Analisis Geologi Dari Banjir Bandang di Kabupaten Jayapura

0
7130

Oleh: Demianus Nawipa)*

Bencana yang selalu terjadi di bumi dalam sepanjang waktu geologi adalah sebuah proses perubahan yang terjadi terus sampai saat ini dan nanti. Terjadinya bencana alam (geologi) itu membawa dampak negatif, bahkan memunculkan dampak dalam kehidupan segala makhluk hidup di bumi. Dan, bencana tersebut juga terjadi karena memang alam bumi punya prinsip yang perlu dipelajari dan diketahui oleh manusia yang menghuni di alam raya bumi, yaitu prinsip “the present is the key to the past” yang artinya “semua yang terjadi pada saat ini di bumi adalah kunci dari pada masa lampau”.

Prinsip ini berlaku pada semua fenomena alam serta perubahan segala mahluk hidup yang ada di bumi, termasuk pula bencana banjir bandang yang terjadi di Kota dan Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, 16-17 Maret 2019, yang mengorbankan segala harta benda, flora-fauna, serta korban nyawa manusia adalah sebuh contoh dari proses perubahan alam (perubahan geomorfologi), dan bencana sejenis itu atau bencana geologi yang lainnya juga selalu terjadi di tempat lain, bahkan bencana-bencana itu tentu akan terjadi terus di tempat lain di bumi ini, dan atau di tempat yang sama.

Oleh karena itu, sebagai geologis Papua, saya menyampaikan bahwa untuk mempelajari ilmu pengetahuan alam khususnya ilmu geologi itu sangat penting agar diketahui bersama tentang geomorfologi, struktur bumi, stratigrafi bumi, sejarah geologi, bahkan perlu dipahami tentang bencana-bencana apa saja yang terjadi selama ini, di mana lingkungan yang kita huni di pulau kita, gunung kita, danau kita, laut kita, dan sebagainya.

Pengenalan Bencana Alam

Untuk mempelajari ilmu tentang geologi tentu selalu dipelajari tentang bencana geologi sebagai salah satu cabang pembelajarannya. Secara umum bencana alam dengan menggunakan kaidah geologi dibagi menjadi dua, yaitu: 1). bencana alam geogene, dan 2). bencana alam anthropogene.

Bencana alam geogene adalah bencana alam yang terjadi karena proses-proses secara alami sepanjang waktu geologi, sedangkan bencana alam anthropogene didefinisikan sebagai bencana alam yang terjadi karena hasil ulah manusia (hasil aktivitas manusia). Namun, sebagian bencana alam proses terjadinya bencana bisa diakibatkan oleh kedua-duanya. Untuk itu, berikut ini saya menuliskan bencana-bencana alam yang selalu terjadi.

Bencana alam Geogene, yaitu seperti gempa bumi, tsunami, letusan gunung berapi, dan gerakan massa (gerakan tanah). Gempa bumi sendiri terjadi karena adanya pergerakan tektonik lempeng bumi, baik itu di daerah yang mempunyai pergerakan lempeng secara konvergen, divergen serta transform. Gempa bumi terdiri dari tiga macam yaitu gempa bumi tektonik, gempa bumi vulkanik dan gempa bumi tumbukan.

Dari ketiga gempa bumi ini, gempa bumi berjenis tumbukan itu terjadi di lokasi yang tidak dapat terdeteksi oleh seismograf karena sifatnya sangat lokal. Sedangkan gempa bumi tektonik dan vulkanik serta tsunami terjadi karena adanya pergerakan tektonik lempeng, baik itu pengaruh pergerakan makro-tektonik maupun mikrotekronik yang terletak di daerah patahan, sesar naik, sesar turun, dan sesar geser serta lempeng bawah laut.

Bila gempa bumi tektonik terjadi di dasar laut atau laut dekat pesisir garis pantai yang berdekatan dengan makro lempeng tektonik tentu akan berpotensi terjadinya gelombang tsunami, namun itu pun tergantung besar skalanya serta nilai kedalamannya. Gempa tektonik juga bila terjadi di sepanjang sesar tentu akan berpotensi bencana gerakan massa tanah dan batuan, bahkan akibat dari itu tentu akan memunculkan tanah longsor lalu berpotensi terjadinya bencana banjir bandang, contohnya seperti di Wasior tahun 2010 dan di Sentani Kabupaten Jayapura 16-17 Maret 2019.

Memang bencana seperti ini akan membawa dampak kerusakan yang sangat parah yang dapat merugikan kehidupan makluk hidup di bumi. Tetapi, diantara satu dari keempat bencana alam geogene ini akan membawa dampak positif bagi kehidupan manusia, setelah terjadi bencana, yaitu ketika terjadi letusan gunung api tentu akan membawa kerugian harta benda dan nyawa manusia, tetapi setelah usai bencana letusan gunung api (saat istirahat) akan membawa kesuburan di kawasan gunung api bagi para petani untuk pertanian, dan hasilnya sangat melimpah.

