Italia, Ada Bola dan Nama Papua Disebut (Bagian I)

0
1352

Oleh: Andy Tagihuma)*

Pisa, menara miring yang berada di kota Milan, itu pertama kali saya mengenal Italia yang ditulis dalam buku anak-anak, Tujuh Keajaiban Dunia –proyek buku Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di tahun 1970-1980, yang dibagi ke seluruh Indonesia.

Torre pendente Di Pisa (Torre al Pisa), Menara Pisa, merupakan sebuah menara lonceng Katedral di kota Pisa, Italia. Menara ini merupakan bangunan ketiga yang berada di belakang Katedral, dibangun pada Agustus 1173. Setelah dibangun, menara yang tingginya 55,86 m dan beratnya mencapai 14.500 ton ini miring akibat tanahnya yang labil.

Galileo Galilei dan Leonardo da Vinci, dua orang ini turut menjadi bagian dalam pengenalan saya terhadap Italia, khususnya sumbangan mereka pada sains dunia. Galileo Galilei yang hidup diantara tahun 1564-1642, adalah pelopor di bidang pengamatan pada astronomi dan fisika modern. Ia juga yang menjadi orang pertama yang menggunakan teropong dalam pengamatan astronomi.

Da Vinci dalam buku biografi anak, selain pelukis yang menggambar Perjamuan Terakhir dan Mona Lisa, ia juga mendesain bentuk sketsa yang menggabungkan sepeda dan helikopter dengan sayap kelelawar. Ada pula desainnya berbentuk mesin perang kerucut, digerakkan oleh dua orang dengan sistem kayuh.

Buku lainnya mengisahkan tentang kehidupan di Venesia, kota yang penuh kanal, dan masyarakatnya “hidup di atas air”, kota yang eksotik. Lalu ada pula kisah tentang orang-orang Sisilia yang diceritakan oleh Mario Puzo dalam The Sicilian, The Godfather dan The Last Don.

Selain itu, tentunya saya mengenal sepak bola Italia, selain timnasnya, ada klubnya seperti Inter, AC Milan, Parma, Samdoria, Fiorentina, Jufentus.

Saya pernah menyaksikan kehebatan trio Belanda, Gullit, Basten dan Rijkaard di tahun 1988-1989 yang mengisi skuad AC Milan antara tahun 1987-1993. Ketika AC Milan menjadi Dream Team, dalam skuad ini terdapat Jean-Pierre Papin, Zvonimir Boban, Brian Laudrup, Marcel Desailly yang menjuarai Seri A dan Champions pada tahun 1994 –selain sederet prestasi lainnya di tahun 1987-1993. AC Milan kemudian diundang ke Indonesia untuk melawan Persib Bandung yang di tahun itu menjuarai Kompetisi Liga Perserikatan PSSI (Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia) 1993-1994.

Aura Dream Team AC Milan menarik perhatian PSSI untuk membangun kekuatan bola Indonesia di Asia Tenggara, maka dikirimlah tim anak muda yang direkrut dari berbagai klub untuk berguru ke Italia. Program PSSI tahun 1994-1995 ini dinamai tim Primavera dan Baretti. Persipura yang gemilang di PON (Pekan Olahraga Nasional) 1993, menyumbang sederet pemainnya untuk tergabung dalam tim Primavera dan Baretti, diantaranya Christ Leo Yarangga, Aples Tecuari, Elie Aiboy, Alexander Pulalo, Emmanuel Korey, yang terakhir Albert Yom dan Jimmy.

“Saya dan tim Primavera tinggal di Tavarone, salah satu kawasan dataran tinggi di Italia,” cerita Aples pada Abrar Firdiansyah dari panditfootball.com.

Tavarone merupakan sebuah desa kecil yang berjarak sekitar 65 km dari Bogliasco, markas Sampdoria di pinggiran kota Genoa, di bagian utara Italia, dan di kota yang sama ini terdapat tim Genoa C.F.C klub tertua di Italia yang didirikan tahun 1893. Aples bahkan pernah ditawari oleh salah satu klub di Swedia, namun pemain yang dikenal dengan “kayu datang, kayu patah” ini menolaknya dan memilih pulang ke Indonesia untuk bergabung dengan tim Pelita Jaya, Jakarta.

Saat ini sepak bola menjadi ikon bagi Papua –mengesampingkan olahraga lainnya. Tak heran bila anak muda penggemar sepak bola Italia akrab dengan penggalan-penggalan bahasa Italia, Fino Alla Morte, Forza Black Pearl. Kata ini muncul di dinding facebook saya, kala Persipura mengalami krisis kemenangan.

Anak muda Papua lebih banyak mengenal Italia dalam sepak bola, tidak hanya timnasnya, namun juga klubnya. Bahkan ada yang menambah nama mereka dengan nama para pemain Italia, atau nama klub di akhir atau di awal nama, misalnya Iwarai Pierro atau Iwarai Inter.

Bagi penggemar sepak bola Italia jangan ditanya soal hal lain, misalnya; Milan adalah kota mode atau menara pisa salah satu ikon kota Milan, atau tentang Venesia, apalagi tentang Galileo Gelilei, Leonardo da Vinci, Mario Puzo atau tentang Antonio Gramsci dan buku-bukunya. Tanya saja berapa harga pemain, pindah ke klub mana si A, dari negara mana asal si B. Dalam hitungan menit pasti mereka akan menjawab. Atau jangan pula tanyakan makanan selain pizza dan spaghetti, seperti risotto nasi lembek yang hampir mendekati bubur, atau kue tiramisu yang nikmat itu.

Antonio Pigafetta, sebuah nama yang menarik dari deretan nama penulis Italia. Bila Puzo lihai berkisah tentang kehidupan dunia mafia di Sisilia yang romantis, namun penuh intrik, Antonio Gramsci dengan filasafat hegemoni, Antonio Pigafetta, mengisahkan perjalanannya bersama Magellan mengelilingi dunia.

Konon, catatan perjalanan Antonio Pigafetta mengelilingi dunia bersama Magellan menjadi inspirasi William Shakespeare –sastrawan Inggris yang terkenal dengan Romeo and Juliet, Macbeth, Hamlet, Julius Caesar, King Lear. Ia menuangkannya dalam kisah naskah drama The Tempest yang diterbitkan tahun 1623.

The Tempest merupakan satu dari tigapuluh delapan naskah drama yang ditulis Shakespeare dengan tema sejarah, komedi dan tragedi. Naskah The Tempest diperkirakan ditulis antara tahun 1610-1611, terdiri dari lima babak yang diawali dengan sebuah kapal yang karam di pulau terpencil. Cinta, intrik dan penghianatan di pulau tersebut menjadi kisah yang menarik dalam The Tempest.

Prof. Theodore Cachey Jr dari Univeritas Notre Dame, Indiana Amerika mengatakan, Jurnal Pigafetta The First Voyage Around the World, 1519-1522: An Account of Magellan’s Expedition yang dieditnya merupakan representasi genre sastra pada masa itu yang diakui secara internasional.

)* Penulis adalah pengelola rubrik Jendela Papua di Suara Papua