Menteri PPA akan Mendorong Anak-anak Pengungsi Nduga Sekolah

0
974

DEKAI, SUARAPAPUA.com — Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA) Indonesia, Yohana Yembise mengatakan, pihaknya akan mendorong agar anak-anak pengungsi Nduga bisa kembali bersekolah sebagaimana mestinya.

Hal tersebut dikatakan Yohana usai gala dinner FBLB di gedung pertemuan Aithousa GKI Betlehem Wamena, baru-baru ini.

Dikatakan, hal tersebut memang menjadi tugas dan tanggung jawab pemerintah daerah untuk melihat anak-anak sekolah dari Nduga, sehingga kementerian PPA siap mendorong di tingkat pusat.

“Saya sudah menulis surat ke kementerian pendidikan supaya anak-anak yang mengungsi dari Nduga maupun yang ada di daerah lain tetap harus bersekolah, karena itu tugas saya berkoordinasi dengan kementerian terkait,” kata Yohana.

Selain itu, pihaknya juga berencana mengunjungi anak-anak yang mengungsi di Jayawijaya untuk melihat kondisi secara langsung.

“Saya mendapatkan laporan dari staf khusus saya bahwa di Jayawijaya anak-anak pengungsi Nduga masih banyak yang belum sekolah. Sehingga ini menjadi catatan saya, dan ketika ke Jakarta, saya akan koordinasi dengan kementerian terkait,” katanya.

Sementara itu, Ketua Tim Relawan Pengungsi Nduga, Ence Floriano melalui pesan singkat kepada media ini mengatakan, itu hak anak-anak untuk tetap sekolah, sehingga tanggung jawab negara adalah menyiapkan sekolah yang nyaman bagi anak-anak.

“Tetapi menteri pemberdayaan perempuan pun harus memikirkan soal peran kementerian PPA itu sendiri. Ada banyak perempuan dan anak jadi korban. Apa yang bisa dibuat oleh kementerian PPA? Pengungsi butuh trauma healing dan pendampingan. Jadi, bukan hanya bantuan makanan. Kalau hanya bantuan makanan terus, sampai kapan mereka tenang?,” kata Floriano.

Persoalan perempuan dan anak yang jadi korban konflik, menurut Floriano, kementerian PPA mesti mendorong untuk mendesak pemerintah agar mencari jalan keluar terhadap konflik.

“Kalau kirim terus pasukan, maka pengungsi akan terus jadi korban,” tutupnya.

Pewarta: Ruland Kabak
Editor: Arnold Belau