Gubernur Papua: Kita Natal dalam Duka, Rayakan dengan Sederhana

0
9506

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — “Masyarakat terutama pejabat daerah tidak usah berlebihan merayakan Natal tahun ini. Perayaan Natal tahun ini sebaiknya digunakan sebagai perenungan terhadap persoalan-persoalan yang terjadi di Tanah Papua.”

Harapan ini dikemukakan Gubernur Provinsi Papua, Lukas Enembe usai pertemuan bersama pimpinan dan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Papua (DPRP), pimpinan dan anggota Majelis Rakyat Papua (MRP), pimpinan gereja dan tokoh masyarakat, Rabu (19/12/2018) malam di Gedung Negara, Dok V, Kota Jayapura.

Pertemuan diadakan untuk menyikapi situasi Nduga saat ini. Dari laporan yang diterima, masyarakat Nduga hingga kini sedang berada di hutan.

Gubernur berpendapat, situasi mengerikan hari ini di Nduga mengundang semua orang untuk berempati dengan mengadakan acara natal dengan sederhana.

“Kita natal dalam duka. Karena banyak saudara-saudara kita yang saat ini terpaksa tinggal di hutan. Anak-anak, orang tua, perempuan di Nduga mereka saat ini hidup dengan kesulitan makanan, kedinginan dan hujan. Ketika mereka susah, kita sebagai saudaranya harus memahami perasaan mereka,” tuturnya.

Tidak hanya situasi Nduga yang perlu direnungkan, Gubernur Enembe meminta rakyat Papua selama natal ini merenungkan peristiwa demi peristiwa kekerasan yang terjadi di Tanah Papua sejak tahun 1969. Kekerasan dan konflik yang terjadi di atas tanah emas ini, menurut Enembe, telah merenggut banyak korban jiwa, terutama Orang Asli Papua.

Bahkan, untuk merenungkan setiap peristiwa itu, Gubernur Papua memilih tidak akan merayakan natal dengan “open house” seperti natal-natal sebelumnya.

“Saya juga berharap pejabat-pejabat daerah bersikap sama. Kita tidak pantas merayakan natal secara berlebihan ketika banyak saudara kita hidup dalam penderitaan,” ujar Gubernur Papua.

Di kesempatan sama, Ketua DPRP dan Ketua MRP menyatakan, situasi Nduga saat ini adalah situasi kemanusiaan yang harus disikapi secara cepat. Terutama pemenuhan kebutuhan bahan makanan bagi masyarakat yang saat ini sedang mengungsi di hutan-hutan.

“Kita harus segera mengirimkan bantuan makanan kepada masyarakat di Nduga. Agar mereka bisa segera kembali ke kampung masing-masing,” kata Ketua DPRP, Yunus Wonda dan Ketua MRP, Timotius Murib.

Hadir di pertemuan ini, Ketua Sinode Kingmi Tanah Papua, Pendeta Benny Giay dan Ketua Sinode GKI Di Tanah Papua, Pendeta Andrikus Mofu dan perwakilan Keuskupan Jayapura.

Tiga pimpinan umat Kristen ini mengatakan akan mengundang pimpinan gereja lainnya dalam waktu dekat untuk menerbitkan surat gembala berkaitan dengan situasi di Nduga saat ini.

“Dalam satu dua hari ini para pemimpin gereja akan bertemu untuk menyikapi situasi terakhir di Nduga. Kami juga sepakat untuk membentuk tim investigasi bersama pemerintah daerah, DPRP, MRP dan masyarakat,” kata Pendeta Andrikus Mofu.

Gubernur Papua, Ketua DPRP, Ketua MRP, Ketua Sinode GKI dan Ketua Sinode Kingmi mengaku telah menerima laporan dari masyarakat di Nduga tentang situasi terkini di kabupaten Nduga paska insiden penembakan sejumlah orang pada 2-3 Desember lalu, yang disebutkan sebagai karyawan PT. Istaka Karya oleh kelompok bersenjata yang mengaku sebagai Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB).

Masyarakat melaporkan kepada para pemimpin Papua bahwa ada masyarakat sipil setempat yang tewas paska evakuasi karena tembakan aparat keamanan dan sebagian besar masyarakat di distrik Mbua, Yal, Yigi dan Dal telah mengungsi ke hutan karena trauma atas kehadiran aparat keamanan.

Pewarta: Redaksi