Mata Najwa, Mata Buta untuk (Nduga) Papua

0
5926

Oleh: Ianub Jr)*

Siapa yang tidak kenal dengan presenter terkemuka di muka bumi Indonesia, Najwa Shihab? Mata Najwa nama program talk show-nya mulai dikenal publik ketika ia meliput bencana tsunami Aceh tahun 2004.

Jika Anda menonton MetroTV saat tsunami Aceh berlangsung dan reda, Najwa selalu tampil di layar TV-nya Surya Paloh—Ketua Umum Partai Nasdem.

Sekarang ini, Najwa Shihab dikenal luas oleh masyarakat Indonesia. Ia berkali-kali menampakkan diri di layar kaca. Najwa Shihab menjadi salah satu idola masyarakat tidak terbilang usia dan profesi.

Saya yang dari kampung, tidak mempunyai listrik, memakai TV 90-an, dan mendiami di pegunungan Papua juga ikut meramaikan followers terakhir Najwa.

Ia juga termasuk otak penonton Criminal Minds, TV seri asal Amerika yang berfokus untuk menginvestigasi korban di TKP sampai akar-akarnya oleh FBI.

Dia tidak hanya mempunyai keterampilan baik sebagai pekerja di dunia jurnalis, tapi juga Najwa Shihab dikenal cerdas dan kritis saat menggali informasi. Riwayat kinerjanya sebagai jurnalisnya tidak bisa menggampangkan begitu saja. Karena Najwa Shihab pernah menjadi reporter, anchor, sampai host program.

Saya tahu, dia pun dulu tayang (kalau kami Papuans bilang putar) di MetroTV, kini Najwa bermigrasi ke Trans7. Alasannya saya tidak tahu. Sekali lagi, saya ini dari dusun, tidak mengikuti baik kenapa ia pindah haluan.

Lantaran orang Papua dan saya sendiri sibuk dengan bantuan sukarela berupa berdoa kepada Tuhan, makanan dan material bagi orang-orang Nduga yang saat ini hidup jauh dari rumah asalnya. Jadi, tidak ikuti baik alasan Kak Najwa berpindah ke TV lain.

“Nduga” Papua yang sedang dalam keadaan ‘darurat manusia’ akhir-akhir ini. Masyarakat Nduga menghindari kontak bersenjata antara TNI/Polri dengan kelompok pro-kemerdekaan Papua—TPNB-OPM.

Menurut media asing bercabang Indonesia, BBC Indonesia meliput kalau anak-anak yang lahir selama konflik di Nduga, orang tuanya diberi nama sesuai dengan keadaan. Pengungsi; contohnya, adalah nama anaknya – ibu Jubiana Kogeya.

Dalam berita BBC yang berjudul Pengungsi Nduga, Papua: Perempuan yang bertaruh nyawa melahirkan anak di tengah konflik senjata melaporkan, “Karena melahirkan dalam hutan, dalam pengungsian, jadi saya kasih nama Pengungsi,” jawab Jubiana ketika ditanya alasan anak itu dinamai Pengungsi.

Lanjut, bayi laki-laki itu menangis di pangkuan ibunya. Napasnya berat, sementara badannya yang demam tanpa ditutupi sehelai kain pun.

“Jubiana Kogeya, tidak tahu arah untuk mencoba meredakan anaknya saat Kogeya menyusuinya, apalagi tidak ada setitik ASI keluar. Cerita menyebalkan. Oleh karenanya, mamanya, bayi itu dinamai Pengungsi,” (Ayomi, 5/8/19).

Media lain dari asing, Radio New Zealand, juga menaikkan berita langsung dari kelompok bantuan Tim Solidaritas untuk Nduga. Tim ini mengatakan sedikitnya 182 orang dari kabupaten tersebut meninggal karena kelaparan dan terkena penyakit di kamp-kamp pengungsian.

Efek dari konflik Nduga juga, anak-anak sekolah tidak bisa belajar dengan baik di sekolah. 3.457 anak di Nduga tidak bersekolah seperti diberitakan Tabloid Jubi, media lokal terkemuka di Papua.

