Bupati Deiyai Menduga Ada Oknum Sipil Tembak Massa Aksi Saat Ricuh

0
51

DEIYAI, SUARAPAPUA.com — Dalam aksi damai jilid kedua menentang rasisme yang berakhir ricuh hingga jatuh korban di pihak massa aksi maupun aparat keamanan, Rabu (28/8/2019) lalu di halaman kantor Bupati Deiyai, diduga ada oknum warga sipil menenteng senjata hingga melepaskan tembakan ke arah kerumuman peserta demonstrasi.

Ateng Edowai, Bupati Deiyai mengungkapkan hal ini setelah akhir pekan kemarin mendengar kesaksikan dari beberapa korban luka saat insiden berdarah itu.

Baca Juga: Delapan Warga Sipil Tewas dalam Insiden di Kantor Bupati

Dari kesaksian mereka, menurut Bupati Edowai, oknum masyarakat sipil yang melakukan penembakan ke arah massa aksi itu memakai topeng.

Bupati mengutip pengakuan beberapa korban luka tembak, salah satu pelaku penembakan telah diketahui identitasnya meski yang bersangkutan pada saat kejadian mengenakan topeng. Diduga topeng dipakai agar tak mudah dikenali orang lain.

Baca Juga: Sesalkan Insiden Deiyai, DAW Meepago Minta TNI/Polri Ditarik

Saat rapat koordinasi dengan seluruh stakeholder, Jumat (30/8/2019), Bupati Deiyai sempat menyinggung adanya kesaksian dari korban luka-luka.

Terkait dugaan ini, pihaknya akan segera memanggil para korban luka-luka untuk mendalami lebih lanjut kesaksian mereka sebelumnya sebagaimana dialami dan dilihat langsung pada saat aksi damai berujung ricuh hingga jatuh korban itu.

Bila terbukti benar, Bupati tak segan-segan untuk menahan oknum tersebut untuk tanyakan alasan dan motivasi serta diback-up siapa hingga bisa melakukan tindak mencederai bahkan mencabut nyawa orang lain.

Menurutnya, hal ini akan segera diseriusi begitu situasi daerah benar-benar pulih. Dengan mendapat keterangan sebanyak-banyaknya dari korban luka maupun keluarga korban meninggal, diharapkan akan jelas siapa penembaknya, apakah dari aparat atau pihak lain dalam hal ini warga sipil yang sepekan terakhir hangat dibicarakan publik.

Baca Juga: Ketua PNWP Wilayah Meepago Tertembak di Deiyai

Selain jatuhnya korban jiwa baik massa aksi maupun aparat keamanan, Bupati juga mengaku mendapat laporan bahwa 10 buah senjata milik TNI hilang dari dalam truk yang diparkir tak jauh dari kantor Bupati Deiyai.

Dari upaya pemerintah daerah bersama berbagai pihak di Deiyai, 9 dari 10 buah senjata berhasil ditemukan. Hingga kini masih tersisa satu pucuk senjata yang belum didapat.

Setelah seluruhnya terkumpul, kata Ateng Edowai, akan dibuatkan berita acara sekaligus penyerahan dari Pemkab Deiyai kepada Danrem 173/PVB Biak.

Baca Juga: 10 Orang yang Kena Luka Tembak, Diperiksa Polisi di Paniai

Selama sepekan terakhir beredar beberapa versi tentang korban dalam insiden berdarah ini.

Hari ini, Selasa (3/9/2019), Gereja Katolik Keuskupan Timika melalui Sekretariat Keadilan dan Perdamaian (SKP) Dekenat Paniai merilis hasil investigasinya. Dibeberkan, korban insiden berdarah di Deiyai sebanyak 39 orang warga sipil menderita luka-luka, 8 orang meninggal dunia. Di pihak aparat keamanan, 1 orang anggota TNI meninggal serta 5 orang anggota TNI dan Polri luka-luka.

“SKP Dekenat Paniai melakukan investigasi, menelusuri kronologi penembakan terhadap massa aksi anti rasisme di Kantor Bupati Deiyai. Data dan fakta lapangan ini merupakan hasil investigasi, kami telah memverifikasi identitas para korban baik warga sipil maupun aparat keamanan, yang tewas dan yang luka-luka dalam insiden berdarah itu,” kata Pater Santon Tekege, Pr.

Baca Juga: Gereja Katolik: Delapan Warga Sipil dan Satu Anggota TNI Tewas dalam Insiden Deiyai

Sementara, pemerintah daerah masih rampungkan pendataan sekaligus verifikasi dari beberapa sumber. Data final tentang identitas dan jumlah korban meninggal, menurut Hengky Pigai, Wakil Bupati Deiyai, akan dibuka ke publik untuk mengakhiri kesimpangsiuran informasi pasca kejadian pekan lalu.

Pewarta: Markus You