Mengenal Lebih Dekat Imam Kedua Suku Migani, Pastor Kleopas Sojuna Sondegau, Pr

0
5692
Sembilan imam baru di keuskupan Jayapura yang baru ditahbiskan oleh Mgr. Leo Laba Ladjar, OFM. (Arnold Belau - SP)

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Pada tanggal 30 Mei 2019 kemarin, Uskup keuskupan Jayapura, Mrg. Leo Laba Ladjar, OFM, telah tahbiskan sembilan imam muda di keuskupan Jayapura, yakni empat imam OFM dan lima Pastor Projo.

Mereka yang ditahbiskan Uskup Leo adalah Pastor Hubertus Magai, Pr, Pastor Benyamin Keiya, Pr, Pastor Kleopas Sojuna Sondegau, Pr, Pastor Yanuarius Yelipele, Pr, Pastor Meky Mulait, Pr,  Pastor Philipus Elosak, OFM, Pastor Viktorianus Bata, OFM, Pastor Petrus Tri Andika Rumwarin, OFM, dan Pastor Laurensius Resi, OFM.

Pastor Kleopas Sojuna Sondegau, Pr adalah imam kedua dari suku Migani yang ditahbiskan Uskup keuskupan Jayapura. Sebelumnya pastor pertama dari suku Migani adalah almarhum Pastor Anton Belau, OFM, yang meninggal pada tahun 2006 silam di tempat tugasnya, paroki Idakebo, dekenat Kamu Mapia.

Untuk mengenal Pastor Kleopas Sojuna Sondegau, Pr, dapat kita simak lebih dekat tentang Pastor Kleopas yang rela meninggalkan harta dan kekayaan, memilih menjadi imam untuk melayani umat Tuhan.

Kleopas lahir di kampung Yokatapa pada 20 Mei 1989 dari pasangan Benediktus Sondegau dan Agnes Sani. Benediktus Sondegau adalah putra laki-laki pertama dari Oktopianus Sondegau, ‘sonowi’, orang terpandang yang punya harta, istri dan babi banyak.

Pastor Kleopas Sojuna Sondegau, Pr adalah anak ketiga dari delapan bersaudara, anak laki-laki sulung dari Benediktus Sondegau. Orang tua berharap agar ia menikah dan punya keturunan karena ia adalah anak pertama laki-laki dalam keluarga atau cucu laki-laki pertama dari anak pertama Oktopianus Sondegau.

Dari garis keturunan, Pastor Kleopas adalah keturunan kepala suku dan sonowi yang punya babi, harta dan kulit bia banyak. Oktopianus Sondegau berharap cucunya tidak jadi imam. Tetenya berharap Kleopas menikah. Dari pihak orang tua, bapaknya setuju dengan pilihan hidup Kleopas jadi imam, namun mama Agnes, ibunda dari Pastor Kleopas tidak jadi imam dan menikah agar bisa punya cucu, selain itu karena ia adalah anak sulung laki-laki. Namun, Pastor Kleopas tidak terima keinginan orang tua dan tetenya.

Menurut Pastor Kleopas, cita-citanya tidak sama dengan pemikiran orang tua maupun tete Oktopianus. Ia memilih jadi pastor karena jika tawaran orang tua dan tetenya adalah karena untuk pertahankan keturunan, maka ada adik laki-lakinya yang lain bisa menikah dan meneruskan keturunan. Karena ia masih memiliki tiga saudara laki-laki yang lain.

Oktopianus akhirnya terima cita-cita dan pilihan hidup Kleopas setelah dijelaskan dengan baik oleh bapak dan mama dari pater sendiri. Mama Agnes yang sebelumnya tidak terima pun terima keinginan dan cita-cita sang pastor setelah dijelaskan dengan baik.

Nama Sojuna yang menjadi nama tengah sang pastor memiliki arti yang dalam. Kata Pastor Kleopas, nama itu diberikan oleh ayahnya. Makna dan arti Sojuna adalah mengasihi siapa pun manusia dari semua golongan. Arti nama Sojuna itu juga merupakan prinsip hidup sang ayah dari Pastor Kleopas. Arti nama Sojuna ia hayati selama ia sekolah hingga memutuskan untuk menjadi imam.

