Samuel Tabuni: Membangun Papua Harus Perbaiki Kesehatan dan Pendidikan

0
1972

DEKAI, SUARAPAPUA.com — Samuel Tabuni, direktur Papua Language Institute (PLI) mengatakan, untuk bangun Papua harus fokus peningkatan kesehatan dan pendidikan yang lebih baik.

Hal tersebut disampaikan, setelah melihat langsung Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dekai, Senin (25/3/2019).

“Selama beberapa hari saya ada di sini, saya mendengar langsung dari hamba-hamba Tuhan bahwa satu hari selalu ada yang meninggal, yang dibawa keluar dari rumah sakit. Soal pendidikan pun saya mendengar hal yang sama,” kata Samuel di depan Kantor Bupati Yahukimo, Selasa (26/3/2019).

Papua menurutnya, harus dibangun dengan hati. Sebab, kata dia, secara umum di Papua memang banyak yang masih sangat kurang, kekurangan itu terutama bidang pendidikan dan kesehatan.

“Kalau manusianya sudah dibangun dengan baik, dia akan sehat. Kalau sehat, dia akan cerdas. Kalau sudah cerdas, maka dia akan berguna di mana saja. Jadi, kita di Papua umumnya dan khususnya di kabupaten Yahukimo, kita harus benahi rumah sakit dan pendidikan,” tuturnya.

Selain itu, ia akui, program pendidikan sudah diawali dengan mengirim orang asli Papua ke luar negeri untuk belajar. Tahap selanjutnya yang akan keluar mengikuti beasiswa Rusia pada Agustus mendatang.

“Masalah pendidikan dan kesehatan ini kami sudah memulai, untuk memperbaiki itu tidak bisa dari bupati dan gubernur saja, itu akan lebih bagus kalau orang Papua ada di Senayan dengan posisi yang cukup untuk ambil keputusan,” ujar Samuel.

Untuk duduk di Senayan, menurut Samuel, sudah saatnya untuk memilih orang asli Papua pada pemilihan umum tanggal 17 April mendatang.

“Lebih bagus memilih orang yang bisa merubah tanah ini. Saya sudah maju dari partai Nasdem nomor urut 10. Saya punya konsep pembangunan tentang kesehatan dan pendidikan yang layak. Sebelumnya hal itu sudah saya mulai lakukan,” imbuhnya.

Setelah melihat langsung di Dekai, dia harapkan, untuk anak dan orang tua harus ajar dan didik anaknya dengan tata kelola yang baik dan benar.

“Selalu biasakan anak untuk pergi ke sekolah dan siapkan sarapan ubi dan keladi karena ubi dan keladi itu makanan kita orang Papua, begitu juga dengan kesehatan,” kata Samuel.

Sementara, Panuel Maling sangat setuju untuk membiasakan anak dengan makanan pokok.

Panuel akui sudah lima bulan berjalan pedagang yang menjual nasi kuning kepada anak-anak sekolah di KM 3 Jl Sarada tidak berjualan sejak dilarang keras.

“Awalnya sebelum melarang, banyak pedagang yang bawa nasi kuning tiap pagi. Saya amati anak-anak yang makan itu mereka punya muka pucat, sakit, dan dalam kelas selalu mengantuk. Makanya pada bulan November, saya larang keras agar pedagang tidak bawa jual lagi,” beber Panuel.

Lihat perbedaan sebelum dan sesudah larang, kata dia, jelas ada. Dulunya siswa yang muka pucat seperti sedang sakit, sekarang berbeda dan dalam kelas tidak pernah mengantuk.

“Pendidikan itu sangat penting, jadi harus orang tua perhatikan anak demi masa depan. Tidak boleh dikasih sarapan dengan makanan berminyak, nanti akan terpengaruh juga dengan kesehatan fisik,” imbuh Panuel.

Pewarta: Ardi Bayage
Editor: Markus You