Meskipun saya berada dalam dunia-berduka di Papua dan rangkaian kematian orang Papua dan merasa sayang kepada siswa/i Nduga yang tidak menimbah ilmu dengan baik, terutama “Nduga” di atas ini, saya tetap saja menonton acara favorit saya, yakni Mata Najwa.

Setiap kali saya menonton program Mata Najwa, dalam hati dan imajinasiku selalu bertanya-tanya, kapan Najwa Shihab angkat bicara dan topik tentang Papua? Terlebih khususnya isu Nduga, Papua.

Dan karena Nana, panggilan akrabnya mencintai dunia literasi, apakah Kak Nana tidak ikut concern atau peduli dengan keadaan 3.457 anak sekolah – Nduga (tunas bangsa) yang tidak bersekolah akibat perbantahan senjata? Sampai tidak mau tahu dan tidak bicara di panggung Mata Najwa atau platform yang Kak Najwa miliki?

Komentar dan kritik tentang buku kiri beberapa minggu lalu dari Kak Nana sendiri bertepuk tangan bagi orang yang peduli dengan dunia literasi, termasuk saya. Saya tidak mau kalau serdadu Indonesia ini bermacam-macam dan buta warna tentang buku-buku. Jangankan menyita.

Kami dukung penuh selebritas Indonesia yang senang mengkritik pemerintah, seperti Kak Nana.

Sejak Kak Najwa juga mengkritik prajurit mengenai penyitaan buku-buku kiri di Indonesia, saya pun mau dengar kakak bicara tentang buku-buku sejarah Papua untuk diajarkan di setiap sekolah.

Paling tidak di sekolah-sekolah di kedua provinsi Papua dan Papua Barat agar saya dan pelajar-pelajar Papua mau tahu versi kami tentang sejarah Papua karena saya tidak belajar dan terima sejarah Papua yang sebenarnya di bangku TK-PT.

Karena saya pikir, konflik berkepanjangan di Papua adalah kesalahannya Jakarta dalam penyuapan sejarah Papua.

Saya berikan ilustrasi serupa agar lebih tahu tentang isu-isu Papua. Biasanya, menurut saya, anak abnormal/cacat lahir dari ibunya dikarenakan ada dua kemungkinan: kesalahan dalam perkawinan dan ibunya yang kena jatuh.

Nah, masalah Papua ini sama dengan gambaran di atas. Ibunya (Indonesia) telah salah dalam perkawinan. Otsus salah satunya. Kedua, ibunya kena jatuh menandakan bahwa di sana ada sejarah yang sebenarnya tidak mengungkapkan—sejarah Papua huru-hara—tidak mengajarkan di institusi-institusi dengan benar.

Ketidakadaan penjelasan dari keluarga itu sendiri mengenai sejarah dan silsilah keluarganya; akhirnya, lahirlah anak abnormal dan anak mati. Dalam hal ini, Papua, lahirlah masalah berkepanjangan hingga kematian orang Papua—slow genosida.

“Jakarta kasih kami (orang Papua) makanan (sejarah, kebijakan) yang kami tidak suka – berlainan. Sembunyikan yang sebenarnya dan menerangkan yang sesuka Jakarta.”

Seperti penulis ternama Papua, Pdt. Dr. Socrates Sofyan Yoman, salah satu bukunya, Integrasi belum selesai: komentar kritis atas Papua road map, 2010, dan Pdt. Dr. Benny Giay, Ph.D, penulis buku Pembunuhan Theys: kematian HAM di tanah Papua, 2006 yang selalu berkumandangkan di dalam buku-bukunya kedua tokoh bangsa Papua ini.

Lanjut ke Nana di atas, saya hanya tahu dan selalu mencatat buku harian saya tentang kapan jadwal putarnya acara Mata Najwa sehingga saya bisa mendengarkan perbincangan antara narasumber-narasumber yang dihadirkan di panggung dan melihat sedikit sumber-sumber informasi yang ditampilkan di layar TV oleh tim riset Mata Najwa sebelum perbincangan dimulai.

Bagian paling penting yang saya tunggu-tunggu adalah catatan khas dari Mata Najwa; membacakan take away atau ide utama pada prolog (acara pembukaan) dan epilog – akhir acara, di mana kesannya menggelitik hati orang.