Bencana alam anthropogene, yaitu banjir luapan, tanah longsor, gerakan massa, tanah dan batuan, tailing akibat aktivitas penambangan, dan lain sebagainya. Bencana banjir terdiri dari dua yaitu bencana banjir bandang dan bencana banjir luapan. Bencana banjir bandang adalah bencana yang terjadi secara tiba-tiba dan yang membawa segala massa air, massa batuan, massa tanah, dan material lain dari arah dataran yang tinggi ke rendah melalui jalur sungai atau lembah lereng pegunungan.

Sedangkan banjir luapan adalah diakibatkan oleh curah hujan terus-menerus beberapa bulan atau minggu, lalu naiknya muka air danau, terkait itu biasa terjadi di dasar danau yang struktur batuannya sangat kompak (impermeable) serta di danau yang terbentuk di dataran yang lebih luas serta struktur tanahnya lebih dominan lumpuran rawa dan lumpuran tanah, contohnya seperti Danau Paniai (sering terjadi banjir luapan), namun kerugiannya tidak seperti yang diakibatkan oleh banjir bandang.

Akibat terjadinya banjir bandang tentu akan menghancurkan segalanya yang ada di kawasan yang melalui bencana tersebut bila penumpukan massa material bawaan menuju ke arah muaranya di danau, tentu akan memunculkan banjir luapan air danau ke arah permukiman, namun itupun jika porositas dan permeabilitas dari struktur tanah dan bantuan di danau itu bantuannya sangat kompak, artinya batuan dan tanah yang tidak mampu menerobos air (impermeable), sepertinya ber-litologi batu lempung dan batu lanau.

Bencana banjir, tanah longsor dan bencana gerakan massa tanah dan batuan bisa terjadi akibat proses bencana alam geogene dan prosesnya agak lama. Namun bila kegiatan ulah (aktivitas) manusia, seperti penebangan pohon, pembakaran hutan, dan perkebunan itu dilakukan terus-menerus tanpa terkendali di kawasan lereng pegunungan, daerah aliran sungai (DAS), dan puncak pegunungan, tentu cepat (secara tiba-tiba) akan terjadi bencana longsor, bencana banjir dan bencana gerakan massa, sehingga dapat mengorbankan segala harta benda dan nyawa manusia.

Mengapa Terjadi Bencana Banjir Bandang di Jayapura?

Menurut saya, banjir yang terjadi di Jayapura (16-17 Maret 2019) itu murni banjir bandang. Buktinya banyak, salah satu yang perlu dilihat adalah terjadi penumpukan material batuan dan pohon-pohon dari arah lereng gunung melalui sungai-sungai yang diakibatkan dari tanah longsor (gerakan massa).

Gerakan massa air, tanah dan batuan serta segala material lainnya yang bergerak dari arah Pegunungan Cycloop (Pegunungan Dobonsolo) itu membawa dampak buruk bagi masyarakat yang ada di kawasan tersebut, sehingga sangat merugikan segala harta benda dan korban nyawa manusia. Akibat dari bencana tersebut juga sudah terjadi bencana banjir luapan dari Danau Sentani sampai menutupi semua anak-anak sungai yang selalu mengalir ke danau tersebut.

Secara teori sudah jelas bahwa bencana banjir bandang terjadi akibat aktifnya dua proses bencana alam tadi, yaitu bencana alam geogene dan anthropogene. Sebagai mahasiswa geologi, saya berani menyatakan bahwa “secara geologi regional sepanjang jajaran Pegunungan Cycloop adalah jalur sesar naik Papua bagian utara yang terbendung Danau Sentani, yang berposisi pada sepanjang teras dari makro lempeng tektonik bumi di Papua bagian utara yang tersambung dengan lempeng Karoline, sehingga beberapa hari yang lalu sebelum terjadi banjir bandang juga kemungkinan besar pernah terjadi gempa tektonik di sekitar sepanjang sesar itu. Dan memang proses pergerakan sesar itu sedang berlanjut sampai saat ini, sehingga bisa terjadi gerakan massa tanah dan batuan, serta dibantu oleh hujan terus-menerus beberapa hari, maka terjadi bencana banjir bandang yang telah mengorbankan ratusan nyawa manusia dan harta bendanya”.

Bencana tersebut bukan hanya terjadi karena proses geogene, tetapi itu terjadi juga karena hasil aktivitas manusia yang tak pernah terjadi selama ini (bencana anthropogene), seperti penebangan pohon secara berlebihan di kawasan Pegunungan Cycloop, penebangan pohon secara ilegal, dan pembakaran hutan secara sengaja untuk berkebun maupun secara tak sengaja.

