Caritas PNG Beri Beasiswa bagi 20 Pengungsi West Papua

2
3508

NABIRE, SUARAPAPUA.com — Sedikitnya dua puluh siswa pengungsi asal West Papua di Port Moresby, Papua New Guinea, diberi beasiswa pendidikan melalui program bantuan kemanusiaan Caritas PNG dalam kemitraan dengan Don Bosco Technical School (DBTS) Gabutu.

Harian Post-Courier edisi 2 Juli 2019 mengabarkan, program beasiswa tersebut diluncurkan di sebuah seminar pada hari Jumat (28/6/2019) di Konferensi Waligereja Katolik PNG di Gordon, Port Moresby.

Tujuan program beasiswa ini, para siswa berkesempatan mengikuti kursus singkat selama empat bulan setiap tahun di DBTS hingga mereka menerima sertifikat dasar di bidang administrasi, elektronik, mekanik dasar, dan komputer.

Kenneth Gonzales, wakil kepala sekolah DBTS urusan teknis, mengatakan, program ini istimewa karena memberi kesempatan kepada pria dan wanita muda yang kurang beruntung yang telah meninggalkan tanah air mereka untuk datang dan tinggal di PNG.

Menurut Gonzales, tema misi untuk tahun ini “mereka menyambut malaikat” yang digambarkan melalui beasiswa tersebut. “Sesuai dengan tema kami dengan senang hati menyambut para pengungsi West Papua dan menawarkan kemungkinan dididik di DBTS,” katanya.

Gonzales yakin dengan program ini akan mengembangkan keterampilan mereka dan yang terpenting membantu mereka menemukan pekerjaan.

Marie Mondu, fasilitator dan sekretaris seminari untuk pengembangan CBS-PNGSI, menekankan perlunya pemberdayaan dan rasa tujuan bagi para pengungsi. Sebab, menurut dia, para pengungsi di PNG membutuhkan bantuan khususnya yang berasal dari West Papua.

Mondu mengatakan, program beasiswa ini akan memberi mereka sarana yang diperlukan dan kesempatan untuk membangun kembali kehidupan mereka.

Dilansir thenational.com.pg, Hans Womsiwor, perwakilan dari komunitas West Papua di 9-Mile West Papua, menyambut gembira karena beasiswa tersebut sangat berarti bagi rakyatnya di pengungsian.

“Saya bangga atas kemitraan antara Caritas PNG dan DBTS dan berterima kasih kepada mereka karena telah menyediakan program beasiswa yang luar biasa ini untuk membantu masyarakat West Papua,” katanya sembari mengungkapkan kehadiran ia di sana adalah untuk menyampaikan terima kasih atas program beasiswa ini.

Womsiwor atas nama komunitas West Papua di Port Moresby bernapas lega dengan adanya program beasiswa yang diberikan sejak pekan lalu.

Thomas Wanggai, salah satu penerima beasiswa berterima kasih atas kesempatan tersebut karena sebelumnya ia menghadapi kesulitan dalam pendidikan.

Di DBTS Wanggai akan belajar fabrikasi, cara merangkai beberapa komponen material seperti plat, pipa atau baja profil yang dibentuk bertahap hingga dapat dipasang menjadi sebuah rangkaian alat produksi maupun konstruksi. Juga, ia akan mempelajari pengelasan logam.

“Saya merasa terhormat menerima beasiswa ini, sebab saya menghadapi banyak situasi buruk, tetapi saya tidak pernah kehilangan kepercayaan. Hari ini saya bersyukur kepada Tuhan, karena Ia telah mendengar doa saya,” tutur Wanggai.

Hidup Pengungsi Serba Sulit

Sedikitnya 2000 orang asal West Papua yang mengungsi di PNG secara umum hidup dalam situasi serba susah. Mereka tinggal di sepanjang jalur kota di lima kamp berbeda di Port Moresby.

Lantaran tak dapat dipulangkan kembali ke negaranya sebagaimana pernah dijanjikan oleh pemerintah sebelumnya, perwakilan dari kamp-kamp pengungsian minta ke Konferensi Waligereja Katolik PNG dan Kepulauan Solomon untuk bantu mengurangi berbagai kesulitan yang sedang dihadapinya, seperti ketahanan pangan, air bersih, pendidikan, tanah, perumahan, dan hal lainnya.

CPNG merespons kebutuhan mereka berdasarkan nilai kemanusiaan. Ini merupakan salah satu Ajaran Sosial Katolik, dimana CPNG berbicara tentang martabat manusia. Gereja dan negara memiliki peran dalam mewujudkannya. Sehingga, dengan beasiswa itu, anak muda West Papua dapat menemukan pekerjaan untuk mendukung keluarga mereka dalam kehidupan sehari-hari.

Pewarta: Yance Agapa

Editor: Markus You