Seakan kesannya Catatan Mata Najwa seperti: Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) ditemukan saat dua orang berpacaran atau berpasangan (sambil menyalahgunakan ‘narkoba’) lagi dalam kencan di hotel. Mereka sudah ketahuan, langsung diproses hukum. Masalah selesai, problem solved.

Masyarakat Papua menginginkan Kak Nana menggunakan hal yang sama seperti yang Kak Najwa pikir; meliput gempa dan Tsunami Aceh pada 26 Desember 2004 silam adalah paling berharga seketika Najwa bergabung di MetroTV karena Kak Najwa pernah menceritakan betapa kakak sendiri sulit melupakan liputan Tsunami Aceh.

YouTube Pijaru membenarkan kisah suka dan duka Nana saat peliputan di tsunami Aceh dan kakak bilang, “Mengerikan ketika melihat gelimpangan jenazah. Bau anyir jenazah itu masih teringat bahkan terkadang pun masih melekat di ingatan. Saya baru betul-betul melihat di tengah bencana yang dahsyat,” kisahnya Najwa Shihab menceritakan di Pijaru.

“Saya rasanya tidak pernah berada dalam situasi melihat orang yang rasanya betul-betul hilang harapan. Di situ saya belajar menjadi wartawan yang lebih peka, lebih punya empati, dan memahami apa yang dilalui oleh orang-orang yang saya lihat,” kata Najwa Shihab dan diilustrasikan ke dalam bentuk animasi oleh Pijaru.

Kita mendengar kisah Nana di Aceh ini menyayangkan dan turut berduka cita. Dan tentunya orang-orang yang punya naluri tidak terima hal-hal yang mengorbankan manusia. Kematian manusia Aceh dan Papua hanya event yang beda.

Orang Aceh mati karena tsunami, sedangkan manusia Papua mati karena sejarahnya. Orang Aceh meninggal karena bencana alam, sedangkan orang Papua meninggal karena sistem negara—Indonesia.

(catatan: dalam kematian orang Aceh, fokus hanya pada korban gara-gara tsunami dan ini tidak terhitung dengan korban orang Aceh pada GAM vs serdadu Indonesia dan korban di luar tsunami)

Karena Kak Najwa tidak bisa meliput TKP langsung di Nduga, Papua sejak Nana fokus ke program Mata Najwa, kedengarannya bagus jika Nana bawah suara Nduga di panggung Mata Najwa tentang bagaimana orang Papua merasa ‘mengerikan ketika melihat gelimpangan jenazah. Bau anyir jenazah itu masih teringat bahkan terkadang pun masih melekat di ingatan orang Papua’.

Kutipan ini menjadi familiar di telingah Nana karena kakak sendiri betul-betul melihat di tengah bencana yang dahsyat dengan tatap muka di Aceh.

Saya akui program Mata Najwa karena saya pikir lahirnya program ini bertujuan untuk bicara isu-isu sosial, politik, dan humanitarian, kemanusiaan di Indonesia. Alhasil, berdirilah Mata Najwa pada 25 November 2009. Kemudian tahun 2011, Mata Najwa mengangkat sekali topik Papua dan dinamakan “Damai Papua”.

Damai Papua dan Catatan Mata Najwa

Kala itu tema yang diangkat dalam Mata Najwa adalah Damai Papua. Prolog awal dari Najwa adalah dengan memberikan sebuah pernyataan sekaligus pertanyaan, di mana Najwa mengatakan dalam catatan tipikal Mata Najwa.

Mata Najwa dimulai seperti biasa dengan narasi pembuka oleh Najwa Shihab dengan narasi yang menggelitik, penuh tanya, dan menggelitik pemirsa untuk penasaran dengan pembicaraan yang akan disajikan di Mata Najwa. Catatan pembukaannya seperti berikut:

Penjajahan Belanda dan pepera (Penentuan Pendapat Rakyat) adalah penggalan sejarah Papua yang mendua, Di mana dalam benaknya, orang Papua bertanya, mereka anak kandung Belanda, Indonesia atau wilayah yang merdeka? 