Akibat dari itu ketika beberapa hari terjadi hujan terus-menerus, maka terjadi tanah longsor dan terbendung secara alami yang terjadi sebelumnya itu telah membongkar dengan kekuatan massa air hujan, batuan, tanah dan material kayu serta material lainnya, itu semua bergerak ke arah lereng pegunungan mengikuti sungai sampai membawa dan mengorbankan kawasan permukiman masyarakat sekaligus mengorbankan nyawa mereka disertai segala harta bendanya.

Mitigasi Bencana Banjir Bandang di Jayapura

Menurut saya, mitigasi bencana tersebut yang diperlu dilakukan adalah ada beberapa tahapan.

Pertama: saat terjadi bencana, mitigasi yang sangat dibutuhkan adalah evakuasi korban ke rumah sakit dan evakuasi penduduk yang menempati di daerah ke lokasi yang lebih aman, pengobatan, kebutuhan makanan, dan lainnya.

Kedua: setelah terjadi bencana, proses lanjutan dari tahap pertama yaitu perlu dilakukan pendataan jumlah korban, baik manusia maupun segala harta bendanya.

Ketiga: perlu dilakukan penelitian menyeluruh dari ahli geologi lingkungan (untuk mengkaji struktur batuan dan struktur tanah), lingkungan dan kehutanan, serta ahli geohigrologi, serta lembaga klimatologi – geofisika.

Keempat: mitigasi daerah Pegunungan Cycloop bila perlu dikosongkan aktivitas manusia yang mengakibatkan tanah longsor, seperti perlu dilarang penebangan pohon, pembakaran hutan, dan perkebunan.

Kemudian, saya membaca melalui salah satu media online, sebuah pernyataan dari Kepala Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) maupun polisi hutan serta organisasi peduli lingkungan bahwa kita harus tanam pohon, baik itu pohon yang berekonomis maupun yang tidak di kawasan itu. Tetapi saya kira rencana itu bukan solusi jangka pendek yang hanya membutuhkan udara yang segar, tentu tidak dengan kebutuhan meresap air hujan. Jadi, seharusnya kita berpikir bagaimana bisa dengan tanam pohon itu membawa dampak positif dalam waktu yang tidak terlalu lama?

Tentunya tidak demi kebutuhan saat ini. Sebab, menurut saya, hanya tanam pohon saja tidak cukup, sebab itu mitigasi jangka panjang demi masa depan dan juga setelah ditanam pohon, tidak akan mungkin bertumbuh cepat dan tidak akan mungkin terbentuk akar-akar pohon yang langsung meresap air hujan.

Menurut saya, solusinya adalah “dari sekarang jangan tebang pohon besar-besar yang sudah ada di daerah pegunungan, lereng gunung, maupun di daerah kota-kota di wilayah Jayapura.”

Kesimpulan

Sebagai mahasiswa teknik geologi yang lagi menekuni ilmu pengetahuan tentang geologi, saya perlu menulis terkait fenomena deformasi geomorfologi yang terjadi di bumi, terutama terkait dengan bencana banjir bandang yang terjadi di Jayapura (16-17 Maret 2019) yang telah mengakibatkan korban nyawa manusia dan harta benda.

Dalam artikel ini saya telah menguraikan teori tentang mengapa terjadi bencana alam tersebut secara sudut pandang geologis, dan tulisan ini juga bukan hasil kajian secara langsung di lapangan dimana daerah yang terjadinya bencana tersebut, tetapi hanya uraian hasil pantauan pribadi melalui media online dan media sosial.

Meski begitu, kiranya tulisan ini sangat penting untuk dibaca agar kita bisa mengetahui segala perubahan yang terjadi di lingkungan yang di mana kita lagi huni, sebab bencana selalu datang tanpa permisi. Kita pahami dan sadar bahwa semua peristiwa perubahan alam atau bencana alam yang terjadi saat ini adalah pada masa lampau juga pernah terjadi, tetapi proses perubahannya dalam waktu geologi, kecuali bencana tiba-tiba terjadi bila kenafsuan teknologi, informasi dan aktivitas manusia dapat dilakukan secara tak sadar di mana lingkungan yang kita huni, sehingga muncul multi dampak negatif untuk mengganggu kehidupan di bumi.

Mengakhiri tulisan ini, saya berpesan: “Jagalah hanya satu bumi, jagalah hanya satu Pegunungan Cycloop yang masyarakat Jayapura punya dan jagalah satu lingkungan hidup kita demi kehidupan masa depan di bumi.”

)* Penulis adalah mahasiswa Teknik Geologi Institut Sains dan Teknologi AKPRIND Yogyakarta