Aparat Gabungan Dilaporkan Sedang Penyisiran di Puncak Papua

0
1410
Distrik Gome, Kabupaten Puncak Papua. Masyarakat sedang dikumpulkan di kantor distrik Gome dan kantor klasis GKII Gome. (Foto Google maps)

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com— Parat gabungan TNI, Polisi dan Brimob dikabarkan telah dan sedang melakukan penyisiran dan penyerangan di kampung Tegelobak, Distrik Gome, Kabupaten Puncak Papua. Diduga penyerangan dan penyisiran ini dilakukan di Tegelobak karena kampung ini dianggap sebagai markas Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB).

Seorang warga Gome, pada Sabtu (24/8/2019) kemarin melaporkan dari Ilaga bahwa aparat gabungan TNI dan Polri sedang melakukan penyisiran.

Dia menceritakan bahwa sejak hari Jumat (23/8/2019) subuh, aparat sudah mulai masuk ke kampung Tegelobak. Menurut dia, penyisiran yang dilakukan ini dilakukan oleh aparat gabungan TNI dan Polisi.

Ia mengungkapkan bahwa proses evakuasi masyarakat dilakukan pada pukul 18.00 malam. Setelah sebelumnya, pada Jumat Sore aparat meminta warga untuk tidak beraktifitas. Termasuk aparat gabungan juga menghentikan pertandingan bola Volly pada sore hari sekitar jam 16.00 sore waktu Papua.

Ia menyebutkan, pada hari Jumat sore sekitar pukul 4 sore, aparat memberitahukan masyarakat jalur evakuasi masyarakat.

“Jadi jam 4 sore itu polisi sudah menghimbau untuk masyarakat tidak boleh beraktifitas dan masyarakat yang sedang main volly juga diberhentikan. Lalu mereka (aparat) sampaikan jalur evakuasi. Jadi  polisi tentukan jalur evakuasi di distrik Gome. Mereka (aparat) tanam papan nama juga. Evakuasi darurat. Jadi setelah itu sekitar jam 6 sore masyarakat dievakuasi keluar lewat distrik Gome,” ungkapnya.

Ia melaporkan bahwa masyarakat sudah dievakuasi keluar ke distrik Gome. Sejak Jumat malam, masyarakat sudah berada di Distrik Gome. Masyarakat dikumpulkan di kantor distrik Gome, kantor Klasis GKII Gome dan ada masyarakat yang menginap di warga yang ada di sekitar kantor Distrik Gome dan kantor Klasis.

Dari pengakuan warga tersebut, ia mendengar bunyi tembakan pertama kali pada pukul 18.38 dari kali Namunggun dan kedua pada pukul 18.48 WP.

“Saya dengar pertama kali jam 06.38 dari kali Namunggun. Itu bunyi tembakan pertama. Kedua saya dengar jam 06.48 dari arah bukit. Ini terjadi hari Jumat sore menjelang malam,” ungkapnya.

Ia menduga, bunyi penembakan tersebut berasal dari aparat yang sedang melakukan penyisiran dalam pengejaran TPNPB dibawah pimpinan Jenderal Goliat Tabuni.

Masyarakat sipil dari beberapa kampung yang sedang dilakukan penyisiran dievakuasi ke distrik Gome di sekitar perumahan dinas dan di kantor Klasis baru mendapat bantuan beras dari dinas sosial dan bantuan berupa uang tunai untuk beli tenda pada Sabtu (24/8/2019) Siang.

“Kami baru dapat bantuan beras dari dinas sosial (3 ton) untuk diberikan kepada masyarakat yang sedang berada di tempat evakuasi,” ungkapnya.

Suarapapua.com telah berusaha untuk konfirmasi soal bantuan yang diberikan kepada kepala dinas Sosial Kab. Puncak Papua, tidak berhasil. Karena nomor kontaknya tidak bisa terhubung.

Pdt. Nus Murib, Ketua Klasis GKII Gome,  saat dikonfirmasi suarapapua.com, ia membenarkan bahwa ada masyarakat yang sedang mengungsi dan saat ini sedang berada dan dikumpulkan di kantor Distrik Gome dan kantor Klasis.

“Betul. Ada masalah. Di tempat penyisiran ada beberapa gereja. Dan sekarang semua masyarakat sudah mengungsi ke sini dan ada di kantor klasis Gome,” ungkap Nus.

 Pada Sabtu Siang kemarin, Pdt. Nus Murib mengungkapkan bahwa masyarakat yang sedang mengungsi telah mendapat bantuan beras dari dinas Sosial Kab. Puncak Papua.

“Pemerintah dari dinas Sosial bantu beras tiga (3) ton. Sekarang masyarakat ada masak di honai-honai,” ujarnya.

Untuk jumlah masyarakat yang mengungsi dari kampung Teglobak dan dua kampung lainnya yang menjadi sasaran aparat gabungan untuk melakukan penyisiran belum dapat dipastikan. Tetapi, ia memastikan bahwa ada warga yang mengungsi dan lebih banyak ibu-ibu dan anak-anak.

“Jumlah pengsungsi belum pasti. Tapi yang ada di sini semua rata-rata ibu-ibu, anak-anak yang masih balita, lansia dan semua mengungsi ke kantor klasis Gome,” ungkap Pdt. Nus.  

Selain bantuan dari dinas sosial beras tiga ton, kepala Desa Mitimaga, Dinamus Wakerkwa juga tmembantu uang 15 juta rupiah untuk para pengungsi. Uang tersebut sudah digunakan untuk membeli tenda buat bangun posko pengungsi.

Dinamus Wakerkwa, Kepada Kampung Mitimaga, Distrik Gome, Kab. Puncak Papua kepada suarapapua.com mengungkapkan bahwa sekitar pukl 15.00 WP baku tembak antara aparat gabungan dan pasukan dari TPNPB sudah dilakukan.

“Jadi jam tiga ini ada baku tembak jadi kami tidak keluar. Kami semua ada di halaman kantor klasis di Yenggernok,” ungkapnya singkat.

Ia membeberkan, dari informasi yang dia dapat, di kampung Tegelobak ada dua orang warga yang umurnya sudah tua terjebak dan tidak bisa keluar dari kampung saat dievakuasi.

“Di Tegelobak ada dua orang yang terjebak karena tidak bisa jalan dan mereka lansia. Di Mitimaga ada satu orang. Kalau di kampung Kelanugin satu masyarakat yang terbakar dengan honai, namanya Nggiliarikmban Magai,” ungkapnya.

 

Pewarta: Arnold Belau