Nyatanya Papua adalah anak Bangsa Indonesia yang murung berkerudung duka. Bapaknya (Bangsa Indonesia) tak juga mampu menjawabnya. Mulai dari pembangunan yang terlunta, membungkam isi hati, mengambinghitamkan gagasan, kekerasan negara, hingga bagaimana memanusiakan orang Papua. Inilah Mata Najwa Damai Papua. 

Begitulah prolog dari Najwa Shihab memulai acara Mata Najwa yang dikutip langsung di channel resmi Jaringan Damai Papua di YouTube.

Dalam perbincangan topik Damai Papua, Najwa mengundang empat narasumber, yaitu (alm.) Muridan S. Widjojo (peneliti politik lokal LIPI), Paskalis Kossay (Koordinator khusus Papua dalam parlemen), Jusuf Kalla (penggagas perdamaian Aceh), Farid Husain (utusan khusus presiden untuk Papua).

Akhirnya Mata Najwa diakhiri dengan pembacaan Catatan Mata Najwa oleh Najwa Shihab dan seperti biasa acara Mata Najwa pun diakhiri dengan alunan lagu bikinan Creed, One Last Breath. Sekarang lagu penutup diganti dengan, Efek Rumah Kaca – Seperti Rahim Ibu.

Api prahara di bumi Papua awalnya karena beda penanggalan sejarah belaka. Namun kita lupa. Kita alpa membangun Papua. Kita tutup mata kekerasan negara memenjara jadikan pelanggaran hak asasi berita sehari-hari di layar tivi. 

Otonomi khusus belum digarap serius. Sedangkan pendekatan keamanan hanya akan lahirkan pemberontakan. 

Ini bukan soal bintang kejora yang mendadak jadi huru-hara bersenjata. Ini soal keamanan manusia. Tentang bagaimana negara menjamin Papua. Mulai dari aman pangan, aman ekonomi, aman politik, sampai aman budaya. 

Meniru semangat Helsinki, dialog perlu dibangun sekali lagi, agar tak ada perasaan, Papua termarginalisasi di tanah sendiri.

Tema Damai Papua adalah satu-satunya tema yang dibahas mengenai peta politik dan konflik Papua dalam sejarahnya Mata Najwa di program talk show-nya. Selain itu, Kak Nana hanya mengundang satu-satu orang, tapi temanya bukan tentang Papua pada umumnya.

Pembahasan dalam Papua Damai itu terlihat bahwa tidak ada delegasi dari OPM dan intelektual Papua yang selalu memperjuangkan hak-hak sipil dan sejarah Papua.

Pembicara (alm.) Dr. Muridan S. Widjojo sendiri adalah pantas untuk bicara Papua. Ia adalah peneliti politik lokal LIPI dan pendiri Jaringan Papua Damai bersama koleganya, (Aam.) Pater. Neles Tebay, sementara pembicara yang lain adalah bersayap sama pemerintahan.

Kossay, contohnya, meski ia adalah orang Papua, ia adalah bagian dari pemerintahan. Jadi sulit untuk bicara yang aktual. Sekalipun ia bicara aktual, orang Papua pikir, ‘diluar’ tubuh memang kelihatan Papua, tapi ‘dalam pikiran’ masih ada mesin Jakarta.

Maksudnya, orang kantor (orang Papua) tidak cocok untuk bicara tentang sejarah dan politik Papua.

Orang pemerintahan seperti Kossay hanya layak bicara di jalur pembangunan infrastruktur dan penerangan yang berafiliasi dengan pemerintah Indonesia; umpamanya.

Kalau pembahas Jusuf Kalla dan Farid Husain adalah benar-benar ke-pemerintahan. Namun mereka tetap harus menyumbangkan seperti pejabat-pejabat petinggi negara.

Perekrutan Pembicara tentang Isu Papua

Pembicara tentang Papua, khususnya politik, sejarah, dan HAM di Papua, seharusnya mengekspresikan langsung murni dari orang yang tidak berbaur dengan Negara Indonesia dan atas nama negara kalau tidak mereka adalah pejabat tinggi negara dan bukan utusan-utusan kamuflase dari atasan.

