Pergeseran Nilai Perang di Lapago dan Meepago

0
2042

Oleh: Imanuel H. Mimin)*

Fakta selama ini terjadi pergeseran nilai perang suku di Tanah Papua khususnya di wilayah adat Lapago dan Meepago, sebagaimana ditampilkan lewat drama pada saat acara pentas seni budaya Papua 7 wilayah adat yang diadakan pada tanggal 3 Mei 2019 di Balairung Universitas Kriten Satya Wacana (UKSW) Salatiga, Jawa Tengah.

Artikel ini membahas tentang pergeseran nilai perang yang dipetik dari drama wilayah adat Lapago dan Meepago. Dalam drama yang ditampilkan menceritakan perbedaan pemicu peperangan, perbedaan aturan perang dan perbedaan proses perdamaian pada jaman dahulu dengan jaman sekarang (modern) baik sebelum dan sesudah terkontaminasi dengan masuknya sistem pemerintahan, keamanan (polisi/tentara) dan pihak gereja (pembawa Injil).

Dari kedua wilayah adat tersebut hanya suku yang mempunyai budaya perang yang dimana nama sukunya disebutkan sebagai contoh dalam drama yaitu suku Lani dan suku Amungme. Karena kedua suku tersebut memiliki budaya perang.

Sebagai catatan, tidak semua suku di wilayah adat Lapago dan Meepago mempunyai budaya perang. Hanya beberapa suku saja yang mempunyai budaya perang.

Perbedaan pemicu terjadinya peperangan dan perbedaan proses perdamaian pada jaman dahulu dan jaman modern (sekarang).

  1. Jaman Dulu

Pada umumnya definisi perang jaman dahulu sejatinya secara padat ialah mekanisme mencari keseimbangan. Tempat mencari pembenaran antara benar dan salah. Namun definisi perang secara luas yaitu perang merupakan seni, cara merebut, semangat/spirit, demokrasi dalam keberlangsungan hidup mereka.

Pemahaman ini dipertegas oleh dua mahasiswa Papua asal Lapago yang sedang kuliah di kota Salatiga, Jawa Tengah, Gasper Tabuni dan Magel Kobak.

Perang yang terjadi di masa lampau biasanya hanya karena permasalahan perebutan batas wilayah, perempuan dan ego kepemimpinan (ego dalam memimpin suku). Pada jaman dahulu yang lebih dominan menjadi penyebab terjadi perang yaitu karena batas wilayah. Oleh karena perebutan batas wilayah, maka menyebabkan pembunuhan. Dari pembunuhan itulah memicu terjadi sebuah peperangan.

Contohnya seperti dalam suku Lani, ketika membuka lahan perkebunan melewati batas wilayah sampai pada wilayah adat suku yang lain secara sengaja maupun tidak sengaja, tetap akan menimbulkan suatu pertengkaran karena sudah melewati batas wilayah. Dari pertengkaran itu terjadi pembunuhan. Dari situlah penyebab terjadi perang antar suku dan perang pun harus ada persetujuan dari kepala suku dan panglima perangnya.

Bukan hanya membuka lahan perkebunan saja, bahkan berburu melewati batas wilayah pun menjadi suatu hal yang bisa menimbulkan peperangan antar suku.

Setelah peperangan, pasti ada  perdamaian. Proses perdamaian pada jaman dahulu biasanya ada sosok orang netral, orang yang pembawa kedamaian, orang yang suci dan tidak punya masalah dengan siapapun. Kehadirannya tidak lain hanya untuk mendamaikan dan menghentikan perang. Orang ini yang biasa disebut sebagai “Nduma” (dalam bahasa suku Lani) atau “Meki” (dalam bahasa suku Amungme). Sosok orang netral ini yang bisa menyelesaikan masalah secara adat dan secara kekeluargaan.

Ketika perang berhasil dihentikan, maka kedua suku yang tadinya berperang akan saling memaafkan satu dengan yang lainnya.

Kemudian dilanjutkan dengan acara bakar batu dan makan bersama. Dalam proses makan bersama dilakukan pemotongan daging babi atau wam/boe (dalam bahasa suku Lani dan suku Amungme) oleh kedua kepala suku yang bertikai. Setelah itu makanan hasil bakar batu akan dibagikan kepada seluruh pasukan perang atau semua orang yang hadir di saat berakhirnya peperangan sebagai tanda bahwa perang telah berakhir sekaligus sebagai tanda perdamaian.

