Nelson Silak: Anak Papua Harus Jadi Pelaku Usaha

0
4723

YAHUKIMO, SUARAPAPUA.com — Konferensi Badan Pengurus Daerah (BPD) Kamar Adat Pengusaha Papua (KAPP) kabupaten Yahukimo yang pertama bertujuan agar orang Papua bisa menjadi tuan di atas tanah sendiri di bidang ekonomi.

Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) KAPP Yahukimo, Nelson Silak menegaskan, supaya anak Papua harus menjadi pelaku usaha dan bisnis, sebab dengan demikian dapat menciptakan lapangan pekerjaan dan menjadi tuan di negeri sendiri.

“Kegiatan tujuannya tidak banyak. Kami mau semua pengusaha kecil maupun besar yang ada di kabupaten ini dikelola oleh anak asli Yahukimo. Kemudian bersaing dengan pengusaha lain, itu tujuan utama kami,” kata Nelson di Dekai, Rabu (3/7/2019).

Ia menjelaskan, panitia melakukan pencarian dana untuk mendukung terlaksananya kegiatan konferensi ini dengan cara jual pinang asli Yahukimo.

“Kami mau hasil kekayaan yang ada di Papua khususnya Yahukimo bisa dijual oleh orang asli itu sendiri, sehingga usaha-usaha kecil mulai penjualan pinang, pertambangan rakyat dan lain sebagainya yang ada di tanah ini harus kita yang menjadi pelaku usaha itu sendiri,” ungkapnya.

Sementara itu, Ismail Keikera, ketua panitia pelaksana yang juga ketua Dewan Adat Momuna (DAM) mengatakan, setelah diberi kepercayaan untuk menjadi panitia, pertama kali pinang menjadi sumbangan pertama untuk mencari dana.

“Bahkan pinang kami menjual demi menunjang kegiatan ini. Jadi, sedikit saya memaknakan, pinang ini saya yang tanam di depan rumah saya. Begitu saya ditunjuk untuk jadi panitia, saya tidak banyak bicara, saya hanya bawa pinang dan uang 500 sebagai modal awal,” katanya.

Musa Haluk, ketua KAPP Pusat, usai menerima pinang dari panitia konferensi, mengatakan, ekonomi orang asli Papua harus kita bangkitkan bersama-sama.

“Ini di atas tanah kita. Leluhur kita sudah wariskan untuk generasi yang ada sekarang. Kita harus bangkit mulai dari ekonomi. Jadi, terima kasih banyak, selanjutnya akan kita bahas dalam kegiatan besok,” kata Haluk.

Pewarta: Ardi Bayage
Editor: Arnold Belau