FFP 2019 di Sorong Fokus Perempuan Papua

0
4019

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Kisah perjuangan Perempuan Papua akan diangkat Papuan Voices dalam Festival Film Papua (FFP) ketiga yang rencananya diadakan awal Agustus 2019 di kota Sorong, provinsi Papua Barat.

Dalam keterangan tertulis yang diterima suarapapua.com, panitia FFP ke-III menjelaskan, sebagai agenda tahunan, festival kali ini akan dilaksanakan 6 – 9 Agustus 2019 dengan tema utama “Perempuan Penjaga Tanah Papua”.

Wirya Supriyadi, sekretaris umum Papuan Voices, mengatakan, kompetisi FFP ke-III akan diadakan setelah sebelumnya FFP I tahun 2017 dan FFP II sukses diselenggarakan.

“Festival Film Papua yang pertama pada 7 – 9 Agustus 2017 di kota Merauke, terus yang kedua di kota Jayapura, 7 – Agustus 2018. Giliran sekarang Papuan Voices kembali melaksanakan festival ketiga di kota Sorong,” jelasnya.

Sesuai tema utama FFP ke-III tahun 2019, karya yang dihasilkan harus secara khusus mengungkap berbagai persoalan mendasar yang dialami kaum perempuan Papua di semua aspek kehidupannya, baik politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, lingkungan hidup, dan lainnya.

“Intinya film dokumenter tentang perempuan yang berjuang di semua aspek untuk menjaga Tanah Papua sebagai ibu yang memberikan kehidupan bagi manusia Papua dan dunia,” kata Wirya.

Rencananya, menurut Bernard Koten, koordinator umum Papuan Voices, FFP ketiga akan didahului workshop dan talkshow bertajuk “Mendengar Suara Perempuan Penjaga Tanah Papua; Dulu, Kini dan Harapan Masa Depan”.

Agustinus Kalalu, ketua panitia FFP ke-III, menjelaskan, workshop dan talkshow akan diadakan sebagai sarana dialog dalam rangka merumuskan sejumlah hal penting atau rekomendasi yang berkaitan dengan permasalahan perempuan Papua.

“Penyadaran terus menerus bagi kaum perempuan melalui perjuangannya dalam banyak aspek penting untuk diungkap ke ruang publik,” kata Agus.

Melalui FFP ketiga, harap dia, bisa muncul banyak film maker Papua agar makin banyak orang Papua menceritakan kisahnya melalui medium film dokumenter.

Ini diaminkan Harun Rumbarar, koordinator Papuan Voices wilayah Keerom.

“Besok kami mengangkat tema tentang perempuan, dan ajang FFP ketiga ini semoga bisa membangkitkan semangat generasi muda Papua untuk mengisahkan segala pergumulan kehidupannya dalam media audio visual yang dapat ditonton publik,” tuturnya.

Harun menilai selama ini banyak media kadang menceritakan kisah hidup orang Papua dari perspektif media atau pihak lain.

“Ketika orang asli Papua sendiri yang menceritakan kisahnya, pergumulannya dan dibuat oleh orang asli Papua, pasti akan beda. Nilai rasanya akan sangat berbeda. Itulah yang kita mau,” kata Rumbarar.

Dalam budaya suku-suku di Tanah Papua, kaum perempuan menanggung beban cukup besar. Dalam situasi demikian, mereka berjuang untuk kehidupan keluarganya, komunitasnya, sukunya dan alamnya. Perjuangan mereka demi keadilan terus berlanjut. Itu terungkap melalui narasi mama-mama Papua yang tak pernah usai karena tak banyak didengar.

“Dengan tema FFP ketiga ini, kami berharap suara dan kedudukan kaum perempuan mendapatkan tempat yang layak karena mereka adalah penjaga kehidupan, mereka memberikan kehidupan ini, dan suara mereka memang sangat perlu didengar,” imbuh Wirya.

Lebih lanjut dibeberkan beberapa tujuan yang hendak dicapai dari FFP ketiga.

Pertama, memperkenalkan berbagai potensi dan permasalahan yang dimiliki perempuan Papua melalui film dokumenter.

Kedua, membangun kesadaran publik akan isu-isu perempuan Papua.

Ketiga, mendorong dan memperkenalkan film maker muda Papua yang terampail dalam produksi dan distribusi film dokumenter.

Keempat, sebagai wadah untuk memperkuat jaringan film di Tanah Papua.

Empat orang berpengalaman di bidang film dokumenter serta paham terhadap isu-isu perempuan Papua, dipilih pihak panitia menjadi dewan juri. Yaitu Wensislaus Fatubun, Arul Prakkash, Lisabona Rahman, dan Melania Kirihio.

Agus memastikan sejak beberapa waktu lalu panitia telah membuka pendaftaran materi film dokumenter untuk diikutsertakan dalam FFP ketiga. “Kami tunggu sampai tanggal 10 Juli 2019.”

Untuk informasi soal syarat atau hal-hal yang perlu diketahui terkait pembuatan film dokumenter, ia sarankan agar hubungi pihak panitia maupun pengurus Papuan Voice di Sorong Raya, Tambrauw, Biak, Timika, Merauke, Wamena, Keerom, dan Jayapura.

Papuan Voices merupakan komunitas film maker Papua yang fokus memproduksi film dokumenter berdurasi pendek tentang manusia dan tanah Papua. Ia dibentuk tahun 2011 setelah ada kerja sama Engage Media, Sekretariat Keadilan Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan (SKPKC) Fransiskan Papua serta Justice Peace and Integration of Creation (JPIC) MSC Indonesia melatih para film maker baru di Tanah Papua.

Semenjak para peserta pelatihan ikrarkan Papuan Voices, dua kegiatan utama sudah diadakan yakni penguatan kapasitas generasi muda dalam memproduksi audio visual, serta yang kedua kampanye dan advokasi terkait isu-isu penting di Tanah Papua. FFP bagian dari agenda utama Papuan Voices.

Pewarta: Markus You