Mahasiswa Puncak Jaya Kecewa Janji Bupati Soal Asrama di Nabire

0
2362

NABIRE, SUARAPAPUA.com — Ikatan Pelajar Mahasiswa Puncak Jaya (IPMPJ) di kota studi Nabire, kecewa dengan janji bupati Puncak Jaya, Yuni Wonda soal asrama yang tidak pernah diperhatikan dan kini rusak total.

Yemison Weya, ketua asrama mahasiswa Puncak Jaya di Nabire, mengatakan, ia bersama teman-temannya yang sedang belajar di Nabire tidak butuh janji, tetapi bukti nyata karena sudah sekian tahun belum ada perhatian dari pemerintah daerah Puncak Jaya.

“Bukan hanya soal asrama saja, tetapi yang menjadi kami punya hak juga tidak pernah dibayar. Kami ini sama seperti anak ayam yang kehilangan induknya,” kata Weya kepada suarapapua.com, saat jumpa pers di asrama mahasiswa Puncak Jaya, Kalibobo, Nabire, Kamis (1/8/2019).

Baca Juga:  KNPB Bantah Terlibat Pembakaran dan Pengrusakan Ruko Saat Iring-Iringan Jenazah Lukas Enembe

Fasilitas asrama seperti listrik, air bersih, jendela dan pintu, banyak yang rusak.

“Kami sudah gali sumur di belakang, karena tidak ada air bersih yang tersedia, listrik juga sudah mati beberapa tahun lalu, jadi kami sambung kabel dari tetangga di sebelah,” tuturnya.

ads

Beberapa kaca jendela sudah rontok, ditambah dengan pintu dan plafon rumah juga rusak total. Menurut Yemison, mereka akan tagih janji bupati Yuni Wonda beberapa tahun lalu.

Baca Juga:  Kepala Dinas Pendidikan Dogiyai Tekankan Kerja Kolaborasi Demi Menyiapkan SDM Papua

“Bupati tidak pernah turun dan berkunjung di asrama ini lagi, kami pernah masukan proposal di Pemkab Puncak Jaya, tetapi tak dijawab sampai sekarang.”

Terpisah, seorang mahasiswa USWIM Nabire, Yas Indiri mempertanyakan apa bedanya mahasiswa lain dengan yang di Nabire, hingga Pemkab Puncak Jaya tidak mempedulikan lagi.

“Untuk bayar listrik, beli beras dan kebutuhan lainnya, kami biasanya mengorbankan uang kuliah serta sumbang-sumbang untuk beli,” ujarnya.

Baca Juga:  127 Orang di Kapela Yogonima Buta Huruf, Gereja Diminta Prioritaskan Pembangunan SDM

Hal ini kata dia, terpaksa dilakukan tidak pernah ada perhatian yang serius dari pemerintah Puncak Jaya dan dibiarkan begitu saja. “Kami malu setiap kali orang lewat di depan asrama, biasa jadi bahan cerita,” pungkasnya.

Pewarta: Yance Agapa

Editor: Arnold Belau

Artikel sebelumnyaLegislator Papua: Bongkar Kapal di Tengah Hutan Nabire!
Artikel berikutnyaPernyataan Sikap FPR dan MAM di Bali Terhadap Krisis Kemanusiaan dan HAM di Nduga