Seperti orang-orang intelektual Papua, akademisi, aktivis, LSM, NGO, dan tentunya aktivis OPM/ULMWP akan jadi berfaedah untuk ikut bicara isu Papua secara keseluruhan.

Itulah kenapa suara minor dari orang Papua mengumandangkan jika media-media Indonesia mengangkat isu status politik bangsa Papua, media seharusnya mengundang pembicaranya adalah perwakilan orang Papua, yaitu United Liberation Movement for West Papua (ULMWP). Pendirian ULMWP salah satunya adalah mau empat mata dengan Jakarta.

Jadi, ULMWP adalah wakil orang Papua. Indonesia bicara dengan ULMWP soal status politik bangsa Papua. Gubernur, Bupati, DPRD di Papua itu bukan wakil orang Papua karena mereka suami-istri Indonesia.

Akhir dan Amanat

Seandainya Kak Nana meluangkan waktu untuk retrospeksi tentang bagaimana orang Aceh berpikir “tsunami membuat keluarga huru-hara dan tidak tahu harta benda hilang begitu saja, melahirkan anak di atas air, melihat orang membawa jenazah di atas tanahnya sendiri”.

Sekarang, hal tidak jauh berbeda juga sedang hadapi orang Nduga, Papua. Sebelum saya sebagai pencinta acara Mata Najwa mengungkapkan talk show Mata Najwa adalah Mata Buta untuk Nduga, dan pada umumnya Papua, adakah gerangan bicara dengan tokoh-tokoh Papua?

Saya ingin mendengarkan khas catatan-catatan Mata Najwa yang kedu kalinya. Barangkali, yang kedua ini menjadi pembasuh luka saya tentang pikiran berkepanjangan saya pribadi, menyangkut alpanya Mata Najwa dengan isu Papua.

Sejak Mata Najwa fokus lebih terhadap Novel Baswedan dan bulan Juli menggali lagi isunya dengan tema Sebelah Mata Novel Baswedan: Menagih Negara. Seluruh orang Papua juga punya mata untuk ‘menagih negara’ atas kelakuan ketidakmanusiaan di Tanah Cenderawasih.

Oleh karena itu, saya duluan promosikan judul tema sekiranya Kak Nana angkat bicara Papua di platformnya Najwa. Kira-kira seperti, “Seluruh Orang Papua: Menagih Negara”.

Novel Baswedan korban satu orang tapi masih hidup. Orang Papua korbannya banyak dan mati banyak. Terus, saat PLN mati blackout, tidak lebih dari 10 orang meninggal dan bawah ke meja Najwa. Sekarang hampir 182 orang Nduga, Papua meninggal, media nasional, Jokowi dan pemerintahannya, ILC dan Mata Najwa tidak peduli—orang Papua itu manusia, kah?

Pikir, maaf! Gagasan duta baca tentang pengiriman buku “HARI KIRIM BUKU GRATIS” oleh Kak Najwa sendiri, tidak sampai-sampai di Nduga, Papua. Setelah sampai pun, tidak ada orang yang mau baca: siswa/i sudah tiada. Mereka berkelana di hutan sambil mengubur keluarganya yang meninggal di hutan dan di tenda pengungsian.

Berkampanye pengiriman buku untuk siapa? Sambil bertagging #dutabacaIndonesia #gerakanliterasi #donasibuku #ayomembaca #pustakabergerak.

Kak Nana sendiri mengajarkan kita bagaimana mengkritik itu dan kita tidak harus menghafal nama-nama pejabat Indonesia kecuali kebijakan mereka. Epen, kah?

 

)* Penulis adalah Alumnus SMA N 2 Wanggar, Nabire, Papua

 

Referensi:
Damai Papua@MataNajwa: Jaringan Damai Papua
Pengungsi Nduga, Papua: Perempuan yang bertaruh nyawa melahirkan anak di tengah konflik senjata
At least 182 dead in Papuan displacement camps – aid group
Tahun ajaran baru, 3.457 anak di Nduga tak bersekolah
Kenang-kenang: Najwa Shihab dan Liputan yang Paling Dikenang