Beginilah Aksi Kemanusiaan di Nabire Untuk Sentani dan Nduga

0
2581

NABIRE, SUARAPAPUA.com — Sore itu di bawah sengatan sinar matahari, sembari menenteng “kotak derma”, cucuran keringat terus membasahi sekujur tubuh Kristianus Madai di lampu merah Pantai MAF, Nabire. Ia bersama beberapa anak muda lainnya menjalankan misi kemanusiaan, menanti uluran tangan para pelintas jalan raya.

Meski tidak seberapa yang didapat, pria humoris yang biasa disapa Kimax atau Krisma ini merasa hasil sore itu cukup untuk mengawali aksi kemanusiaan selama beberapa hari sesuai kesepakatan bersama anggota Solidaritas Aksi Kemanusiaan Bagi Sentani dan Nduga di Nabire.

Aksi penggalangan dana terus dilanjutkan keesokan harinya. Bahkan, selama seminggu belasan anak muda dari berbagai suku itu mengumpulkan pakaian layak pakai dan tentunya dana.

“Kami lakukan aksi galang dana dan pakaian layak pakai selama satu minggu, sejak hari Senin (18/3/2019) hingga hari Sabtu (23/3/2019),” kata Philemon Keiya, koordinator Solidaritas Aksi Kemanusiaan Bagi Sentani dan Nduga di Nabire.

Kegiatan dari solidaritas ini dipusatkan di Pantai Nabire, yang dulu dikenal dengan Pantai MAF.

Menariknya dari aksi kemanusiaan ini, aksi door to door di sepanjang jalan raya dari Pasar Karang Tumaritis hingga Pasar Oyehe, Rabu (20/3/2019) dan pementasan musik akustik bersama Alfons Yogi dan Thobix Zparta. Live musik ini bahkan menyedot penonton cukup banyak di akhir pekan.

Situasi pementasan live musik akustik di Pantai Nabire. (IST – SP)

Tak terkecuali, usaha kreativitas mereka dengan menjajakan minuman dingin, kopi dan kue.

“Hati kami tergerak untuk sedikit membantu meringankan beban yang sedang diderita saudara-saudari kami di Sentani, juga di Merauke dan Nduga,” ucapnya.

Solidaritas ini dibentuk pada hari Senin (18/3/2019) menyusul banjir bandang yang melanda kota Sentani, Sabtu (16/3/2019) lalu. Selain harta benda, korban nyawa akibat bencana ini mencapai ratusan orang.

“Atas dasar kemanusiaan, warga Nabire berkumpul di Pantai Nabire pada hari Senin dan dalam pertemuan disepakati untuk menggalang dana dan pakaian layak pakai (semua ukuran) untuk Sentani dan warga pengungsian di Nduga,” tuturnya.

Philemon juga menjelaskan, pada siang hingga sore usai pertemuan, mereka langsung lakukan penggalangan di Pantai Nabire dan lampu merah Pantai Nabire. Saat itu ada beberapa komunitas lain jalankan aksi kemanusiaan yang sama.

Setelah hari Rabu aksi galang dengan cara jalan kaki dari pasar Karang – Auri – Jalan Merdeka – Pasar Oyehe – Pantai Nabire, esoknya hari Kamis hingga Sabtu mereka tetap lakukan kegiatan yang sama di Pantai Nabire.

“Terakhir, hari Sabtu, bersama musik akustik oleh Alfons Yogi dan Thobix Zparta live musik. Hasilnya luar biasa,” ucap Keiya.

Hingga hari Senin (25/3/2019) dilakukan packing pakaian dan menghitung dana yang telah dikumpulkan selama sepekan.

“Hasil yang kami dapat, uang sebesar 19 juta rupiah dan pakaian sebanyak delapan karung besar,” rincinya.

Proses packing pakaian layak pakai di Pantai Nabire. (IST – SP)

Hasil penggalangan tersebut, kata dia, akan dibagi dua yaitu Sentani dan Nduga. “Karena bagi kami, duka Sentani, duka kita. Duka Nduga, duka kita. Papua sedang duka.”

Mikael Kudiai, sekretaris Solidaritas Aksi Kemanusiaan Bagi Sentani dan Nduga di Nabire, menyampaikan terima kasih kepada seluruh warga Nabire dan umumnya dari wilayah Meepago yang turut memberikan dukungan melalui sumbangan dana dan pakaian layak pakai, baik secara pribadi maupun keluarga.

“Kami sudah lakukan apa yang bisa kami lakukan sebagai orang Papua. Kami lakukan ini, kami mencoba untuk mengambil sebagian duka dari Sentani dan Nduga,” ucapnya.

Anamike Iyai dari Gereja Kingmi jemaat Hosana Kalibobo Nabire yang datang bersama warga jemaat di Pantai Nabire menyumbang dana dan pakaian layak pakai sebanyak dua karung, mengungkapkan rasa prihatinnya terhadap sesama ciptaan Tuhan yang sedang dilanda musibah di Sentani akibat terkena banjir bandang pada beberapa waktu lalu.

Nomen Dou, anggota solidaritas ini menuturkan perlunya kesadaran dari sesama lain karena bencana alam tak mengenal suku, agama, golongan, latar belakang orang dan tempat. Kondisi mengenaskan yang sedang dialami saudara-saudari kita di Sentani, Kabupaten Jayapura, Merauke maupun Nduga, membutuhkan sentuhan kasih dan bela rasa dari siapapun yang peduli kemanusiaan.

Kapan hasil aksi kemanusiaan tersebut akan dikirim, menurut Philemon, belum dipastikan karena dana yang terkumpul tidak akan diambil satu rupiah pun untuk biaya pengiriman.

“Kami sudah packing semua. Untuk pengirimannya, kami mohon bantuan dari pemerintah kabupaten Nabire, Dinas Perhubungan dan maskapai penerbangan rute Nabire – Jayapura, untuk bisa menyediakan tempat supaya kami langsung antar ke Sentani,” pintanya.

Pewarta: Markus You