Lahir di Hutan dan Dikira Meninggal, Satu Bayi Pengungsi Nduga Selamat

0
2518

DEKAI, SUARAPAPUA.com — Ribuan orang melarikan diri dari rumah mereka sejak operasi militer di wilayah kabupaten Nduga, Papua, awal Desember 2018. Ibu-ibu dan anak-anak ada diantara kelompok pengungsian. Beberapa ibu bahkan melahirkan anak dari tengah hutan belantara.

Mencari aman ke hutan menjadi pilihan satu-satunya bagi seorang ibu hamil yang saat itu sedang menunggu hari untuk bersalin. Kala itu masyarakat dari berbagai kampung dan distrik di Nduga mengungsi ke hutan.

“Saya melahirkan anak di tengah hutan dan banyak orang mengira dia sudah meninggal, tetapi ternyata masih bernapas,” tutur ibu yang tak sudi namanya disebutkan saat tiba di Wamena, ibukota kabupaten Jayawijaya, Sabtu (8/6/2019) lalu.

Sang ibu menceritakan, “Anak saya sakit, susah bernapas. Terus, sering batuk berdahak.”

- Iklan -

Menurut dia, kejadian tragis itu dialaminya pasca insiden pembunuhan pekerja PT Istaka Karya, awal Desember 2018.

“Saya baru tiba dari Kuyawage. Kami berada di sana sejak awal bulan Desember. Sebelum di Kuyawage, kami tinggal di hutan selama beberapa minggu,” jelasnya.

Ia satu dari sekian banyak ibu yang dikabarkan melarikan diri ke hutan dan melahirkan bayi di hutan tanpa bantuan tenaga medis.

“Mulai tanggal 4 Desember 2018, saya sudah sangat kesakitan. Bunyi tembakan terus-menerus dari darat dan helikopter, jadi terpaksa saya ikut lari bersama keluarga yang lain. Awalnya saya tra mau ikut karena rasa sakit sekali, tetapi karena tembakan terus mendekat, saya paksakan diri untuk lari,” ceritanya tentang kisah tragis yang dialami di tengah rimba.

Sebagaimana diberitakan berbagai media, pembunuhan pekerja jalan Trans Papua ditanggapi pemerintah Indonesia dengan melakukan operasi pengejaran anggota TPNPB Kodap III Ndugama pimpinan Egianus Kogoya.

“Saya melahirkan anak di hutan pada tanggal 4 Desember, dan ada keluarga yang membantu. Tetapi kami ketakutan jika aparat terus menembak hingga ke tempat persembunyian kami. Karena itu kami harus tetap melanjutkan pelarian, mencari gua yang bisa untuk bersembunyi,” tuturnya.

Ia tak punya bekal untuk dipakai saat bersalin. Hanya ada selembar kain yang kebetulan ada di dalam noken.

Setelah melahirkan, kata dia, bayi tersebut dibungkusnya dengan sehelai kain dan dimasukan dalam noken.

“Suhu di sana dingin sekali, jadi waktu kami jalan lagi, saya merasa bayi saya sudah tidak bergerak. Kami pikir dia sudah meninggal. Keluarga sudah pasrah. Sampai ada yang suruh saya buang saja. Tetapi saya paksa harus bawa terus, ya kalau meninggal juga saya harus kuburkan dengan baik,” ungkapnya terbata-bata.

Karena masih terus membawa bayinya, saudara laki-laki dari ibu ini membuat api dan memanggang daun, kemudian menempelkan pada sekujur tubuh sang bayi.

“Setelah omnya tempelkan daun yang dipanaskan itu baru dia bernapas dan minum susu,” ucapnya dengan mata berkaca-kaca.

Ence Geong, koordinator tim relawan kemanusiaan untuk pengungsi Nduga, mengatakan, kisah ibu ini hanyalah satu dari sekian pengungsi yang melahirkan tanpa pertolongan tenaga medis. Ada beberapa ibu yang bahkan terpaksa melahirkan di hutan.

Tragisnya, tanpa bantuan medis, ada ibu yang meninggal bersama bayinya pasca melahirkan. Beberapa pengungsi juga meninggal karena sakit dan tak mendapat pertolongan medis.

“Sudah banyak pengungsi Nduga yang meninggal karena sakit dan tidak mendapatkan bantuan kesehatan. Di Wamena saja sudah banyak yang meninggal dunia, apalagi yang di hutan,” kata sekretaris eksekutif Yayasan Teratai Hati Papua (YTHP) ini.

Menurut Ence, pelayanan kesehatan sangat dibutuhkan para pengungsi. Saat ini banyak yang sakit. Apalagi tak sedikit diantaranya masih trauma untuk bertemu orang baru di lingkungan yang tak mereka kenal.

“Pemerintah harus serius mengurus aspek kesehatan. Segera sediakan posko kesehatan untuk pengungsi,” pinta Ence.

Pewarta: Ruland Kabak
Editor: Markus You

Print Friendly, PDF & Email