Melihat dari Dekat Kolam Garam di Kabupaten Intan Jaya

0
7679

Anak-anak sekolah di Distrik Wandai, Kabupaten Intan Jaya, Papua, mungkin bingung jika diajarkan peribahasa “Asam di gunung, garam di lautan.”

Ya, karena di tempat mereka, yang berbukit-bukit dan jauh dari itu, tidak ada pohon asam. Sementara garam justru mudah didapat karena ada sebuah kolam garam yang sejak zaman nenek moyang sudah dimanfaatkan untuk membuat garam oleh masyarakat setempat.

Di Dusun Jae, Kampung Sabisa, Distrik Wandai, terdapat kolam garam yang dalam bahasa lokal biasa disebut Moe Kumu. Kumu artinya garam, dan Moe adalah nama sungai yang mengalir di dekat kolam garam ini.

Sejatinya, kolam garam yang berbentuk elips dan berukuran sekitar 5×2 meter ini dialiri oleh mata air di bawah batu besar dekat kolam. Meski debit airnya kecil, namun alirannya tidak pernah mati sepanjang tahun.

Baca Juga:  Hilangkan Rasa Takut, Pj Bupati dan Rombongan Jalan Kaki di Sekitar Kota Sugapa

Konon, sejak dahulu kala garam dari Wandai sudah dimanfaatkan bukan hanya oleh masyarakat Wandai saja, tapi juga beberapa suku di kawasan Pegunungan Tengah, Papua. Bahkan pencari garam juga datang dari Wamena, meski mereka harus menempuh perjalanan kaki beberapa hari.

ads

“Sebelum mengenal uang, masyarakat biasa ‘baku tukar’ (barter) garam dengan anak babi,” jelas Kepala Distrik Wandai, Yeskiel, baru-baru ini.

Memang, tidak mudah untuk mencapai lokasi kolam garam ini. Dari ibukota kabupaten, Sugapa, kita harus naik ojek sekitar dua jam sampai di Sungai Kemabu. Nah, di sungai Kemabu ini hanya ada jembatan gantung selebar 1 meter dan belum bisa digunakan untuk menyeberangkan kendaraan bermotor. Lalu, dari jembatan ini, kita harus berjalan kaki sekitar 2-3 jam tergantung seberapa lama bila mampu berjalan tanpa sering berhenti.

Baca Juga:  Meningkatkan Kenyamanan Masyarakat, Pj Bupati Intan Jaya Kunjungi Pasar Borong Jualan Mama-mama

Selain di Homeyo lama atau Kampung Sabisa, kolam garam juga ada di Desa Ugimba dan Hitadipa, Kabupaten Intan Jaya. Mata air yang keluar di tempat ini juga mengandung air garam dari dalam tanah, yang telah dmanfaatkan masyarakat sejak zaman dulu.

Masyarakat mengolah air garam tersebut dengan cara tradisional. Sebuah drum bekas dibelah menjadi dua. Di masing-masing belahan drum itu diisi dengan air kolam garam, kemudian dipanaskan dengan cara dibakar dengan kayu yang diletakkan di bawah drum. Sambil dipanaskan, air garam diaduk-aduk terus hingga menggumpal.

Baca Juga:  Ini Hasil Peserta yang Lulus Seleksi Administrasi Formasi K2 Kabupaten Intan Jaya

Pada zaman dahulu, sebelum ada drum, masyarakat biasa menggunakan batu untuk memasak air garam ini.

Setelah itu, sedikit-sedikit dipindahkan ke dalam tempat khusus yang dibuat dari daun pandan atau kelapa hutan. Setelah dibungkus lalu dikeringkan di atas api. Beberapa hari kemudian, garam pun jadi dan siap dipasarkan.

Bila bungkusan daun pandan dibuka, garam di dalamnya wujudnya seperti batu. Bagian bawahnya tinggal digerus, lalu jatuhlah butiran-butiran garam yang berwarna putih, rasanya asin, dan bisa segera dicampurkan ke dalam masakan. (dari berbagai sumber)

Sumber: Intanjayakab.go.id

Artikel sebelumnyaJambore PKK Jalin Silaturahmi Pengurus
Artikel berikutnyaPemkab Intan Jaya Kembali Raih Predikat WDP