Dari pengalaman hidupnya, kata Pastor Kleopas, belas kasih selalu muncul saat orang susah, membutuhkan uluran tangan orang lain dan dalam masalah selama hidupnya. Arti Sojuna dalam bahasa Migani adalah “somene logona, wola mene logona nggane duame” yang artinya kasihi sesama manusia tanpa perbedaan apa pun.

Riwayat Pendidikan

Tahun 1997/1998 masuk SD Inpres Yokatapa. Pada tahun 2000 ada tes penerimaan penghuni asrama baru, asrama Nduni St. Martinus Bilogai yang dibuat oleh pastor paroki Bilogai, Pastor Marthen Kuayo, Pr. Siswa yang dinyatakan lulus, kemudian masuk di SD YPPK Misael Kammerer Bilogai. Tahun 2001 dinyatakan lulus untuk tinggal di asrama Nduni St. Martinus. Sehingga kelas V dan VI sekolah di SD YPPK Bilogai dan selesai tahun 2002.

Setelah selesai, Pastor Marthen Kuayo kirim ke Wamena, SMP YPPK St. Thomas bersama dengan tiga rekan lainnya. Ia menyelesaikan SMP di SMP YPPK St. Thomas Wamena pada tahun 2005. Usai selesai SMP, ia melanjutkan SMA di SMA YPPK St. Thomas Wamena. Selama SMP dan SMA di Wamena, ia tinggal di asrama hingga selesai tahun 2008.

Selepas dari SMA, ia melanjutkan ke KPA Waena tahun 2009. Tahun 2010 Tahun Orientasi Rohani (TOR) di Nabire. Sejak TOR se-Papua dibuka di Nabire, Kleopas dan rekan-rekan seangkatannya menjadi angkatan pertama di TOR Nabire. Tahun 2011 lanjut S1 di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) “Fajar Timur” Abepura. Tinggal di seminari tinggi sambil kuliah di STFT.

Menurut Pastor Kleopas, seminari tinggi dan STFT adalah dua lembaga yang berbeda. Yakni Seminari Tinggi merupakan lembaga untuk calon imam, sedangkan STFT adalah kampus, tempat kuliah para calon imam.

Setelah kuliah selama empat tahun, pada tahun 2014 ia selesai dari STFT. Tahun 2015 jalani Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Paroki Argapura. Tahun 2016 jalani Tahun Karya di Katedral keuskupan Jayapura. Tahun 2017 dengan rekomendasi dari Pastor Yanuarius You, Pr, uskup rekomendasikan untuk lanjut pascasarjana di Universitas Katolik Parahyangan Bandung bersama rekan-rekan pastor yang lain dan selesai tahun 2018.

Saat selesai, almarhum Pastor Neles Kebadabi Tebai, Pr hadir sebagai orang tua di Bandung untuk hadiri wisuda. Tanggal 25 November 2018 Uskup Leo tahbiskan bersama delapan rekan lain jadi diakon di biara Antonius Sentani. Setelah ditahbiskan jadi diakon, selama enam bulan Kleopas jalani masa diakonat di paroki Yurub dan Ubrub dekenat Keerom.

Motivasi Jadi Imam

Selama melanjutkan sekolah SMP dan SMA di Wamena, ia mengaku suka dan sering main-main dengan pastor di pastoran. Dan kemudian pastor tersebut menjadi orang tua walinya di Wamena. Karena sering main-main dengan pater, ia tertarik untuk jadi imam projo dan masuk di seminari menengah Waena.

Ia tidak memilih ordo OFM atau yang lain, tetapi memilih Projo karena ia sudah sudah sering bermain lebih banyak dengan imam Projo. Selain itu, niat untuk menjadi imam adalah murni dari hati untuk melayani umat Tuhan.

