Rakyat Papua Wajib Waspadai Gejala Konflik Horizontal!

6
460

DEIYAI, SUARAPAPUA.com — Gelagat konflik horizontal di Tanah Papua mulai terlihat. Seluruh rakyat Papua harus waspada terhadap upaya adu domba dan berbagai kemungkinan terjadinya konflik horizontal antarwarga makin menggejala di kota Jayapura.

Hal ini dikemukakan Victor F. Yeimo, juru bicara internasional Komite Nasional Papua Barat (KNPB), melalui rilis yang diterima suarapapua.com, Selasa (3/9/2019), menyikapi mulai timbulnya gejala konflik horizontal di Tanah Papua.

Ia menyatakan, penguasa negara ini ingin ciptakan konflik horizontal di Tanah Papua seperti pernah terjadi di Timor Leste.

“Upaya adu domba ini sudah terbaca sejak lama, dan puncaknya sekarang setelah pekan lalu rakyat Papua lumpuhkan Jayapura,” katanya.

Victor menyebut penyerangan asrama mahasiswa Papua oleh sekelompok orang pendatang di Kamkey, Abepura, Minggu (1/9/2019) Pukul 02:00 dini hari, buktinya.

Dalam kejadian ini, kata dia, ada beberapa korban meninggal dan luka-luka. “Maikel Kareth (21) tewas ditembak dengan peluruh tajam di dada, dan 16 orang terluka parah.”

Baca Juga: Penyerangan Minggu Pagi ke Asrama Nayak, Begini Kronologisnya

Menurutnya, setelah melihat video rekaman warga, polisi seperti enggan menghalau situasi chaos saat itu. “Justru mereka ikut membacking massa non-Papua menyerang orang Papua,” ujarnya.

“Apa alasan penyerangan terhadap orang Papua di tempat ini? Padahal, non Papua yang ada di Abepura, Tanah Hitam, Youtefa, dan Kamkey, tidak diganggu oleh orang Papua. Tidak ada korban nyawa maupun materi di komplek ini. Karena orang Papua sudah katakan musuh mereka bukan non-Papua, tetapi penguasa kolonial.”

Yeimo mempertanyakan, apa motifnya menyerang orang Papua tanpa alasan? Apalagi mereka menggunakan senjata dan menembak mati orang Papua.

“Lalu, siapa yang memberi ijin pegang senjata dan siapa yang bermain?”

Penyerangan di Kamkey, menurutnya, tak berdiri sendiri karena diduga diskenario petinggi negara.

“Kapolri dan Panglima TNI baru-baru ini di Jayapura melakukan pertemuan tertutup dengan Barisan Merah Putih, milisi sipil yang dibentuk untuk membela negara. Aksi politik rakyat Papua hendak dialihkan kepada konflik horizontal. Ini permainan lazim seperti di Timor Leste,” tandasnya.

Ia kemudian menuding penguasa mendorong rakyat saling bantai seperti di Timor Leste. “Aktornya adalah Wiranto yang sekarang sedang mengatur untuk kekerasan antar warga di Papua.”

Rakyat Papua menurutnya sudah paham skenario konflik horizontal ini.

Baca Juga: West Papua Butuh Pengawasan Internasional

“Gelombang perjuangan massa rakyat Papua saat ini bertujuan untuk menuntut solusi demokratis melalui ruang referendum. Indonesia tidak bisa paksa tahan Papua untuk dibantai terus menerus,” beber Yeimo.

Yeimo tegaskan, penuntasan masalah Papua tak bisa dengan pendekatan kekerasan ala militer. “Solusi damai harus dipakai untuk selesaikan masalah Papua,” ujarnya.

Sementara, Ones Suhuniap, juru bicara nasional KNPB menyatakan, berbagai cara sedang diterapkan pemerintah Indonesia merespon kian menguatnya perjuangan kemerdekaan oleh rakyat Papua.

Berusaha benturkan orang Papua dan non-Papua menurut dia, adalah satu rancangan matang untuk mengarahkan ke konflik horizontal.

“Kami menghimbau kepada seluruh rakyat Papua agar jangan terprovokasi dengan kelompok reaksioner atas nama masyarakat Nusantara yang sedang memancing situasi dengan menyerang asrama Nayak pada hari Senin pagi kemarin,” kata Ones.

Dikemukakan, kelompok reaksioner yang dibackup aparat muncul untuk mengalihkan opini dan tuntutan Papua Merdeka dalam aksi demonstrasi dua minggu terakhir ini di Tanah Papua.

“Kelompok reaksioner itu dibentuk untuk menciptakan konflik horizontal antara OAP dan non Papua supaya menghalangi perjuangan kita saat ini.”

Baca Juga: Imbauan Umum KNPB: Musuh Kita Bukan Orang Non Papua!

Upaya itu juga, lanjut Ones, bertujuan menutupi kesalahan aparat keamanan menembak puluhan warga sipil di Kabupaten Deyai.

“Musuh rakyat Papua bukan orang pendatang, tetapi sistem yang menindas kita. Tuntutan kita referendum, jadi jangan terpancing supaya kita menang. Kalau kita terpancing berarti kita akan kalah,” ujarnya.

Ones mengatakan, munculnya kelompok reaksioner di Tanah Papua yang sangat berani menantang orang Papua ini karena disponsori sebagai barisan milisi sipil sama seperti pernah terjadi di Timor Leste.

“Negara sudah berlanjut kirim 700 personel Marinir dan Kostrad serta 1500 anggota Brimob di Jayapura, makanya kelompok reaksioner sedang diback-up untuk memancing kita.”

Pewarta: Markus You