Pemkab Yahukimo dan PGGY Gelar Ibadah Pemulihan dan Perdamaian

0
1346

DEKAI, SUARAPAPUA.com — Pemerintah Kabupaten Yahukimo dan Persatuan Gereja-Gereja Yahukimo (PGGY) menggelar ibadah perdamaian pertikaian antara Suku Kimyal dan Suku Ngalik yang terjadi beberapa minggu yang lalu.

Ibadah perdamaian tersebut dilaksanakan pada hari Selasa (30/10/2018) di halaman Gedung Kantor Bupati Kabupaten Yahukimo di Dekai. Ibadah perdamaian diawali dengan ibadah singkat diadakan dibawah sorotan tema “Berbahagialah orang yang membawa damai karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Matius 5:9).

Firman Tuhan dibawakan oleh wakil presiden GIDI, Pdt. Usman Kobak. Dalam kotbahnya ia menyampaikan, sumber damai hanya dari Yesus, sehingga masyarakat harus ada di dalam Yesus dan tidak ada pertikaian yang dilakukan di Kabupaten Yahukimo.

“Kebenaran harus perlu disampaikan. Ini semua adalah cara iblis yang ingin menghancurkan kabupaten ini, sehingga mari kami bersatu untuk menghancurkan iblis,” ujarnya.

Ia mengajak semua suku bawa berita ini bahwa tidak ada lagi pembunuhan di daerah ini karena Yahukimo adalah daerah penginjilan.

Bupati Yahukimo, dalam sambutannya menyampaikan, Yahukimo seperti cewek cantik, sehingga laki-laki semua model ada di Dekai. Entah itu pembunuh, pemabuk, pemain togel, pemain biliar, agen Togel dan komplotan lainnya yang menghancurkan Yahukimo. Sehingga, setiap tahun tanggal 30 Oktober akan mengadakan ibadah.

“Supaya di hati setiap masyarakat ada damai, sehingga masyarakat tidak melakukan kejahatan yang sudah pernah lakukan dari sebelumnya.”

Bupati juga tegaskan, mulai detik ini tidak ada pembunuhan yang dilakukan di Yahukimo. Tempat jual miras segera ditutup, sebab menurut bupati, miras adalah salah satu faktor penyebab konflik di kabupaten ini.

“Kios remang-remang yang sedang memproduksi miras, supaya segera ditutup. Sebab banyak anggota kepala desa yang uang buat pembangunan di kampung habis di tempat tersebut dan akhirnya ada konflik yang terjadi antar suku, distrik, dan wilayah,” kata Abock.

Karena, kata bupati, di Yahukimo angka pembayaran denda yang begitu mahal, sehingga pemerintah daerah dan pihak TNI/Polri akan mengeluarkan surat tarif harga denda di Yahukimo.

“Dan setiap masalah akan diselesaikan dengan hukum nasional,” ujarnya.

Sementara itu, Wakil Ketua I Sinode Kingmi Papua Erson Wenda mengatakan, iblis mengambil alih dan mengajak suku Ngalik dan suku Kimyal mengadakan pertikaian.

Namun, sekarang Roh Kudus ambil kendali untuk menghentikan pertikaian di kabupaten ini, sehingga kedua belah pihak mengambil keputusan untuk mengadakan ibadah perdamaian. Dengan demikian, sekarang Roh Kudus sudah menang karena wilayah ini wilayah penginjilan, sehingga ia menegaskan bahwa tidak boleh ada lagi pembunuhan di kabupaten ini.

“Kami bersyukur kepada Tuhan karena Ia ada di dalam masyarakat Yahukimo, sehingga bisa mengambil komitmen untuk mengadakan ibadah perdamaian ini,“ tutur Erson.

Ibadah perdamaian diakhiri dengan pengambilan sumpah janji, dan penandatanganan surat pernyataan yang ditandatangani oleh 12 kepala suku yang ada di kabupaten Yahukimo. Dalam surat pernyataan tersebut menyatakan bahwa kedua kepala suku berjanji bahwa tidak akan melakukan pembunuhan di Yahukimo.

Dilanjutkan dengan pematahan dan pembakaran alat perang yang secara simbolis dipatahkan dan dibakar oleh pihak gereja yang disaksikan oleh Bupati Yahukimo, Wakil Bupati, Kapolres Yahukimo, Sekda Yahukimo, Ketua DPRD Yahukimo, Kodim 1702 Jayawijaya, Ketua PGGY, serta para OPD dan masyarakat kabupaten Yahukimo.

Pewarta: Ruland Kabak
Editor: Arnold Belau

print