Penempatan Anggota TNI OAP di Wilayah Konflik Perlu Dipertimbangkan

Keluarga masih mempertanyakan tertembaknya Prada Usman Helembo, sementara kematiannya dianggap janggal.

0
1989

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Nathan Pahabol, Anggota DPRP dari Daerah Pemilihan (Dapil) V, Yahukimo, Yalimo dan Pegunungan Bintang berharap agar pihak Kodam XVII/Cenderawasih ketika melakukan penempatan pasukan TNI orang asli Papua di daerah konflik perlu dipertimbangkan dengan baik.

Peryataan Nathan Pahabol berkaitan dengan tertembaknya anggota TNI atas nama Prada Usman Helembo asal Yahukimo Papua di Kampung Yuguru, Distrik Mebarok Nduga Papua pada, Sabtu (20/7/2019).

Menurut Nathan, jika penempatan anggota TNI orang asli Papua di daerah konflik atau daerah merah di Papua, maka akan timbul kecurigaan diantara anggota dan bisa menimbulkan hal-hal yang tidak diinginkan.

“Walaupun anggota TNI sudah melakukan sumpah janji pengapdian, tetapi diantara internal  anggota TNI bisa ada kecurigaan. Oleh sebab itu dalam konteks ini KKB harus bertanggung jawab, jika KKB tidak jelas maka TNI bertanggung jawab,” kata Nathan kepada suarapapua.com di Jayapura, Selasa (23/7/2019).

Bentuk pertanggungjawabannya kata Nathan tidak hanya mendatangi pihak keluarga, karena itu tidak akan mengobati luka hati keluarga, malah akan memberikan rasa trauma.

Pertanggungjabwan yang harus dilakukan lanjutnya adalah memberikan kejelasan tentang penyebab dan pelaku penembakan kepada keluarga, terutama untuk mengobati luka hati orang tua almarhum yang hingga hari ini belum terobati.

Selain itu katanya, kematian anggota TNI dan Polri di Tanah Papua yang statusnya tidak jelas akan memberikan trauma kepada orang asli Papua lain untuk melakukan tes atau mengapdi pada lembaga TNI/Polri.

Nathan juga mengakui bahwa sebelumnya orang tua almarhum Prada Usman Helembo mendatanginya guna menanyakan sebab kematian karena ditembak KKB.

“Mereka tanya lokasi kejadian ada beberapa anggota TNI, tetapi kenapa hanya Usman Helembo yang ditembak, bahkan kenapa anggota lain tidak mengalami luka-luka. Orang tua juga tanya jika pelaku betul KKB, sejauh ini kenapa mereka tidak mengaku.

Orang tua Usman yang tinggal di Ubahak Kabupaten Yahukimo sana tidak tahu yang namanya KKB atau KKSB, apakah warna hitam atau putih, bentuknya bagaimana itu mereka tidak tahu, maka ini diminta untuk harus ada kejelasan,” pungkasnya..

Sementara itu Soleman Itlay, Tim Peduli Kemanusiaan untuk Nduga menyatakan bahwa tertembaknya Prada Usman Helembo menuai kejanggalan yang mendalam, terutama dari tempat kejadian perkara dan pada saat kejadian, termasuk kepada kelompok Egianus Kogeya yang disebut sebagai KKSB untuk memberikan peryataan kepada publik dan keluarga jika betul sebagai pelaku penembakkan seperti yang diberitakan selama ini.

Menurutnya, berdasarkan informasi yang ia terima dari warga Nduga bahwa TKP yang disampaikan Kapendam XVII/Cenderawasih, Kolonel Inf Muhamad Aidi terkait lokasi kejadian adalah di jembatan Yuguru, Lombrik maka kata Soleman hal itu tidak jelas.

Apakah Lombrik yang dimaksud adalah distrik atau dusun, sesunguhnya kali Yuguru itu berada di wilayah administrasi Paro, sehingga soal lokasi menunjukan kejanggalan.

Jembatan Yuguru itu jelas Soleman, jembatan yang menghubungkan wilayah antara distrik Lombrik dan Keneyam, ibu kota Kabupaten Nduga. Jaraknya juga sekitar 100 km dan pejalan kaki bisa menghabiskan 2 hingga 3 hari perjalanan.

Selain itu, beberapa pemberitaan menyebutkan bahwa KKSB melakukan penyerangan dari atas perbukitan, padahal kata Soleh, jembatan Yuguru itu daerah dataran rendah, sehingga tidak logis jika dilakukan penyerangan dari perbuktikan.

Katanya, keluarga almarhum Prada Usman juga masih mempertanyakan soal kesigapan rekan-rekan anggota TNI yang ketika itu berada di lokasi kejadian bersamanya.

“Hal ini penting untuk memastikan siapa pelaku sebenarnya,” pungkas Soleman.

Pewarta: Elisa Sekenyap