Dari Metu Debi ke Jayapura

0
2735

Oleh: Andy Tagihuma)*

SEJAK berabad-abad lalu, Tabi yang berada di bibir lautan Pasifik memiliki pemandangan yang indah.

Panorama alam berbukit-bukit mengundang para pelaut yang melewati utara Papua tertarik untuk singgah sejenak. Keindahan Tanah Tabi itu tercatat dalam penggalan catatan harian Pdt. Bink, “Semua musafir yang mengunjungi Teluk Yotefarau menyatakan kagum akan keindahan alamnya… kesan yang sama telah saya dapatkan tahun yang lalu, ketika mengadakan kunjungan yang singkat. Dan kini, setelah memasuki teluk itu dan kemudian dari dekat berkenalan dengan bagian dalamnya, saya harus mengatakan, “Ya, benar Teluk Yotefarau dan terutama teluk bagian dalamnya, menyajikan pemandangan yang indah.”

Pelaut Eropa yang melakukan ekspedisi ke Samudera Hindia, beberapa diantaranya melewati Papua di antaranya, Jorge de Meneses pada 1524, Alvaro Saavedra 1528, Grijalva Y Alvarado 1537 dan Inigo Ortiz de Retes 1545. De Reteslah yang kemudian memberikan nama Nova Guinea, ia merujuk pada Guinea di Afrika, karena kemiripan fisik masyarakat di sepanjang utara Papua.

Khusus untuk Tanah Tabi, pelayar berkebangsaan Prancic Louis Antonie Baron de Bougainville lah yang merapat ke teluk Imbi tahun 1768. Saat memasuki Teluk Imbi, tampaklah Gunung Dafonsoro (Robong Holo) yang tinggi menjulang dan tampak angker. Bougainville lalu menamakannya Cyclop yang diambilnya dari epik Yunani yang mengisahkan tentang Cyclops Dewa bermata satu, anak Gaia (Bumi) dan Uranus (langit). Cyclops memiliki tiga saudara yang bekerja sebagai pandai besi untuk Dewa Olympia, pembuat halilintar untuk Dewa Zeus, dan pembuat Trisula untuk Dewa Poseidon.

Seorang pelaut bangsa Prancis Jules Sebastian Cesar Dumond d’Urville tiba di Teluk Imbi pada 12 Agustus 1827 dangan kapal layarnya yang bernama Astrolabe. Ia masuk dan berlabuh di Teluk Imbi. Dumond menamakan teluk yang indah ini, Humboldtbaai sebagai pengghargan pada sahabatnya, FH Alexander Baron von Humboldt yang terkenal dalam perjalanan di tahun 1799-1805 melalui Amerika Selatan-Tengah.

Willem Doherty, seorang peneliti jenis-jenis hewan berkebangsaan Inggris menyinggahi teluk Humboldt pada 1892. Ia melakukan perjalanan ke Danau Sentani dan membuat catatan tetang beberapa jenis hewan di sekitar Danau Sentani. Di tahun berikutnya,  1893, G.L. Bink, seorang misionaris, tiba di Metu Debi, selama hampir tiga bulan. Ia melakukan observasi dan perjalanan ke Danau Sentani.

J.M. Dumas, seorang pedagang, tiba di Metu Debi pada 1900. Ia kemudian membuka dagangannya dan menetap di pulau Debi. Dumas menerima burung Cenderawasih yang sudah diawetkan. Selama 1900-an, hampir 1000 lebih Cenderawasih dikirim ke Eropa. Di antara 1908-1912, pemerintah Nederlands India atau Hindia Belanda membuka Posthouder di Pulau Debi dan menempatkan Tuan P Windhouwer, waktu itu Neiuw-Guinea bagian utara masuh berada di bawah kekuasaan Residen Ternate dengan asisten Residennya berkedudukan di Manokwari.

Pemerintahan awal di Jayapura dimulai saat diterbitkan Besluit atau Surat Keputusan Pemerintah Hindia Belanda No. 4 tanggal 28 Agustus 1909. Surat Keputusan ini berisi tentang diperbantukannya satu detasemen militer kepada Asisten Residen Noord Nieuw-Guinea di Manokwari.

