SD Rintisan Misionaris Belanda di Wagomani Diyai Terlantar

0
2760

Oleh: J. Sudrijanta, SJ)*

Kondisi pendidikan di Papua apalagi di pedalaman sangat parah. Pendidikan di SD YPPK (Yayasan Pendidikan dan Persekolahan Katolik) Wagomani hanya salah satunya. Meskipun YPPK berada di bawah naungan keuskupan, pendidikan anak-anak di SD ini tidak terurus. Demikian pengamatan penulis saat berkunjung ke SD YPPK Wagomani pada 15 Juni 2019.

SD ini berada di depan gereja paroki Wagomani. Paroki Wagomani baru berumur satu tahun, pengembangan dari paroki Diyai, Distrik Tigi Barat, Kabupaten Deiyai. Jumlah umat sekitar 2000 jiwa.

Wagomani bisa dicapai sekitar 8 jam dari kota Nabire melalui jalur darat atau 90 menit dari pusat kota Waghete. Sekitar 60 menit perjalanan masuk melewati jalanan berlumpur dengan banyak kubangan. Lokasi berada sektitar 1.900 mdpl dengan suhu terendah di pagi hari sekitar 12-14 derajat celcius.

Menurut Bapak Willem, seorang pewarta Paroki Waghete yang menemani perjalanan penulis, SD YPPK Wagomani termasuk SD rintisan misionaris Belanda sejak 1910. Berada di atas lahan 600 m persegi. Menurut web dinas pendidikan dasar dan menengah, murid SD YPPK Wagomani per 31 Agustus 2018 berjumlah 106 anak dan dibagi dalam 6 romobongan belajar. Guru yang tersedia hanya 2 orang.

Pada tahun 2019 ini, menurut Pater Lambert Kopong, Pr, pastor paroki pertama di paroki Wagomani yang ditemui penulis, ada 13 guru termasuk kepala sekolah. Sampai saat ini SD ini tidak berjalan baik karena 13 guru, termasuk kepala sekolahnya, jarang masuk. Mereka semua adalah guru ASN/PNS, warga asli Papua dan tinggal di Wagomani.

“Sekolah-sekolah di pedalaman banyak yang kosong karena kebijakan pemerintah keliru: menempatkan guru-guru PNS/ASN di daerah asalnya sendiri. Mereka semaunya sendiri dan tidak ada orang yang berani menuntut mereka. Kalau ditempatkan di luar daerahnya barangkali ceritanya akan lain,” tandas Pater Lambert dengan kecut.

Untuk menyelamatkan masa depan anak-anak ini, Pater Lambert membuka asrama untuk memfasilitasi pendidikan bagi mereka. Jam pelajaran di SD seharusnya mulai jam 7.15. Namun sering kelas kosong karena tidak ada guru yang masuk. Sebagai gantinya, pelajaran dilangsungkan di asrama. Mereka diajar membaca, menulis, menghitung, dan bermain.

Asrama mulai dibuka Januari 2019. Dihuni 28 anak laki-laki, dari kelas 1-6. Kapasitas 50 anak. Pembelajaran di ruangan dilaksanakan secara massal. Pendamping hanya satu guru yang khusus didatangkan dari NTT. Saat penulis berkunjung ke asrama ini, bapak guru ini baru tiba seminggu sebelumnya. Satu guru mengajar semua anak. Metodenya dibuat grouping dan kakak yang lebih besar mentransfer ilmunya ke adik-adiknya yang lebih kecil.

Membuka asrama bagi anak-anak Wagomani ini sangat penting. Pater Lambert memberikan beberapa alasan konkret.

Pertama, Anak-anak asrama ini menjadi kunci di sekolah. Kalau mereka tidak masuk sekolah, teman-teman mereka di luar juga tidak masuk.

Kedua, sebelum adanya asrama, anak-anak biasanya hanya bermain dari pagi sampai sore. Orang tua membiarkan mereka bermain-main sepanjang hari. Mereka tidak diajari untuk ikut membantu berkebun atau beternak.

Ketiga, pada hari-hari biasa, sering anak-anak kecil diangkut mobil ke Waghete. Mereka tidak sekolah. Salah satu kemungkinannya adalah orang tua memperalat anak-anak mereka untuk belanja ke Waghete mengingat transportasi untuk anak gratis. Sedangkan orang dewasa harus membayar Rp 50 ribu.

Masyarakat adat Wagomani masih tergolong konservatif. Semua warga dilarang makan sirih, dilarang minum minuman keras, dilarang memakai anting-anting bagi laki-laki, perempuan dilarang memakai rok atau celana mini. Kepala adat masih punya pengaruh di masyarakat. Oleh karena itu, masih ada harapan bahwa anak-anak ini bisa diselamatkan dengan dukungan kepala adat. Demikian penjelasan Pater Lambert.

Asrama dikelola dengan sangat efisien dan efektif. Hanya ada satu guru sekaligus sebagai pendamping asrama. Pater Lambert mengaku digaji oleh Kesukupan Timika dan gajinya dialihkan untuk guru yang mengajar di sekolah tersebut.

“Saya digaji Rp 2,5 juta dari Keuskupan Timika. Gaji ini saya alihkan untuk satu guru yang saya datangkan dari Flores,” ungkapnya.

Makanan diurus oleh orang tua murid dan umat paroki Wagomoni dengan cara gotong royong. Tiap hari sudah ada pembagian siapa yang masak dan siapa yang menyediakan bahan makanan seperti nota dan sayur.

“Saya mulai memelihara 6 bebek. Itu semua sumbangan umat. Sekarang sudah mulai bertelur. Saya berharap minimal 2 kali seminggu anak-anak ini bisa makan makanan yang bergizi,” ujar pastor kelahiran NTT ini.

Saat ditemui oleh penulis di ruang tamu pastoran, Pater Lambert membuat penulis tercengang saat bercerita begini. “Pejabat pemerintah banyak juga yang berasal dari sini. Potensi anak-anak di sini tidak berbeda dari anak-anak di lain daerah. Tetapi kalau tidak ada pendidikan yang baik, apa jadinya Papua di masa depan?”

Pater Lambert ditemani seorang guru sedang memulai karya besar bukan untuk menyelamatkan pendidikan anak-anak di Wagomani. Dengan segala keterbatasan sarana dan prasarana ia berbuat sesuatu yang sangat vital untuk Papua di masa depan yang lebih baik.

“Kalau ada yang tergerak menyumbang buku-buku pelajaran atau bacaan, kami akan senang menerimanya.” Begitu Pater Lambert menutup perbincangan kami yang berlangsung sekitar 2 jam dari pukul 14.00 WIT.

)* Laporan jurnalistik ini dilaporkan oleh J. Sudrijanta, SJ. Ia adalah Rektor SMA YPPK Adhi Luhur – Kolese Le Cocq d’Armandville Nabire