20-an Siswa SD Inpres Amuma Tidak Bisa Lanjutkan Sekolah

0
51

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com— Sekurang-kurangnya sebanyak 23 siswa dari SD Inpres Amuma, Kab. Yahukimo Papua tidak bisa melanjutkan sekolah ke SMP karena tidak menerima ijazah dari pihak sekolah.

Seorang siswa yang sudah mengikuti UN SD pada tahun 2019 mengaku ia bersama ke-22 temannya tidak bisa melanjutkan studi ke bangku SMP karena tidak ada ijazah SMP.

“Saya dan 22 teman saya ke Wamena karena disarankan oleh guru yang berikan kami ujian nasional. Supaya di Wamena kami bertemu dengan kepala sekolah lalu tanya ijazah. Tapi menurut kepala sekolah ijazah untuk siswanya tidak ada,”  ungkap Yoper Bayage, salah satu dari 23 siswa yang telah mengikuti UN SD tahun ini pada Senin (26/8/2019) dari Wamena, Papua.

Diungkapkan, kepala sekolah tidak pernah berada di tempat tugas. Bahkan saat UN digelar. Yang memberikan soal UN dan mengawasi jalannya UN tahun ini hanya satu orang guru yang berada di Amuma.

Ia mengaku, 22 temannya sudah kembali ke Amuma dengan sangat kecewa. Pasalnya karena sudah datang jauh-jauh ke Wamena tetapi mendapat jawaban yang pasti tentang masa depan kelanjutan studi di bangku SMP.

“Saya punya teman-teman sudah kembali ke Amuma. Di sini  (Wamena) saya sendiri. Kami tidak bisa lanjutkan ke SMP karena tidak ada ijazah,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, jarak antara Wamena dan Amuma sangat jauh. Jika jalan kaki, bisa habiskan waktu satu hingga dua hari di jalan. Meski demikian, ia bersama teman-temannya nekat ke Wamena untuk memastikan apakah bisa melanjutkan ke bangku SMP atau tidak.

Dikatakan, ia akan pulang ke kampung. Karena sudah tidak bisa lagi melanjutkan sekolah di SMP.

Baca Juga: Tiga Tahun Siswa SD Inpres Amuma Tidak Menerima Ijazah

“Saya akan pulang kembali ke Amuma. Tidak tahu harapan saya untuk sekolah kedepan,” ucap Bayage.

Proses ujian yang sudah dilalui katanya, hampir UN 2019 tidak berjalan karena kepala sekolahnya sejak dilantik tidak pernah mengabdi di Amuma, dia selalu menetap di kota. Akhirnya nasib kita menjadi masalah.

“Kita ujian karena ada pa Guru Agustinus Heluka. Kalau  kepala Sekolah tidak pernah turun. Sampai di Wamena kita dengar kalau Ijazah kita hangus,” terangnya.

Sementara itu Herman Giban, mahasiswa asal Amuma yang mengenyam pendidikan di luar Papua menyayangkan kelakuan para kepala sekolah dan pihak Dinas pendidikan Kabupaten Yahukimo.

“Pemerintah dalam Hal Dinas Pendidikan atau panitia ujian bersama kepala sekolahnya harus bertanggung jawab atas nasib generasi penerus Yahukimo Khususnya Amuma,” katanya.

Untuk diketahui, SD Impres Amuma sudah lama hadir dan telah meluluskan banyak siswa yang bekerja di ASN pada pemerintahan Kabupaten Yahukimo. Namun pada tahun 2019 sekarang nasib 23 anak dikorbankan.

Pewarta: Ardi Bayage

Editor: Arnold Belau