Ini Kronologi Penyiksaan terhadap Benyamin Lagowan, Hendrikus dan Laorens pada 1 Desember 2018

0
8499

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Seorang dokter muda Papua, Benyamin Lawongan (27) yang sedang Koas di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Abepura, Hendrikus Madai (27) dan Laorens Kerebea (24) telah menjadi sasaran penangkapan dan penyiksaan oleh oknum intel, Polisi dan Brimob yang ditangkap pada Sabtu (1/12/2018) di sekitar lingkaran Abepura, Jayapura.

Hari itu, sekitar pukul 11:20 waktu setempat, Benyamin Lawongan mengambil gambar aktivitas beberapa oknum polisi dan Brimob yang sedang menghadang massa aksi rakyat Papua pada 1 Desember 2018 di Abepura. Tiba-tiba dia didatangi intel dan polisi, lalu terjadilah penangkapan, perampasan handphone hingga penyiksaan.

Berikut ini adalah kronologis yang disampaikan secara tertulis oleh Benyamin Lawongan kepada media ini.

Kronologi Tindakan Kekerasan dan Penganiayaan Brimob dan Polisi Terhadap Benyamin Lagowan, Laorens Kerebea dan Hendrikus Madai pada 1 Desember 2018 di Lingkaran, Abepura

Pada hari Sabtu tanggal 1 Desember 2018 sekitar pukul 11.20 WIT telah terjadi peristiwa tindak perampasan Handphone yang berujung pada kekerasan dan penganiayaan berdarah dari aparat negara (Satuan Brimob Polda Papua dan Polisi Sektor Abepura berjumlah sekitar 10 orang) terhadap saya Benyamin Lagowan (27), Hendrikus Madai (27) dan Laorens Kerebea (24). Kejadian kekerasan dan penganiayaan itu bermula dari adanya penangkapan dan penyiksaan yang dilakukan aparat militer Indonesia terhadap massa rakyat Papua yang hendak menggelar doa bersama bertempat di kantor MRP Papua memperingati hari besar bangsa Papua yang jatuh pada tanggal 1 Desember 2018.

Saat itu sekitar pukul 11.15 WIT, saya Benyamin Lagowan bersama anak saya (bayi berusia 8 bulan) bersama istri (Marselina Matuan) hendak menuju Jayapura Utara, namun karena adanya penangkapan terhadap massa rakyat Papua dan sedang disekap di halaman Mapolsek Abepura, maka saya (Benyamin Lagowan) bersama anak dan istri berniat menyaksikan proses penyekapan yang tidak manusiawi itu dari arah lingkaran Abepura (dekat pinggir kios/ruko) di sebelah kantor distrik Abepura ke arah Polsek Abepura.

Saat saya mengeluarkan handphone dan berusaha memotret massa aksi yang disekap tiba-tiba datang dua anggota Brimob (tidak ingat namanya) dan langsung menarik handphone dari arah belakang. Melihat sikap aparat yang kasar, saya berusaha mengelak dan bertanya, “kenapa?”, tetapi satu dari kedua Brimob itu langsung berteriak: “ko melawan?”, sambil menendang di bagian paha kanan saya, lalu yang satunya memukul bahu saya dengan menggunakan popor senjata.

Tidak lama muncul satu-dua anggota Brimob dari arah jalan sebelah (Sumber Makmur atau dari arah Polsek) lalu mengeroyok saya tanpa sedikitpun memberikan saya waktu untuk berbicara. Sementara itu, ada satu Brimob berteriak: “Yang itu lagi,” dia lagi sambil menunjuk Laorens yang kebetulan sempat berbicara dengan saya (Benyamin Lagowan) sebelum mengambil gambar. Laorens telah ada di situ lebih dahulu dan sama sekali tidak mengambil gambar. Walaupun demikian, beberapa anggota Brimob langsung memukul Laorens berkali-kali, sehingga mengakibatkan luka terbuka (Vulnus Laceratum) yang serius di kepala belakang dekat telinga kanan (Retroauriculer, regio frontal Dextra) yang cukup besar dan mengeluarkan darah yang membasahi kerak baju.