Motivasinya untuk menjadi imam mulai bertumbuh sejak pernah misdinar di Bilogai. Selain itu, tertarik dengan gaya Pastor Marthen Kuayo saat masih menjadi pastor paroki Bilogai, kalau doa syukur agung selalu dengan nada-nada lagu tradisional Mee. Menurutnya, awal-awal ia mendengar, sempat sampai menangis. Kemudian ia hayati dan mulai tumbuh dari dalam hatinya untuk menjadi imam.

Ia berujar, jika orang dengar dan hayati gaya Pastor Kuayo doa syukur agung, orang bisa saja beranggapan bahwa pater sedang menangis. Padahal pater sedang doa syukur agung. Hal lain yang memotivasi Kleopas adalah jubah para pastor yang warna warni. Semua itu membuatnya tertarik untuk menjadi imam.

Waktu sekolah di Wamena, Kleopas sering ikut Pastor Bas di Wamena ke stasi-stasi untuk melayani.

“Saya biasa lihat pater itu capek melayani umat seorang diri, setelah pulang capek-capek dari stasi, masih ada umat yang datang minta doa dan pater tetap layani umat. Sering lupa istirahat, lupa makan, tetapi tetap setia melayani umat Tuhan,” katanya menceritakan pengalamannya waktu sekolah di Wamena.

Lebih jauh, kata Pastor Kleopas, ia melihat tenaga imam kurang dan para imam makin tua usianya. Sehingga setelah berpikir lebih jauh, niat untuk menjadi pastor menjadi pilihan yang tidak bisa ditawar. Hal-hal tersebut memotivasinya untuk menjadi imam.

Dengan melihat banyak pastor yang sudah tua, tenaga pelayan untuk umat kurang membuat ia terpanggil untuk melayani umat Tuhan. Katanya, keputusan untuk jadi imam ini murni dari keinginan sendiri tanpa paksaan siapa pun. Meskipun tete dan orang tua meminta agar menikah.

“Untuk apa jadi imam, ini kulit bia banyak, babi banyak jadi harus menikah. Tetapi saya tetap mengikuti panggilan hati saya. Bagi saya, tawaran-tawaran itu hanya hal-hal yang menggoda panggilan saya. Meskipun harta banyak, kulit bia banyak, tetapi saya tetap pada jalan panggilan saya dan ingin menjadi pelayan umat. Dan pilihan saya itu sudah dari awal mau jadi imam,” tutur Pastor Kleopas.

Dukungan Keluarga

Ia mengungkapkan bahwa dukungan keluarga baik dan sangat mendukung. “Bapak saya terima jalan pilihan hidup saya. Kalau mama dari awal minta agar menikah. Tetapi tidak ekstrim, karena setelah saya jelaskan baik-baik, mama terima dengan baik,” katanya.

Ia menjelaskan dan meyakinkan keluarga, terutama mama dan tetenya agar mereka menerima jalan pilihan hidupnya. Sebab menjadi imam untuk melayani umat Tuhan adalah keinginan dan motivasi sendiri tanpa paksaan orang lain.

“Saya tetap memilih jadi imam, karena ini panggilan saya. Akhirnya orang tua mengerti dan menerima. Orang tua bilang, tidak papa kalau mau jadi imam, kami tidak keberatan,” katanya.

Tantangan

Pastor Kleopas Sojuna Sondegau, Pr menceritakan beberapa tantangan yang ia hadapi ketika memilih untuk menjadi imam.

Hal pertama, adalah bahwa Pastor Kleopas merupakan cucu dari tete Oktopianus atau anak laki-laki pertama dari anak tertua dari tete Oktopianus yang adalah orang terkaya dan terpandang di kampung dan punya harta kulit bia dan babi banyak. Sehingga dengan pilihannya menjadi imam, ia memilih untuk meninggalkan kemewahan dan menjadi pelayan umat Tuhan.

“Tantangan berat saya adalah ketika tete dan mama tawarkan saya untuk menikah. Ini tentu tantangan yang berat bagi saya karena tete adalah orang kaya, terpandang dan punya banyak harta. Juga tawaran mama. Tetapi saya tetap pilih dan dengar suara hati saya untuk jadi imam,” ungkapnya.

