Bandar Judi Keroyok Seorang Pemuda Paniai Hingga Kritis

0
7541

PANIAI, SUARAPAPUA.com — Seorang Pemuda Paniai bernama Imbertus Pigai, mengaku, pekan lalu dirinya dikeroyok para bandar judi togel, dadu dan bola putar, yang bermarkas di belakang Pasar Enarotali, Paniai.

Ia dipukul, katanya, hingga tak berdaya. Akibatnya, seluruh kepalanya bengkak. Dagu atas dan bawah tak bisa digerakkan. Selama beberapa hari dia tak bisa melakukan aktivitas seperti biasanya.

“Saya punya badan sakit semua. Tangan kanan saya juga bengkak,” kata Imbertus kepada suarapapua.com, melalui sambungan telepon dari kampung Badauwo, Paniai, Jumat (2/11/2018) sore.

Menurut pengakuannya, ketika itu ia selain ditendang, ditonjok, mereka memukulnya juga dengan kayu.

Untuk jumlah orang, diakuinya tidak tahu. “Saat itu dorang banyak, jadi saya tidak tahu berapa jumlah mereka,” ucapnya.

Kronologi kejadiannya, jelas Imbertus, bermula dari pemukulan terhadap salah satu warga di tempat perjudian.

“Awalnya para bandar judi ini pukul orang tua satu. Karena saya rasa kasihan, saya bilang ke mereka jangan pukul. Bicarakan baik-baik. Saya tidak tahu masalah awalnya kenapa. Dengar saya bilang begitu, mereka tidak terima. Mereka langsung balik keroyok saya sampai babak belur.”

“Karena dorang banyak orang, saya tidak bisa lawan. Saya hanya terima bersih pukulan,” kata Pigai menceritakan kejadiannya.

Lanjut dia, untung masyarakat di sekitar melerai para bandar judi yang sedang memukulnya. Jika tidak, kata dia, kondisinya pasti lebih parah.

“Karena sudah tidak berdaya, saya langsung dibawa ke rumah sakit Madi. Di sana saya opname. Setelah selesai perawatan, saya pulang ke rumah,” tutur Imbertus.

Kepala suku wilayah Wege, Yulius Kudiai, mengatakan, kejadian itu sudah dilaporkan ke Polsek Paniai Timur, Enarotali, supaya semua jenis perjudian ditutup.

“Dan laporan kami sudah direspon Kapolsek. Kapolsek bilang akan koordinasi dengan Kapolres supaya keluarkan himbauan untuk semua judi di Enarotali ditutup. Ini kami senang sekali,” kata Kudiai.

Pewarta: Stevanus Yogi
Editor: Mary Monireng