Rasisme Melahirkan Fanatisme Ideologi

0
286

Oleh: Paskalis Kossay)*

Sejarah telah membuktikan, politik rasisme melahirkan fanatisme perjuangan sebuah ideologi politik atau sosial ekonomi. Politik Apartheid perbedaan warna kulit di Afrika Selatan misalnya, adalah sebuah bukti sejarah bahwa negara itu mencapai kemerdekaan politik bergerak dari politik rasisme.

Munculnya seorang tokoh Marthen Luther King di Amerika Serikat, adalah juga menentang politik rasisme pandangan merendahkan martabat masyarakat kulit hitam dari kulit putih.

Dalam hal yang sama sedang dialami masyarakat papua dalam negara Indonesia. Orang papua kini sedang mengalami rasisme dengan kata – kata mirip sebangsa binatang oleh sebagian besar masyarakat Indonesia.

Keterlibatan orang papua dalam peristiwa tertentu yang bertentangan dengan norma sosial atau politik yang merugiakan kepentingan masyarakat Indonesia, rasisme kepada orang papua begitu bertubi – tubi. Dibilang monyet, babi, anjing dan lain – lain.

Umpatan rasisme ini bukan muncul secara kebetulan karena emosional sesaat, melainkan muncul karena sudah terbentuk dalam struktur pandangan masyarakat Indonesia bahwa martabat orang papua ini murip seperti sejenis binatang yang mereka sebut, walaupun sejenis binatang tersebut tidak pernah ada dibumi papua.

Baca Juga: Ini Pernyataan Gubernur Papua Soal Insiden Surabaya, Malang dan Semarang

Miris memang rasanya ini, di Indonesia politik rasisme ini terus berkembang didalam kehidupan sosial dan pooitik masyarakat luas. Padahal kita tahu, dalam frame bernegara, Indonesia itu dibangun atas dasar berbagai suku, bangsa , ras dan agama dipersatukan dalam semboyan BHINNEKA TUNGGAL IKKA, berbeda – beda tetapi tetapi satu Indonesia Raya.

Sebagian besar masyarakat Indonesia tidak paham kalau Indonesia ini terdiri dari beragam suku bangsa, ras, agama dan adat istiadat. Karena itu memandang orang papua dengan sebelah mata, dianggap seperti orang asing. Maka ketika terjadi benturan kepentingan dengan orang papua , cibiran rasisme tidak bisa terbendung lagi langsung disemprot.

Umpatan rasisme tersebut sudah berulang kali kita dengar kapan dan dimana saja ketika dihadapi soal dengan orang papua. Yang teranyar kita peristiwa pengepungan Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya pada 16 – 17 Agustus 2019 ini.

Baca Juga: Hentikan Intimidasi dan Rasisme Terhadap Mahasiswa Papua di Surabaya

Sebagai orang papua sudah tentu merasa sangat terpukul dengan umpatan kata – kata yang berbau rasisme tersebut. Secara psikologis, merasa nilai kemanusiaan kita dihina disamakan dengan nilai sejenis hewan liar itu. Pukulan psikologis tersebut bisa terakumulasi tumbuh menjadi ideologi alternatif diluar dari ideologi Pancasila.

Apalagi pada dewasa ini isu papua semakin hangat bergerak dirana publik baik didalam negeri maupun diluar negeri. Mungkin saja faktor lain yang mempengaruhi semakin kencangnya isu papua karena orang merasa terhina oleh umpatan rasisme tersebut.

Semakin dihina dengan umpatan rasisme, semakin termotivasi orang papua berjuang keras untuk segera keluar memisahkan diri dari Indonesia. Sikap ini adalah sebuah konsekwensi logis yang harus ditempuh oleh orang papua untuk menghindari cemoohan rasisme tersebut.

Umpatan rasisme ini tidak hanya dilontarkan oleh masyarakat umum , tetapi juga oleh aparat TNI dan Polri ketika berhadapan dengan aksi demo gerakan Mahasiswa papua diberbagai tempat kota studi diluar papua. Hal ini menunjukan sudah menjadi pandangan umum bagi masyarakat Indonesia bahwa derajat kemanusiaan masyarakat papua ini sama dengan sejenis hewan yang sering mereka sebut ketika melampiaskan amarah kepada orang papua.

Baca Juga: DPRP Menganggap Aparat di Surabaya Berlebihan Tangani Mahasiswa Papua

Karena sudah menjadi pandangan umum maka sampai kapanpun labelisasi rasisme identik dengan hewan ini akan terus muncul ketika terjadi soal dengan masyarakat papua sampai kapan dan dimanapun dalam berbagai bidang entah politik, sosial maupun ekonomi.

Semoga tulisan ini menjadi refleksi kita semua terutama para politisi dan para tokoh masyarakat bahwa politik rasisme itu bisa berpotensi merusak nilai relasi kemanusiaan, persaudaraan sosia , ekonomi , apalagi merusak kesatuan dan persatuan bangsa.

)* Penulis adalah politikus Papua