Literasi, Sekolah dan Bahan Bacaan

0
3932

Oleh: Agustinus Kadepa)*

Literasi. Sebuah kata yang saat ini tren digunakan seantero Nusantara sebagai upaya kecerdasan bangsa. Maka program literasi harus membumi, hadir di dalam rumah, lingkungan, masyarakat, sekolah dan lainnya. Agar masyarakat dapat berhitung, membaca, menulis, serta menjadi cerdas dan sejahtera.

Pertanyaannya, sejauhmana literasi dikembangkan di Tanah Papua? Tentunya pemerintah telah tetapkan agar semua sekolah mulai dari SD, SMP dan SMA wajib kembangkan literasi di lingkungannya.

Semua penggerak literasi saat ini, baik pustakawan sekolah –meski kerja rangkap sebagai guru mata pelajaran– maupun beberapa taman baca masyarakat sadar akan pentingnya literasi di Tanah Papua. Tetapi apakah benar penyadaran itu ada dan dimiliki juga oleh guru mata pelajaran dan perangkat lainnya? Ataukah terpaksa, karena program wajib literasi secara nasional di setiap sekolah?

Saya membayangkan bagaimana literasi dijadikan sebuah aktivitas yang melekat dalam kehidupan manusia dan saling berinteraksi, misalnya di lingkungan sekolah, literasi hidup di setiap mata pelajaran, tidak diam di ruang perpustakaan yang pada akhirnya sepi; sepi pengunjung dan sepi pembaca.

Literasi hadir bersamaan di rumah dan lingkungan masyarakat yang nantinya memberikan kontribusi pada sekolah. Kehadiran literasi yang nantinya membuat masyarakat sejahtera, melalui fasilitas literasi yang dikembangkan di setiap lingkungan masyarakat dan menekan angka buta huruf, tetapi itu hanya sebuah mimpi yang memang harus kita kejar.

Sekarang ini saya melihat ada soal pada literasi sekolah. Sekolah sedang bingung bagaimana cara agar menghidupkannya, sebab literasi di sekolah diartikan sebagai sebuah aktivitas membaca buku sebelum mata pelajaran dimulai. Harusnya, bagaimana literasi dikembangkan adalah satu kesatuan yang tidak terputus dan berkesinambungan mulai dari rumah, lingkungan masyarakat dan lingkungan sekolah.

Bahan Bacaan

Saya sering koleksi buku, dan di komunitas kami (Papua Mengajar, Taman Baca Ayago) selalu mendapat kiriman buku dari luar Papua. Kami telah kumpulkan banyak buku di sekretariat. Sekian buku yang dikirim, biasanya kami sortir sesuai kebutuhan; kebutuhan anak, remaja dan dewasa.

Dari buku yang dikirim hampir semua buku ditulis oleh orang dari luar Papua, ditulis sesuai dengan kehidupan mereka. Ditulis berdasarkan kontekstual luar Papua.

Jujur, saya kadang bingung memahami isi buku, dan ada saja kata yang harus dicari di kamus karena kata itu baru, tetapi kata-kata tren itu pun tidak didapatkan juga dalam kamus.

Menanti Penulis dan Tulisan Dialeg Papua

Dari sekian banyak buku yang saya koleksi, saya koleksi beberapa buku tentang Papua –cerita, novel, dan lain-lain– ditulis oleh orang Papua dengan gaya Papua mengangkat soal, materi tentang Papua. Kenapa tidak begitu banyak?

Saya mendengar begitu banyak penulis yang draf bukunya masih dalam file. Sudah bertahun-tahun masih file, tidak ada sponsor untuk cetak buku.

Perusahaan percetakan milik pemerintah provinsi Papua belum ada progres dalam mencetak buku-buku di Papua dari penulis Papua dan tentang Papua, sehingga untuk sementara ini saya boleh katakan bahwa Papua miskin pustaka yang berkontekstual.

)* Penulis adalah Aktivis Pendidikan Papua, Pendiri Gerakan Papua Mengajar (GPM) dan Pendiri Kelompok Belajar Ayago di Kampung Tuguwai, Distrik Aweida, Kabupaten Paniai