Ditelantarkan, Petani Kopi Paniai Harap Bupati Terpilih Tak Mengulang

0
931

PANIAI, SUARAPAPUA.com — Pendeta Wilem Kobepa, petani kopi di desa Debaye, distrik Aweida, kabupaten Paniai, berharap, Bupati Meki Nawipa serius mengembangkan kopi lokal yang ada di seantero bumi Wagadei, Paniai.

Pasalnya, menurut dia, pada pemerintahan lalu selama lima tahun (2013-2018), kopi yang dihasilkan dia bersama rekan petani kopi lainnya ditelantarkan alias tidak diperhatikan.

“Karena tahun 2013 kebawah, usaha kopi kami lancar. Lancar karena tiap bulan dari Pemda ada yang datang beli terus. Seingat saya, itu Pak Jengko Pigome dan Pak Yesaya Nawipa,” tuturnya saat ditemui suarapapua.com di kampung Debaye, Paniai, Rabu (7/11/2018) siang.

Dikatakan, selain itu oleh Pemda mereka diberikan juga alat kelola kopi siap konsumsi.

“Kami dikasih juga alat kelola kopi. Jadi, saat itu hasil tani kami lancar sekali. Selain kopi mentah dibeli, kami juga kelola sendiri lalu jual. Lumayan hasil dari itu, misalnya saya bisa penuhi kebutuhan keluarga, juga bantu biaya anak-anak saya yang sekolah ketika itu,” tutur Kobepa.

Namun, lanjut dia, setelah masuk tahun 2013 hingga 2018, semuanya menjadi macet total. Kopinya pun tak dikelola lagi.

“Coba anak lihat kebun kopi di sana itu, rumput sudah tinggi sama dengan pohon kopi. Itu bapak biarkan begitu dari dulu sejak Pemda tidak perhatikan. Karena bapak pikir bersihkan juga untuk apa. Jadi, buahnya busuk dengan sendirinya. Kalau bapak ingin petik baru pergi. Itupun jarang sekali,” ungkapnya.

Kebun kopi milik Pdt. Wilem Kobepa. (Stevanus Yogi – SP)

Dalam lima tahun tersebut, lanjut Pendeta Kobepa, kopinya sempat dibeli satu kali oleh Yayasan Pengembangan dan Kesejahteraan Masyarakat (Yapkema). “Itu bulan (Oktober) lalu. Yapkema datang beli kopi saya sebanyak 114 Kg. Saya senang sekali,” lanjutnya menjelaskan.

Untuk itu, ia berharap Bupati Meki Nawipa dapat memperhatikan mereka lebih serius dari yang pernah dirasakan sebelumnya.

“Harapan saya, berdayakan kopi kami lebih lagi. Entah caranya bagaimana, tergantung Pemda. Itu saja,” harap Pendeta Kobepa.

Pendeta Kobepa mengisahkan, usaha kopi yang digelutinya sudah lama ada, sejak sebelum negara Belanda angkat kaki dari Papua.

“Bibit kopi saya ini dari jaman Belanda dulu. Waktu Belanda keluar dari Papua, kami ada beberapa orang lanjut kembangkan kopi yang ditinggalkan. Dan itu kami dapat petunjuk lewat mimpi. Jadi, kopi kami ini tidak sembarangan. Untuk itu, sekali lagi, saya harap Pemda besok lihat kami,” tandasnya.

Terpisah, direktur Yapkema, Henok Herison Pigai, mengatakan, jika kedepan dipercayakan oleh Pemda untuk mengelola kopi, dirinya siap memberdayakan dan memproduksi kopi lokal khususnya yang di daerah Meepago untuk siap dikonsumsi publik lokal, nasional maupun internasional.

“Kalau kedepan Tuhan percayakan lewat Pemda, saya pada intinya siap. Sebab kopi di Meeuwodide ini tidak kalah saing dengan kopi di daerah lain. Dan itu sudah saya buktikan,” jelas Pigai belum lama ini kepada suarapapua.com.

Pewarta: Stevanus Yogi
Editor: Bastian Tebai

print