Bina Anak Jalanan, Pater Gerry Buka Cafe Rohani

0
3765

NABIRE, SUARAPAPUA.com — Pastor Paroki Santo Yosep Nabire Barat, Pater Injonito Gerry da Krus, SCH.P, membuka Cafe Rohani untuk membina anak-anak jalanan dengan aneka kegiatan bina mental dan rohani yang diharapkan bermanfaat bagi pribadi maupun sesama lainnya.

“Kami membuka Cafe Rohani di sini sejak beberapa waktu lalu,” katanya kepada suarapapua.com di Pastoran St. Yosep, SP 2, Nabire Barat, Sabtu (1/6/2019) kemarin.

Pater Gerry akui, membina anak jalanan tidaklah mudah, apalagi mau menyadarkan mereka butuh proses yang cukup lama.

“Saya di sini tidak sendirian, tetapi selalu dibantu oleh orang muda Katolik (OMK) dalam memberikan pelayanan dan pembinaan rohani, karena saya pikir anak jalanan itu butuh nilai-nilai rohani serta kasih sayang dalam kehidupan mereka,” tuturnya.

Cafe Rohani dibuka di aula Paroki Nabire Barat tiap akhir pekan. Hari Sabtu kemarin, banyak anak muda hadir. Mereka bertemu, bikin diskusi, tukar pikiran, pendapat, sharing pengalaman hidup, nonton film rohani, diselingi lagu-lagu rohani dan mendengar Sabda Tuhan.

“Menyediakan wadah bagi anak muda untuk mengisi malam minggu dengan kegiatan-kegiatan positif sebagai bagian dari katekese kaum muda,” jelasnya sembari menambahkan, agenda tiap akhir pekan dikemas sedemikian rupa agar menyenangkan semua yang hadir di Cafe Rohani.

Dari kegiatan ini diharapkan ada manfaat positif, selain memperkaya iman dan kehidupan rohani, anak-anak muda nantinya bisa menjalankan tugas pelayanan kepada umat Tuhan.

Program Cafe Rohani di Paroki Nabire Barat ternyata diminati banyak anak muda dari Kristen Protestan. Mereka ikut dalam kegiatan pembinaan di sana.

Sejak program baru ini dibuka, tercatat 30 anak jalanan yang memilih bertahan, sehari-hari tidur dan beraktivitas di Paroki St. Yosep Nabire Barat, bersama pastor dan beberapa pembina.

Auleman Yatipai, seorang anak yang turut dibina di Cafe Rohani, mengatakan, sampai sekarang belum mau beranjak dari kegiatan tersebut.

“Saya tidak ingin pulang ke rumah karena di sini saya mendapat banyak kasih sayang dan pelajaran berharga dengan pembinaan rohani,” kata Auleman.

“Saya dulu pencuri. Tidak kenal Gereja. Setiap hari saya di jalanan. Saya macam mau muntah kalau lihat Pastor dan Gereja. Tetapi, sekarang saya sudah disadarkan oleh Gereja dan Pastor dengan kegiatan pembinaan di sini,” tutur Yatipai.

Pater Gerry menambahkan, ada dari mereka yang sudah bisa tampil dan turut mengambil bagian pada hari Minggu di depan mimbar Gereja.

“Ya, itulah warna-warni kehidupan, karena semua orang dilahirkan normal dan tidak berdosa, hanya saja perilaku dan kasih sayang orang tua itu yang menjadi dasar dalam kehidupan mereka,” imbuhnya.

Bukti kepedulian Gereja terhadap anak-anak muda Papua yang tak luput dari beragam persoalan ini diharapkan terus berlanjut demi mewujudkan misi Tuhan, menyelamatkan manusia di muka bumi, sekaligus menyiapkan kader-kader Gereja untuk masa mendatang.

Pewarta: Yance Agapa
Editor: Markus You