Tak Ada Pelayanan Kesehatan di Hogio Sejak 2017

0
916

DEKAI, SUARAPAPUA.com — Sejak tahun 2017 lalu, Puskemas pembantu (Pustu) di Distrik Hogio, Kabupaten Yahukimo, Papua, tak ada tenaga kesehatan. Akibatnya, masyarakat setempat tak pernah mendapat pelayanan kesehatan.

“Dari tahun 2017, masyarakat di distrik Hogio tidak pernah berobat ke Pustu karena tidak ada mantri,” kata Amos Lungki, kepala desa Dugumhad, kepada suarapapua.com di Dekai, Jumat (9/8/2019).

Amos mengungkapkan, selain tak ada mantri, kepala Pustu pun tak pernah ke tempat tugas untuk menjalankan kegiatan pelayanan kesehatan.

“Sudah tiga kali ganti, tetapi mereka tiga tidak pernah turun ke kampung. Kami tidak pernah dapat pelayanan kesehatan. Hidup kami hanya karena kuasa Tuhan,” ujarnya.

Eria Selak, salah satu kader di Pustu Hogio, menjelaskan, di distrik Hogio terdapat dua Pustu. Masing-masing Pustu Baikma dan Pustu Hogio. Di Pustu Hogio belum pernah ada kegiatan layanan kesehatan.

Ia juga membenarkan, telah beberapa kali pergantian kepala Pustu Hogio. Tetapi kepala Pustu tak pernah berikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat setempat.

“Kami kader Pustu Hogio ada lima orang. Kepala Pustu tidak pernah bawa turun obat, jadi kami tidak pernah layani pasien. Ada pasien yang sakit parah baru kita biasa rujuk ke Dekai.”

Selak menuturkan, jika ada masyarakat yang sakit, ia kadang minta stok obat ke Puskesmas Pasema. Untuk sampai di Puskesmas Pasema, ia berjalan kaki selama satu setengah hari.

“Kalau ada masyarakat yang sakit, saya biasa naik ambil obat di Puskesmas Pasema. Tetapi kadang stok obat di sana juga habis. Kalau habis, kita biasa tinggal saja, sampai kalau pasien itu umur panjang, biasa sehat, tetapi kalau umur pendek, Tuhan panggil. Ya, puji Tuhan, dalam dua tahun ini angka kematian tidak lebih,” jelasnya.

Amos dan Selak berharap, pemerintah daerah bersama dinas kesehatan agar tertibkan semua Pustu dan Puskesmas yang hingga sekarang tak ada tenaga kesehatan, agar masyarakat kampung bisa mendapatkan layanan kesehatan.

Pewarta: Ruland Kabak
Editor: Markus You