Dua Nama dalam Satu Perspektif

0
12531

Oleh: Andy Tagihuma)*

Papua masih terus merekonstrusi sejarahnya. Dalam rekonstruksi ini, banyak pertanyaan muncul untuk mencari jejak sejarah. Dua nama, Papua dan Irian juga sering memunculkan pertanyaan, dari manakah muasal nama tersebut?.

Penelusuran kedua nama tersebut sudah banyak dilakukan, misalnya oleh Seollewun Gelpke (1993) dan Anton Ploeg (2002), juga Dr. Mansoben. Mereka menulis secara rinci dengan merujuk berbagai sumber referensi. Rujukan referensi dari para penulis ini memiliki benang merah, nama Irian dan Papua dua kosa kata yang berasal dari bahasa Biak, dan sama-sama punya muatan politis dalam satu perspektif.

Kata Papua, Papoea (selain Nieuw Guinea, Dutch Nieuw Guinea, Nederland Nieuw Guinea) telah digunakan oleh banyak penulis, peneliti di tahun 1700-1900. Dalam sebuah buku bahasa Belanda yang ditulis tahun 1800-an, di situ di tulis Tanah Papoea, deskripsi tentang masyarakat di kepala burung Papua.

Banyak nama tempat, kampung yang saat ini ada, tidak berubah jauh dari tulisan di beberapa abad lampau, hanya ejaannya yang disesuaikan dengan perkembangan bahasa. Sehingga jika ada nama yang terasa janggal dan tidak pernah dicatat, maka nama tersebut bisa dipertanyakan untuk ditelusuri kebenarannya, misalnya ada yang menamakan Papua dengan Nuu War dalam terminologi yang baru dikembangkan.

Nama Papua, telah diulas Kamma dalam De Messiaanse Koreri-bewegingen in het Biaks Noemfoorse cultuurgebied (1954). Ia mengatakan bahwa Papua berasal dari bahasa Biak (Sup i) papwa yang berarti tanah atau negeri di bawah, negeri dibawah matahari terbit –meskipun ada arti lain misalnya pua pua, papuwa atau yang lainnya yang diberikan oleh orang Ternate, Tidore dan Melayu.

Alasan Kamma bisa benar sebab sejak tahun 800-1800, orang Biak sudah melakukan pelayaran di wilayah Timur (Maluku hingga Makassar), bahkan sampai ke Jawa. Dalam proses pelayaran inilah kata papwa dikenalkan ke berbagai wilayah. Kisah tentang pelayaran orang Biak, telah ditulis oleh Lapian, Andaya dan van Hasselt.

“Orang Papua suka bepergian. Dalam tahun-tahun yang sudah berlalu, mereka berangkat dengan perahu-perahu besar keluar ke tempat yang jauh dari Papua, sampai ke Seram, Timor dan Makassar. Sekarang ini mereka tidak pergi jauh seperti itu lagi, tetapi mereka bisa melakukan perjalanan besar; berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan lama dengan perahu-perahu mereka. Bukan karena mereka selalu terus berada di perahu berminggu-minggu dan berbulan-bulan, tetapi mereka suka berangkat dari satu tempat ke tempat lain dan tinggal sementara waktu dimana-mana,” tulis F.J.F van Hasselt dalam In het Land van de Papoea’s.

Nama Irian muncul dalam catatan António Galvão, Gubernur Maluku yang berasal dari Portugis dan bertugas tahun 1536-1540 di Ternate. Secara historis di wilayah Ternate, Tidore bermukim orang Papua dari Biak. Dan salah satu tokoh yang terkenal adalah Kurabesi (Gurabesi, Sekfamneri). Kurabesi diminta tolong oleh Sultan Jamaluddin (1495?–1572?) untuk ikut berperang dalam perang Tidore dan setelah Tidore menang, Sultan menghadiahkan putrinya Boki Taiba sebagai istri Kurabesi. Proses histori ini memungkinkan orang Biak memperkenakan kata Iryan (Irian) yang kemudian muncul dalam tulisan António Galvão.