Sebagai tindak lanjut Surat Keputusan tersebut, pada 28 September 1909, Kapal Perang Hr. Ms EDI masuk Teluk Imbi dan mendaratkan penumpangnya di muara Kali Anafree. Sebuah detasemen militer di bawah pimpinan Kapten Infanteri FJP Sachse yang terdiri dari empat perwira, 80 tentara, 60 pemikul barang, beberapa pembantu dan istri-istri serta angkatan bersenjata sebanyak 290 orang. Setelah mendarat, mereka segera menebang pohon-pohon kelapa untuk membangun bivak. Pohon-pohon kelapa yang ditebang diganti rugi kepada pemiliknya sebatang dihargai 40 ringgit (atau 40*f 2,50 = f 100/seratus gulden/rupiah).

FJP Sachse menamakan teluk yang melengkung ini Hol (lengkung), dan land (tanah). Jadi, Hollandia artinya tanah yang melengkung atau tanah, tempat yang berteluk. FJP Sachse melihat geografi kota Jayapura yang hampir sama dengan garis pantai utara negeri Belanda, ia memberi nama yang sama dengan Hollandia di Belanda.

Nama yang baru diberikan itu diproklamirkan Kapten KNIL FJP Sachse pada 7 Maret 1910. Dengan diresmikannya nama ini, maka dimulainya pembangunan perumahan dan tempat kerja (pos pemerintah) di Pulau Debi yang kemudian ditutup dan dipindahkan ke Hollandia –saat ini kota Jayapura.

Pindahnya aktivitas ke Hollandia tidak membuat pulau Debi sepi. Pada 1913, Pendeta FJ van Hasselt membuka gereja dengan sekolah di Pulau Debi. Pembukaan sekolah ini menjadi salah satu gerakan penyebaran misionaris yang semakin jauh ke Tanah Tabi.

Di masa Perang Dunia II, Jayapura menjadi tempat strategis bagi Amerika dalam melancarkan strategi lompat katak dalam melawan Jepang. Saat itu, Abepura menjadi pusat rumah sakit terbesar di Pasifik. Kini beberapa rumah kinstreng (rumah bundar) yang tersisa masih bisa kita lihat di jalan samping Universitas Cenderawasih, di komplek militer Jayapura dan Ifar Gunung.

Selain bangunan tersebut, beberapa tempat masih menggunakan nama yang diberikan saat Perang Dunia II, seperti Base-G (Basis Militer koordinat G), Army Post Office (APO), DOK II sampai DOK XVIII.

Usai perang, Residen JP Van Eechoud membuka sekolah Bestuur di Makanwai (Kampung Harapan). Di sana, ia menganjurkan dan meminta Sugoro sebagai Direktur Sekolah Bestuur untuk mempersiapkan orang Papua menduduki jabatan dalam pemerintahan.

Selain Sekolah Bestuur, di Kampung Harapan juga dibangun Sekolah Pertanian. Di tahun 1944-1946, dataran Makanwai (Kampung Harapan) sering disebut Kota NICA (Nederlandsch Indië Civiele Administratie atau Netherlands-Indies Civiele Administration) dan menjadi ibu kota Keresidenan Nieuw-Guinea. Kemudian pada Maret 1946-1951, Kota NICA dipindahkan ke Hollandia Binen (Abepura), di bekas komplek Rumah Sakit Armada ke-VII. Hollandia Binen kemudian berganti nama menjadi Kota Baru.

Nama Kota Jayapura, jaya (menang) dan pura (kota) sekarang ini, berawal dari Hollandia, yang berarti daerah berbukit-bukit dan berteluk di masa pemerintahan Belanda dan sebagai ibu kota “Dutch New Guinea”. Setelah Indonesia masuk pada 1 Mei 1963, sejak saat itu nama “Hollandia” menjadi “Sukarnopura” (1969-1975), dan berakhir di Kota “Kemenangan” Jayapura.

)* Penulis adalah pengelola rubrik Jendela Papua di Suara Papua