Gereja Katolik: Delapan Warga Sipil dan Satu Anggota TNI Tewas dalam Insiden Deiyai

1
1381
Salah satu korban yang meninggal dalam insiden Deiyai. (Dok SKP Dekenat Timika)

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com— Aksi menolak dan melawan rasisme terhadap orang Papua yang digelar Solidaritas Anti Rasisme (SAR) bersama ribuan rakyat Papua di kabupaten Deiyai pada 28 Agustus berakhir ricuh. Dalam insiden ini kurang lebih delapan orang warga sipil dan satu anggota TNI tewas.

Laporan yang diturunkan Gereja Katolik, SKP Dekenat Paniai Keuskupan Timika membantah semua pernyataan tentang jumlah korban yang diklaim institusi-institusi negara di Jakarta bahwa ada dua orang warga sipil dan satu anggota TNI dan juga terakhir menyebutkan bahwa lima warga sipil dan satu anggota TNI tewas. Pernyataan-pernyataan itu terbantahkan.

Polda Papua, Polri dan institusi-institusi negara di Jakarta membantah pemberitaan media Suara Papua yang mengungkapkan bahwa ada enam orang warga sipil yang meninggal dunia pada 28 Agustus lalu.

Pada 31 Agustus lalu, Polri menyatakan bahwa  lima warga sipil dan satu anggota TNI AD tewas. Pernyataan ini membenarkan pemberitaan Suara Papua  yang menyebutkan bahwa ada lima orang tewas dalam insiden Deiyai.

“Memang ada lima warga sipil yang meninggal pascademo di Deiyai, Rabu (28/8), yang berakhir rusuh dan diduga terjadi setelah pendemo merampas 10 pucuk senpi hingga menewaskan satu anggota TNI AD,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Papua Kombes Tony Harsono, di Jayapura, Sabtu (31/8).

Laporan Gereja Katolik dari Keuskupan Timika mengungkapkan, dalam insiden Deiyai 28 Agustus lalu delapan orang warga sipil tewas dengan luka tembak dan satu anggota TNI tewas. Artinya, dalam insiden tersebut sembilan orang tewas.

Data Korban yang Tewas dalam Insiden Deiyai pada 28 Agustus 2019

No Nama Jenis Kelamin Status Keterangan
1 Abinadab Kotouti (24) L Warga Sipil dari Bomou II Tewas Kena tembak peluru panas di Otak Kecil dan tembus di depan mata. Dia sudah dikubur di kampong Bomou II, Distrik Tigi
2 Hans Ukago (25) L Warga Sipil dari Diyai II Tewas kena tembakan peluru panas di Bahu dan dada. Dia sudah dikuburkan di kampung Diyai II, Distrik Tigi Barat
3 Marinus Ikomou (35) L Warga Sipil dari Ayatei Tewas kena tembakan di Dada, di alat kelamin, dan semprot gas bius. Dia sudah dikuburkan di Kampung Ayatei, Distrik Tigi Barat
4 Alpius Pigai (29) L Warga Sipil dari Digibagata Dia kena luka-luka tembakan di dada dan mati dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Madi. Dia sudah dikuburkan di Kampung Digibagata, Distrik Tigi Barat
5 Derison Adii (24) L Warga Sipil dari Atouda Dia kena tembakan  di Otak Kecil dan dada. Ditemukan mati di Halaman Kantor Bupati Deiyai. Dan dia telah dikuburkan di Kampung Atouda, Distrik Tigi.
6 Pilemon Waine (19) L Warga sipil dari Wagomani Dia tembakan peluru tajam di dada dan tewas. Dia sudah dikuburkan di Kampung Wagomani, Distrik Tigi Barat
7 Yemi Douw (23)

 

 

L Warga Sipil dari Widimei Dia kena tembakan peluru panas di perut, di lengan kiri, dan mati. Dia sudah dikuburkan di kampung Widimei, Distrik Tigi Utara
8 Yustinus Takimai (17) L Pelajar Dia ditabrak oleh sopir TNI dan mati terjepit tembok kantor BKD Deiyai Papua

 

Atas kejadian ini, pastor Santon Tekege, Pr dari SKP Dekenat Paniai, Keuskupan Timika menegaskan, gereja berani mengatakan bahwa Otonomi Khusus (Otsus) sudah gagal di Tanah Papua. Gereja menilai bahwa Otsus merupakan lambang kejahatan bagi orang asli Papua. Otsus Papua merupakan gula-gula politik Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Karena tidak mengangkat harkat dan martabat orang asli Papua. Otsus dan Pemekaran bukan solusinya. Solusinya adalah tanyakan langsung kepada rakyat pribumi Papua,” tegas pastor Santon kepada suarapapua.com pada Selasa (3/9/2019).

Pastor Santon membeberkan, data yang dikumpulkan oleh Gereja Katolik dan Kingmi atas kejadian Rasisme Menuju Pelanggaran Ham di Deiyai Papua berjumlah 8 orang masyarakat sipil ditembak mati dan 39  orang masyarakat menjadi korban luka-luka tembakan.

“Jangan bunuh orang asli Papua, karena dengan memberikan Otsus dan Pemekaran, maka pemusnahan dan pembantaian etnis orang asli Papua semakin meningkat, kemiskinan semakin meluas, ketidakadilan terjadi di mana-mana seluruh Papua,”  tegasnya lagi.

Menurut gereja, kata pastor Santon, pemerintah tidak mampu menangani rakyat kecil malah membunuh. Gereja sering menyerukan  untuk hentikan pembantaian etnis Papua dan jangan habiskan orang asli Papua hanya demi menjaga keutuhan NKRI.

Gereja menegaskan agar pemerintah Indonesia harus menghargai Hak Asasi Manusia dan Demokrasi. Tetapi Pemerintahan Jokowi sudah melenceng dari HAM. Sampai pandangan mata NKRI orang Papua tidak berarti.

“Karena nilai orang Papua tidak bernilai, kami dibantai dan dibunuh. Pemerintah Indonesia tidak mempunyai pikiran dan perasaan akan kemanusiaan, hal ini terbukti penembakan puluhan orang di Deiyai Papua dan menewaskan delapan orang,” ujar gereja dalam laporan yang diterima media ini.

Dikatakan, gereja juga menyerukan stop pembunuhan dengan terang-terangan dan terselubung yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu. Orang papua dibunuh dan dibantai karena demi ambil kekayaan Sumber Daya Alam: Emas, Pohon, dan Obat-obatan. Pemerintah Indonesia hanya cinta akan tanah dan kekayaan SDA di Papua.

Korban penembakan terhadap 8 orang masyarakat sipil Deiyai dan puluhan orang lainnya mengalami luka-luka tembakan menandakan bahwa pemerintah Indonesia sudah tergolong pembunuh di mata internasional,” tegas Pater Santon.

Pewarta: Arnold Belau