Papua: Tempat yang Aman untuk Orang Papua?

0
39

Oleh: Jefry Wenda)*

Ada yang bilang di luar Papua (Jawa-Bali, Sumatra, Sulawesi, dan lain-lain) mahasiswa tidak aman, sehingga mahasiswa Papua harus pulang ke Papua biar aman. Bukankan itu pendapat yang keliru? Sudah tentu kedua-duanya sama tidak ada tempat yang aman buat kita.

Ini bukan soal aman dan tidak, bukan juga sekedar perbandingan tempat semata.

Kejahatan kemanusiaan yang dilakukan oleh anjing negara berupa teror, intimidasi, diskriminasi rasial dan bentuk kejahatan lain sudah lazim bagi kita, bahkan pembunuhan dan pembantaian itu sering terjadi di depan mata kita.

Kita tidak bisa menghindar dari kejahatan aparat-militer serta ormas reaksionernya. Tidak.

Kita jangan pernah lupa bahwa “kita sedang dijajah”. Selama bangsa Papua masih di hidup bersama kolonialisme-Indonesia, maka orang Papua tidak akan pernah merasakan kenyamanan, kedamaian, kesejahteraan dan keadilan.

Baca Juga: AMP Minta Buka Posko untuk Mahasiswa Papua di Tanah Papua

Sekalipun ada yang pernah menyampaikan hal tersebut, itu hanya buah-buah ilusi yang dibangun agar kita tetap tunduk dibawa rezim yang bengis ini.

Untuk kawan-kawan sekalian yang rindu kemerdekaan, namun masih bimbang dan ragu di persimpangan jalan, dan kawan-kawan yang masih takut karena trauma.

Tidak bisa kita pungkiri bahwa generasi kita hari ini adalah generasi yang sejak di dalam kandungan (orang tua kita) telah dijajah oleh bangsa kolonial-Indonesia. Bahkan, sperma dan sel telur yang terbentuk menjadi buah janin merupakan hasil re-produksi dari sperma dan sel telur orang terjajah.

Kita berada dalam situasi yang teramat keras. Bukankah itu menjadi dasar untuk kita harus kuat, bersatu padu untuk melawan balik?

Sudah lama kita hidup dibawah penjarahan, penjajahan, penindasan, perampasan, pemerkosaan, intimidasi, teror dan berbagai macam bentuk kejahatan yang telah, sedang dan masih terus dilakukan oleh Negara di atas tanah air West Papua. Sungguh tidak wajar bukan?

Dengan perlengkapan teknologi yang paling canggih, alat pengintai, kita dikepung. Tidak ada tempat pelarian bagi kita untuk mengamankan diri, menghindar dari kenyataan, sembunyi dari situasi atau menutup diri, diam tanpa kata dan berani bodoh.

Sudah segudang bukti yang kita simpan dalam ingatan kita bersama tentang perlakuan rezim fasis ini yang menjadi dasar pemberontakan kita.

Kita bukan budak, kita bukan bangsa kasihan, kita manusia merdeka yang memiliki hak untuk bebas dari berbagai macam belenggu penindasan dan penjajahan. Kita adalah pemilik negeri yang diasingkan. Kita pemilik warisan kehidupan di negeri tercinta kita West Papua. Jangan lagi kita perpanjang penderitaan.

Sudah saatnya kita membangun kekuatan baru, kekuatan yang terorganisir. Ya, saatnya organisir diri, pimpin gerakan perjuangan, saatnya kita menyiapkan kemenangan, menghancurkan mata rantai penindasan, karena “Rumah Baru” yang nyaman, aman, damai hanya ada di dalam Papua Merdeka.

Lawan Balik!

Colonial Land, 6 September 2019

)* Penulis adalah aktivis Aliansi Mahasiswa Papua (AMP)