Persipura Kehilangan Filosofinya, Mengapa?

1
10106

Oleh: Yali Silak)*

Saya bukan pengamat sepak bola, bukan juga seorang mantan pemain, apalagi legenda Persipura Jayapura. Saya hanyalah penggemar setia Persipura. Saya menulis catatan dibawah ini sesuai fakta dan apa yang saya pikirkan saat ini.

Semua orang akui, Persipura merupakan klub tersukses di era Liga Djarum dan ISL hingga sekarang. Klub berjuluk “Mutiara Hitam” itu bahkan tercatat sebagai klub sepakbola dengan torehan trofi Liga Super Indonesia terbanyak, yakni empat trofi (2005, 2008-2009, 2010-2011, dan 2013).

Selain itu, Boaz Solossa dan kawan-kawan juga sukses meraih satu trofi Torabika Soccer Championship (2016), Community Shield (2009), dan Inter Island Cup (2011).

Sedangkan di kancah internasional, Persipura menjadi tim pertama asal Indonesia yang sukses melaju ke babak semifinal AFC Cup tahun 2014.

Tim kebanggaan masyarakat Papua dan Indonesia pada umumnya itu kini terasa hilang kecintaan terhadap Persipura. Apa penyebabnya?

Menurut saya, ada beberapa faktor utama membuat sebagian masyarakat Papua (Persipuramania) yang tidak mencintai Persipura.

Pertama, pergantian warna kostum. Pada musim-musim sebelumnya, warna kostum Persipura yaitu Merah Hitam, mungkin yang artinya merah berarti darah dan hitam yang artinya kulit. Dan dalam arti luas, Merah Hitam artinya darah orang-orang kulit hitam di atas tanah Papua.

Kedua, melepas para pemain inti diantaranya Yoo Jae-hoon, Yohanes Ferinando Pahabol, Osvaldo Ardiles Haay, Nelson Alom, Ruben Karel Sanadi, Ricky Kayame, dan Marinus Maryanto Manewar. Dari hilangnya beberapa para pemain inti, tentunya berpengaruh besar untuk posisi Persipura naik ke papan atas klasemen musim kompetisi 2018.

Ketiga, seleksi para pemain muda. Para pemain muda yang masuk di tim utama Persipura boleh dibilang tidak ada pemerataan. Ini kesalahan besar! Kenapa? Karena Persipura milik seluruh masyarakat Papua dari 7 wilayah adat, yaitu Mamta, Saireri, Domberai, Bomberai, Anim Ha, Lapago, dan Meepago. Tetapi, musim kompetisi ini tidak ada pemain dari Lapago, Meepago, dan Anim Ha yang berkostum Merah Hitam bersama Persipura. Pertanyaannya, apakah dari 3 wilayah ini tidak ada pemain yang skillnya setara dengan pemain Papua lainnya? Menurut saya tidak! Sebab semua pemain asal Papua itu sama dan hal ini yang membuat sebagian masyarakat Papua malas berdoa untuk tim Persipura.

Keempat, manajemen. Menurut saya, persoalan terbesar yang ada saat ini ada di manajemen. Kenapa? Manajemen tidak fokus pada Persipura karena memegang dua jabatan besar yaitu ketua umum Persipura dan Wali Kota Jayapura.

Menurut saya, beberapa faktor ini yang membuat Persipura tidak berkembang pada musim kompetisi tahun ini dan masih bertengger di papan tengah klasemen sementara.

Kesimpulannya, kembalikan warna kostum lama yaitu Merah Hitam, ganti ketua umum Persipura, kembalikan para pemain lama yang saat ini bermain di tim lain. Dan untuk seleksi para pemain masuk ke tim utama Persipura itu harus ada pemerataan atau sesuai skill para pemain dan tidak ada lagi nepotisme karena Persipura adalah milik masyarakat Papua dari Sorong sampai Samarai, bukan hanya milik 3 atau 4 wilayah adat atau milik masyarakat Jayapura saja.

Semoga musim depan (2019) kembalikan filosofi daya juang Persipura dan kembalikan kejayaan tahun-tahun sebelumnya.

)* Penulis adalah mahasiswa Universitas Papua (Unipa) Manokwari