Kepada para pemimpin lainnya yang turut dalam perang Tidore, mereka diberi gelar Kapitan Laut (Kapitarau), Sangadji, Soeroean, Major (Mayor), Kaidba (Kaiba), Dimara, Imbir, dan sebagainya. Gelar pemberian Sultan ini kemudian menjadi fam (marga) , sehingga marga awal tidak banyak diketahui lagi. Selain itu, gelar tersebut juga mengubah tatanan sosial pada kelompok masyarakat di para pemimpin yang mendapat hadiah gelar dari Sultan Tidore.

Kisah Kurabesi kemudian diubah menjadi lagu oleh tokoh pendidikan Papua, I.S. Kijne;

Gurabesi

(I.S. Kijne)

Gurabesi telah mendaki bukit tinggi | Gurabesi telah mendaki bukit tinggi | Gurabesi telah lihat hongi, musuhnya | Hura, mambriku, Hura!

Jangan meratap, jangan menangis | Sekali pulang sobatmu | Jangan meratap, jangan menangis | Sekali pulang sobatmu.

Gurabesi menang dan musuh sudah lari | Gurabesi menang dan musuh sudah lari | Gurabesi menang atas hongi, musuhnya | Hura, mambriku, Hura!

Jangan meratap, jangan menangis | Sekali pulang sobatmu | Jangan meratap, jangan menangis | Sekali pulang sobatmu.

Untuk kedua kalinya nama Irian muncul dalam tulisan Markus Kaisiepo di Surat Kabar Penyoeloeh yang terbit di Brisbane, Australia, 8 September 1945. Dalam tulisannya Markus minta agar nama Papua diganti dengan Irian dan pemerintah Belanda untuk memberikan kesempatan bagi orang Papua supaya bekerja di pemerintahan dan membuka sekolah yang lebih tinggi (permintaan ini bisa dilihat juga dalam keputusan pertemuan tokoh-tokoh Biak di Biak yang mengirim surat ke Zending di Belanda. Surat ini ditandatangani antara lain oleh Kaisiepo, Womsiwor dan Mofu). Kepada RONG (Radio Omerop Nieuw Guinea), Markus mengatakan, “Nama Papua cenderung merendahkan orang Papua”. Ungkapan Markus merujuk pada beragam arti kata Papua, misalnya; hitam, keriting, bodoh, budak.

Nama Irian kemudian ramai dibahas dalam pertemuan tokoh-tokoh Papua di Hamadi Oktober 1945, setelah itu Frans Kaisiepo (adik Markus Kaisiepo) mengemukakan lagi nama Irian dalam konferensi 15 Agustus sampai dengan 25 Juli 1946 di Makassar. Dalam notulen konferensi Malino, dicatat: “Tuan Kasiepo mengatakan, bahwa ikatan kawasan Tidore dengan Guinea Baru hendaknya diputuskan. Nama Papua perlu dibatalkan, karena kata ini adalah kata bahasa Tidore yang berarti “budak”. Rakyat menginginkan supaya negerinya dinamakan ‘Guinea Baru’ dan bangsanya dinamakan ‘Irian’.”

Apa yang disampaikan Frans itu menurut Markus Kaisiepo adalah sebuah perspektif tentang identitas orang Papua yang tidak ingin dijajah, dianggap rendah dan ingin berdiri sendiri.

“Frans Kaisiepo mengajukan nama Irian di Konferensi Malino agar Indonesia tahu bahwa Papua tidak ingin dianeksasi dan ingin berdiri sendiri,” kata Markus dalam Nieuw Guinea Koerier.

Sayangnya, nama Irian kemudian menjadi akronim “Ikut Republik Indonesia Anti Nederland” dalam berbagai buku pelajaran di tahun 80-90an, misalnya buku “Pintar” dan HPU (Himpunan Pengetahuan Umum). Akronim ini kemudian menjadi masalah juga dan akhirnya di tahun 2000, Irian dikembalikan ke Papua. Jadi, Irian atau Papua, sama-sama ingin berdiri sendiri, bebas dari penindasan.

)* Penulis adalah pengelola rubrik Jendela Papua di Suara Papua