Tantangan dan Peluang Kerja Kaum LGBT Papua

0
3049

Ia sudah mengantongi gelar sarjana (S1) Jurusan Administrasi Negara dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Cendrawasih (UNCEN). Dengan bekal ijazahnya ini memungkinkan dia untuk bekerja di sektor formal. Tetapi Selvi, 32 tahun, seorang transpuan, memilih untuk mengelola salon miliknya sendiri.

Ia merasa peluangnya kecil bekerja  di sektor formal seperti menjadi PNS  karena ekspresinya. “Tapi aku yakin saat tes CPNS tidak akan diterima, karena keadaanku seperti ini,” ujarnya saat ditemui  suarapapua.com pada Selasa, 6 November 2018.  Ia merasa lebih baik mengembangkan kemampuan dan bakatnya di salon, merias orang yang akan menikah dan sebagainya.

Memilih hidup sebagai transpuan bukan hal yang mudah. Ia mengalami lika liku selama ini. Ia pernah mendapatkan diskriminasi  dengan banyaknya ucapan, cibiran dari orang-orang di sekelilingnya. Ia mengabaikan ucapan-ucapan itu dan menganggapnya sebagai lelucon saja. Beberapa anggota keluarganya pun melakukan diskriminasi. Ia sempat dimarahi karena ia dinilai membuat malu keluarga dengan melanggar norma dan adat budaya.

“Bahkan om saya pun memukulku, di luar saya itu pernah dikatai  bencong, banci dan lain sebagainya,” ujarnya.

Tak mau larut dalam cemoohan orang, Selvi memilih mengelola salonnya di Kabupaten Jayapura Kota Sentani, Pasar Lama. Jl Komba, Provinsi Papua. Sebelum memiliki salon sendiri, dia pernah menjadi karyawan di beberapa salon. Saat di tempat kerja ia tak mendapat perlakukan diskriminatif, tetapi begitu keluar dari salon, ia mendapatkan cibiran dan ejekan.”Saya pernah disapa dengan kata-kata yang tidak etis. Walaupun terjadi begitu saya biarin aja,” katanya.

Ia menamai salonnya Salon Selvia.  Lokasinya tak jauh dari jantung ibu kota Jayapura. Salonnya mudah dikenali, sebuah rumah yang bercat kuning. Rumah berlantai dua di komplek perumahan BTN Jayapura. Di sinilah dia melakukan aktivitasnya dan mencari penghidupan. “Yah intinya saya bisa hidup dan bisa membantu keluarga saya”.

Selama ini dia mengacuhkan  ejekan, cibiran, cemoohan dan beragam diskriminasi yang dialami. Namun ia menginginkan hal ini tak disangkutpautkan dengan kedua orang tuanya. Menurutnya kedua orang tuanya  cukup mengerti kondisinya. “Masalah hidup saya,  jangan sekali-kali kaitkan dengan orang tua saya, yang tidak tau apa-apa.”

Ia mengatakan tak menerima jika ada yang mengutak atik kehidupannya dan menyangkutkannya dengan orang tuanya. Jika hal itu terjadi, kata dia, dia akan membalasnya. Selain itu dia juga akan melaporkan kepada pihak berwajib.

Menurutnya, saat ini tak kurang dari 100 orang transpuan di Jayapura sudah bergabung dalam sebuah komunitas. Ia sendiri sebagai ketua komunitasnya. Namun begitu ia mengatakan tak mau kehidupan mereka  disampaikan kepada orang tuanya.

Selain Selvi,  ada pula Bert, 30 tahun  juga menjalani kehidupan yang sama. Dia  memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliah lantaran berpikir tidak ada tempat untuk dirinya kerja di PNS bahkan  swasta untuk dirinya. Saat itu ia pernah melamar bekerja sebagai petugas kebersihan di sebuah toko. Tetapi ia tidak diterima. “Sebelum saya keluar saya mendegar ada bisikan mengatakan. Banci tidak pantas untuk kerja,” katanya kepada suarapapua.com  pada Sabtu 26 November 2018.

Melihat  kondisi Lesbian Gay Biseksual dan Trangender (LGBT) yang  mulai marak di perbicangkan,  ia merasa prihatin dan bersyukur. “Kalau melihat dengan daerah di luar Papua saya merasa sedih. Karena mereka ciptaan Tuhan juga,” ujar Bert.

Bert lahir dari kedua orang tua yang sederhana di Pedalaman Provinsi Papua. Sejak kecil dirinya suka bergaul dan bermain sama perempuan, meski pun dia ditentukan sebagai seorang laki-laki. Ia terbiasa bermain hingga  dirinya beranjak dewasa. Ia menjalani hidupnya dengan semangat dan tak mempedulikan omongan orang lain. “Yang penting Tuhan masih memberikan saya kesempatan untuk bernafas hidup di dunia ini. Tetap saya jalani,” ujar transperempuan yang berusia 30 tahun itu

LBGT di Provinsi Papua

Selvi menyebutkan keberadaan transpuan di daerahnya namun tak mengetahui jumlahnya secara detail. Banyak di antara mereka  berada di daerah-daerah lain di Provinsi Papua dan Papua Barat. Mereka juga berpindah tempat karena banyaknya tekanan. “Saya akui karena ada tekanan dari masyarakat, pemerintah bahkan dari keamanan,” ujarnya. Tetapi yang bekerja di salon, ia mendata jumlahnya sekitar 100 orang.

Menurutnya, datanya ini tidak termasuk mereka komunitas LGBT yang mencari hidup dengan caranya sendiri. Meski demikian, ia tetap menjalin komunikasi dengan beberapa temannya di daerah yang masih aktif. Biasanya mereka berkomunikasi dan saling menyemangati. “ Ada yang telpon, dia bilang semangat dan tidak berkurang jumlahnya ada yang ditekan, dicemooh,” ujarnya.

Dari data Perkumpulan Keluarga Brencana Indonesia (PKBI) Kota Jayapura, komunitas Lesbian Biseksual Gay dan Transgender  (LGBT) di Provinsi Papua secara umum mulai nampak sejak tahun 2016 ke atas. Hal tersebut Ketua PKBI Agus Fauzi seperti dilansir dari salah satu media di Papua. Ia enggan menyebutkan angkanya namun terlihat sering berkumpul di sebuah tempat.

Untuk urusan layanan publik, Kantor Kementerian Agama Kota Jayapura cukup terbuka untuk melayani mereka. Kepala Kantor Kementrian Agama Kota Jayapura, Syamsudin megatakan, dalam pelayanan mengimbau seluruh stafnya di kantor untuk lebih hormat dan melayani kepada  komunitas  LGBT.

“Berikan hak mereka, berikan LGBT ruang dan kami harus menghormati mereka juga,” kata Syamsuddin di Kantor Kementerian Agama Kota Jayapura, Distrik Abepura, Jumat, 9 Maret 2018.

Penulis: Ardi Bayage

Liputan ini bagian dari fellowship “Keberagaman Gender dalam Perspektif HAM” (2018) yang digelar Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) dan Ardhanary Institute