  1. Jaman Modern

Pada jaman dahulu, perang adalah suatu hal yang sakral dalam artian bahwa perang tidak sembarangan terjadi. Ada aturan-aturan dalam berperang dan juga ada pengatur perang. Golongan mereka ini disebut Aap Nggok (Inogobanak) dalam bahasa suku Lani. Aap Nggok adalah orang yang khusus untuk mengatur suatu peperangan.

Tetapi berbanding terbalik dengan jaman sekarang atau jaman modern. Sekarang ini perang antar suku kapan saja dan dimana saja bisa terjadi. Perang bukan lagi hal yang sakral dan bukan lagi hal yang masih dijaga nilai-nilainya.

Hingga kini pemicu permasalahan perang yang sering terjadi sudah beda jauh dengan jaman dulu. Belakangan ini perang terjadi karena permasalahan perempuan, politik, kursi jabatan, pangkat atau kekuasaan (kepentingan individu) yang bersifat individualis dan mengorbankan banyak orang baik itu kelompok, sesama marga, klan ataupun suatu komunitas.

Ada pula perang yang sudah direncanakan (perang berencana) entah kepentingan-kepentingan tertentu yang pada akhirnya juga mengorbankan banyak orang-orang tidak bersalah. Perang berencana biasanya sudah ditentukan tanggal, waktu dan tempat untuk berperang.

Jika dulunya perang antar suku dihentikan oleh orang netral, sudah jauh beda dengan sekarang yang dimana perang dihentikan oleh pihak keamanan (polisi). Jika perang masih terus berlanjut, maka pihak pemerintah daerah juga turut turun untuk menghentikan dan menyelesaikan perang tersebut.

Agar dapat menyelesaikan perang yang terjadi, biasanya pihak pemerintah menawarkan pembayaran uang kepala, sebagai gantinya terhadap kedua pihak/kedua suku yang bertikai (berperang). Jika korban belum seimbang dan pembayaran uang kepala tidak sesuai, maka kedua suku tidak akan mau berdamai, dalam artian bahwa perang akan terus berlanjut sampai korban harus sama atau seimbang.

Pihak pemerintah akan membolehkan perang itu berlanjut sesuai keinginan kedua suku. Sampai pada akhirnya pihak pemerintah akan kembali bersama-sama dengan pihak keamanan untuk menghentikan peperangan tersebut. Dalam kesempatan itu, pihak pemerintah akan menawarkan pembayaran uang kepala sebagai gantinya agar kedua kubu/kedua suku bisa berhenti berperang.

Setelah pembayaran uang kepala, bila kedua pihak atau kedua suku menerima pembayaran uang kepala itu, maka perang berhenti dan masing-masing suku mendapatkan uang pembayaran kepala dari pemerintah. Biasanya berkisaran 100 sampai 200 juta (per kepala).

Uang yang diberikan oleh pemerintah sebagai uang pembayaran kepala, uang tersebut akan dibagikan oleh kepala suku kepada kepala perang dan semua orang yang berperan dalam perang tersebut.

Sudah digarisbawahi sebelumnya bahwa pada umumnya semua suku di pulau Papua bukanlah suku yang mempunyai budaya perang. Suku yang mempunyai budaya perang hanya ada beberapa suku saja dari sekian banyak suku di pulau Papua yang jumlahnya mencapai 466 suku bangsa.

Papua adalah tanah damai dan tanah yang diberkati. Tanah yang kaya akan kekayaan sumber daya alam dan juga kaya akan keanekaragaman budayanya. Maka dari itu, mari kita sama-sama menjaga dan mengelola anugerah yang Tuhan sudah berikan dan melestarikan budaya yang dimana sebagai eksistensi, identitas dan jati diri kita sebagai manusia yang diciptakan oleh Sang Maha Pencipta dengan diberikan akal budi, cara berpikir dan bertindak dalam menjalankan kehidupan di atas tanah kaya raya ini.

)* Penulis adalah mahasiswa Papua, sedang kuliah di Jawa Tengah