahkan bahasa mereka.

Maksud saya menulis ini untuk mengingatkan pemimpin bangsa ini agar tidak boleh ada upaya untuk menekan atau menghapus atau melakukan genosida terhadap karakter orang Papua, budayanya, bahasanya hingga adat istiadatnya. Biarkan orang Papua sendiri memimpin bangsanya sesuai maunya dalam koridor dan ikatan pertalian politik, ekonomi dan aspek lain.

Dari sini, ada dua alternatif pahit yang akan dialami orang Papua.

Pertama, akan memakan ratusan tahun dimana akan terjadi referendum bila nantinya bangsa Indonesia sudah mulai tahu pentingnya menolong manusia Papua agar hidup lebih baik dan berhak memiliki kebebasan untuk mendorong bangsanya sendiri melihat masa depan.

Kedua, orang Papua akan dipaksakan untuk berasimilasi dengan bangsa Indonesia secara halus atau paksa dimana kita manusia Papua akan tetap resistan dan memperjuangkan hak kita dimana kalau Tuhan ijinkan, bisa lepas dari NKRI.

)* Penulis essay sosial, ekonomi, politik dan pendidikan