“Saya anak budaya yang menganut sistem patriarki dari bapak, apalagi anak sulung. Mestinya, anak sulung itu tinggal di kampung dan jaga dusun, tetapi saya berani meninggalkan itu. Dari satu sisi saya tinggalkan tantangan itu. Di sisi lain, saya meninggalkan kebiasaan patriarki. Orang pikir, ini kepala suku punya cucu baru tidak menikah dan lainnya tetapi bagi saya, saya ingin mendobrak budaya patriarki itu.”

Baginya, tawaran dari tete dan mamanya merupakan tantangan. Selain itu, sebagai manusia tentu ada tantangan lain antara lain godaan jabatan, perempuan dan tawaran ujung-ujungnya hanya untuk mementingkan diri sendiri.

“Tantangan berat itu pada kekayaan, harta dan wanita. Tetapi itu tantangan bagi para imam pada umumnya, dan khususnya untuk saya. Karena itu tantangan yang akan ada meski jadi imam sampai akhir,” ujarnya.

Gereja Katolik masuk di tanah Migani pada tahun 1953 dan hingga tahun 2019 baru ada dua imam dari tanah Migani. Seperti disebutkan di atas, pastor pertama dari tanah Migani adalah almarhum Pastor Anton Belau, OFM dan Pastor Kleopas Sojuna Sondegau, Pr adalah pastor kedua dari tanah Migani.

“Kalau saya bandingkan, kami di tanah Migani yang Injil dari Katolik masuk lebih awal. Dibandingkan teman-teman di Lapago, terutama di Lembah Baliem. Karena teman-teman dari wilayah Wamena, imam banyak. Di Meepago juga banyak. Tetapi untuk kami yang di tanah Migani, baru dua imam. Saya harus akui bahwa untuk mereka yang di Lapago, secara pemerintahan mereka lebih dulu berkembang meskipun agama masuk setelah di tanah Migani. Jadi, banyak yang mengerti jalan panggilan menjadi imam dan suster makin banyak.”

“Pastor Anton Belau adalah pastor pertama suku Migani. Saat Pastor Anton ditahbis, mungkin belum ada pastor dari Lembah Baliem. Belakangan ini barulah muncul banyak imam dan suster dari Lembah Baliem. Artinya, kalau untuk jadi imam, kita sudah lebih dulu. Kalau dari segi jumlah, memang mereka banyak. Dan kami dari suku Migani baru dua. Ini karena cara pikir yang belum baik. Jadi, orang masih berpikir bahwa jadi imam itu tidak menikah. Lalu kalau di Lembah Baliem, mereka mulai paham. Sehingga banyak yang jadi suster dan imam. Artinya, pemahaman kita suku Migani tentang jalan panggilan jadi imam belum terlalu maju. Kita suku Migani punya pemikiran belum maju. Hal-hal ini yang saya pikir harus kita belajar dari orang lain. Terutama suku Mee yang imam dan susternya banyak.”

Harapan

Pastor Kleopas juga menyampaikan beberapa harapan, terutama kepada generasi muda suku Migani.

“Saya berharap agar anak-anak dari suku Migani agar tetap maju pada panggilan bagi mereka yang sudah memilih jalan panggilan jadi imam dan sedang berada pada jalan untuk menuju jadi imam,” ucapnya.

Pastor Kleopas menyarankan perlunya keteguhan hati terhadap panggilan hidup. “Untuk anak-anak Migani yang mau jadi imam dan suster, jangan takut untuk memilih jadi imam.”

Ia pun yakin akan ada generasi baru di jalan yang sama demi melayani umat Tuhan.

“Saya berpesan agar tetap semangat dan tetap pada panggilan. Kita harus bisa dengan suku lain yang lebih maju. Karena soal budaya dan perempuan itu bukan tantangan. Yang paling penting adalah menjadi imam dan melayani umat Tuhan secara total tanpa paksaan dari orang lain. Sebab panggilan jadi imam itu harus muncul dari hati dan tanpa paksaan,” tutur Pastor Kleopas.

Pewarta: Arnold Belau