Selain itu juga saya lihat mereka menendang, dan memukul dengan popor senjata ke arah wajah, kepala dan hidung berkali-kali hingga menyebabkan hidungnya berdarah-darah selama di Polsek bahkan setelah di Polres Jayapura. Sementara itu, saya berusaha untuk lari (menghindar) dari keroyokan aparat yang berjumlah sekitar 2 orang, dengan berlari ke arah Kamkey. Namun, tiba-tiba salah satu anggota Brimob mengeluarkan tembakan ke atas, sehingga saya tidak lari dan berhenti. Pada saat itu, sekitar 5-7 anggota Brimob langsung menyerbu saya dengan berbagai pukulan yang membabi buta.

Saya mengalami luka lebam, dan perdarahan yang cukup luas dan serius. Pertama di bagian kepala tengah bengkak (Os Parietal), depan testa sebelah kiri (Os Frontal) juga bengkak, batang hidung luka sobek akibat pukulan popor senjata dan masih memar, rahang bawa (Os Mandibularis Sinistra), sehingga masih sulit untuk mengunyah makanan, dan sakit saat digerakan. Gigi seri depan atas satu, dua dan gigi taring bagian kiri atas mengalami goyang dan sakit. Setelah kami ditangkap, kami dibawa ke arah Polsek.

Dalam perjalanan ke sana beberapa anggota masih terus memukul, walaupun saya sudah jelaskan bahwa saya adalah dokter muda. Kami disekap di depan Polsek Abepura dan diinterogasi. Laorens pun mengalami hal yang sama.

Tidak lama berselang, Hendrikus Madai juga dipukul oleh beberapa anggota Brimob yang sedang berada di sekitar dapan Sumber Makmur. Hendrik ditangkap ketika hendak mengambil foto penyiksaan yang dilakukan oleh Brimob kepada saya bersama Laorens. Hendrik dirampas hanphonenya oleh seorang anggota Brimob dan dipukul di bagian kepala hingga helm yang dikenakannya hancur. Hendrik digelandang masuk ke halaman Polsek Abepura dan dinterogasi sembari dipukul. Kami akhirnya ditanya berkali-kali dan didata. Hp kami disita.

Sementara itu, istri dan anak bayi saya tadi menyaksikan dengan jelas, bagaimana perilaku aparat negara yang sangat biadab dan tidak berperikemanusiaan itu. Mereka bingung, panik dan menangis, apalagi bayi saya yang baru berusia 8 bulan, melihat, menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri orang yang baru sekitar 1 bulan dipanggil dengan sebutan “papa” (baru belajar berbicara) dihajar dengan brutal dan bahkan dari hadapannya, di dekatnya telah dikeluarkan tembakan senjata. Itu tentu telah menjadi sebuah tontonan yang buruk baginya. Dan bagi semua orang di sekitar situ yang menyaksikan bagaimana praktek perilaku primitif dan kebinatangan aparat negara yang katanya pengayom, pelindung dan pelayan masyarakat menampilkan wajah kebinatangan yang sesungguhnya.

Dari sini kami semakian sadar bahwa di kota besar seperti di Jayapura ini saja pola represivitas aparat militer Indonesia sudah kelewat batas. Bagaimana dengan yang di pedalaman? Pantas jika pelanggaran HAM terus bertambah dan rakyat Papua merasa bahwa kehadiran militer bersama Pemerintah Indonesia sejak dahulu telah dianggap sebagai musuh (ancaman) bagi eksistensi dan masa depan mereka.

Konklusi bahwa penentuan nasib sendiri dan merdeka adalah solusi yang ternyata benar dan sangat penting untuk membebaskan rakyat Papua dari kekerasan sistemik yang bernuansa genosida di Papua. Melalui kelakuan militer terhadap kami bertiga, menunjukkan bahwa perilaku bodoh, primitif dan tidak beradab masih menyelimuti hampir sebagian besar aparat militer di Papua, dan karenanya mereka terus nampak sebagai kolonial bagi rakyat Papua sebagaimana yang selalu diungkapkan semua pejuang Papua merdeka.

Demikian kronologi ini dibuat agar menjadi perhatian dan klarifikasi.

Hormat kami,

Benyamin Lagowan
Hendrikus Madai
Laorens Kerebea