Tiap Hari Hujan, Banyak Kebun Ubi dan Sayur di Dekai Rusak

0
269

DEKAI, SUARAPAPUA.com — Sebagian kebun milik warga Dekai, ibukota kabupaten Yahukimo, Papua, terendam air, akibatnya semua tanaman sayur dan ubi membusuk, tidak dapat dikonsumsi keluarga, apalagi dijual di pasar.

Rusaknya kebun-kebun tersebut menurut penuturan beberapa keluarga, terjadi sejak lima pekan lalu. Terutama setelah hampir tiap hari hujan sejak bulan Mei 2019 lalu.

Akibat diguyur hujan, air kali meluap hingga muncul kolam dadakan, termasuk kebun ubi dan sayur disapu air hujan.

“Saya pergi lihat kebun saya sudah tergenang air,” kata Belina Giban di Dekai, Selasa (25/6/2019) kemarin.

Pagi itu, sekira jam 6:30 WIT, Belina sambil memegang parang miliknya, berjalan perlahan di depan rumah Lasarus Giban, mantan kepala suku. Tujuan dia mau lihat kebunnya.

ads
Baca Juga:  MRP Papua Pegunungan Apresiasi Masyarakat Adat Mulai Olah Tanah

Belina kaget karena seluruh tanaman di kebun sudah tenggelam dalam air.

“Sayur dan petatas semua sudah tidak baik. Hanya bisa kasih makan ternak babi saja,” ucap ibu anak dua ini.

Ia perkirakan hal itu terjadi sejak musim hujan. “Selama musim hujan ini kebun saya sudah rusak parah. Isi ubinya sudah membusuk. Begitu juga sayur. Ya, saya biasa bawa untuk makanan babi,” kata Belina.

Situasi ini berbeda pada musim kemarau, kebun biasanya aman dan sayur maupun ubi pun bagus, layak dimasak untuk dikonsumsi.

Baca Juga:  Generasi Muda Anim Ha Perlu Membangun Pemahaman Dampak Investasi

“Di kebun yang sekarang masih bagus itu hanya tebu dan nenas saja,” katanya.

Nenas dan tebu, menurut dia, agak subur karena tidak terkena air. “Tebu masih baik. Beberapa hari lalu saya bawa tebu untuk keluarga di rumah.”

Akibat kebun-kebun warga terendam air hujan, situasi pasar sepi dengan jualan. Mama-mama tidak membawa hasil bumi. Baik sayur maupun hipere.

Itu terlihat di Kl2, tempat mama-mama Papua biasa jual sayur.

Ketika disambangi suarapapua.com, di meja jualan tampak hanya 3 ikat sayur. Ini berbeda dengan musim panas yang biasanya tempat jualan dijejali tumpukan umbi-umbian maupun sayur-mayur.

Baca Juga:  Aparat Kepolisian Diminta Segera Tangani Konflik Antara Masyarakat Asolokobal dan Wouma

“Hujan jadi sayur cuma ini. Petatas tidak ada. Kebun sudah rusak,” kata Delvi sembari melayani pembeli sayur.

Tiga ikat sayur yang dijualnya langsung laris. Dan, meja jualan pun kosong.

Delvi menceritakan, kebun milik mamanya yang terletak tak jauh di belakang barak Pemda baru, sudah berubah menjadi kolam. Sudah tak terlihat lagi bentuk kebun, apalagi daun ubi.

“Beberapa hari lalu mama saya pergi ke kebun. Air tinggi dan kebun sudah terendam, jadi langsung pulang ke rumah,” tuturnya mengisahkan.

Pewarta: Ardi Bayage
Editor: Markus You

Artikel sebelumnyaTege, Camilan Unik dari Dogiyai
Artikel berikutnyaLahir di Hutan dan Dikira Meninggal, Satu Bayi Pengungsi Nduga Selamat