KNPB Nabire: Hidup Damai Sejahtera Hanya Ada dalam Papua Merdeka

0
14871

NABIRE, SUARAPAPUA.com — Hidup damai sejahtera hanya ada di dalam dan melalui Papua merdeka. Hal ini ditegaskan Komite Nasional Papua Barat (KNPB) wilayah Nabire melalui siaran persnya yang diterima suarapapua.com hari ini, Senin (10/12/2018) dalam rangka memperingati hari HAM.

Ketua KNPB Nabire, Andi Ekapiya Yeimo, menegaskan, sudah banyak bukti penderitaan akibat hak-hak rakyat Papua yang dilanggar selama 55 tahun menjadi terjajah dalam masa pendudukan Indonesia hingga saat ini.

Yeimo menjelaskan, beberapa kasus pelanggaran HAM yang sudah ditetapkan sebagai pelanggaran HAM berat pun, bahkan hingga kini belum ada tindak lanjut penyelesaiannya.

“Negara ini sudah tidak punya niat untuk pikir urusan HAM orang Papua,” urai Yeimo.

Hal ini senada dengan apa yang pernah disampaikan oleh Octovianus Mote saat menjadi Sekretaris Jendral United Liberation Movement for West Papua (Sekjen ULMWP) pada Mei 2016 lalu.

“Indonesia itu penjajah. Saya selalu memuji KRP II pada tahun 2000. Sangat luar biasa. Hal paling menarik adalah pada saat itu mereka merumuskan posisi dari pada bangsa Papua: kita ini sedang dimana, dan akan menuju kemana, apa kekuatan yang ada pada kita. Di dalam kongres tersebut, jelas bahwa bangsa Papua telah memutuskan tidak ada masa depan di bawah Indonesia. Di bawah Indonesia kami bangsa Papua hanya tulang. Itu keputusan kongres,” tutur Mote menjawab wawancara Coen Hussain Pontoh, pimpinan redaksi indoPROGRESS.

Sementara terkait pertanyaan soal HAM, Mote menjawab saat itu bahwa akar dari seluruh rentetan pelanggaran terhadapnya adalah hak untuk menentukan nasib sendiri bagi bangsa Papua.

“Akar dari pada seluruh pelanggaran HAM di Papua adalah in life for self determination, hak kami di rampas. Kalau memang Indonesia mau menunjukkan kepada dunia bahwa mereka adalah negara demokrasi, ya itu akarnya. Semua orang Papua yang mati dibunuh oleh Indonesia ini bukan karena curi ayam atau merampok barang milik Indonesia. Tidak. Tidak sama sekali. Kami mati karena perjuangan politik. Hak penentuan nasib sendiri kami dirampas dan dilanggar oleh Indonesia,” urai Mote kala itu.

Pewarta: Bastian Tebai