Veronika Koman dan Surya Perlu Dilindungi, Bukan Dikriminalisasi

0
43

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com— Ketua Perkumpulan Advokat HAM (PAHAM) Papua, Gustaf R. Kawer mengatakan, Veronica Koman membela aktivis yang berbicara tentang Papua Barat di seluruh Indonesia dan Surya Anta memperjuangkan hak penentuan nasib sendiri bersama kelompok dan jaringannya.

“Kami sangat jarang temukaa orang seperti Vero dan Surya. Hanya ada sedikit Pengacara Indonesia non-Papua Barat dan Aktivis Pro Demokrasi yang melakukan pekerjaan semacam ini. Ancaman dan pelecehan yang telah diterima  Vero dan Surya. Tapi itu tidak menghalangi mereka untuk terus melakukan advokasi dan perjuangan untuk orang Papua Barat yang kami nilai sangat luar biasa,” kata Kawer kepada suarapapua.com lewat surat elektronik yang diterima pada Selasa (10/9/2019) di Jayapura.

Kawer mengutarakan bahwa, dalam bulan Agustus 2019, Surya Anta telah dengan berani mendukung agenda penentuan nasib yang bersama-sama disuarakan oleh aktivis Pro Demokrasi Papua yang ada di Wilayah seluruh Indonesia.

Dan Veronica Koman telah melakukan advokasi terhadap mereka yang ditangkap, ditahan, dipersekusi dan didikriminasi rasial oleh Ormas-Ormas Reaksionir yang didukung oleh Oknum TNI/POLRI Puncaknya yang terjadi pada tanggal 19 Agustus 2019 di Asrama Mahasiswa Surabaya .

Surya Anta, kata Kawer, kini ditahan di tahanan Markas Komando, Brimob, Kelapa Dua, Depok-Jakarta bersama rekan-rekannya dengan tuduhan Makar karena aktivitasnya tersebut. Sedangkan Veronika Koman kini statusnya sebagai tersangka dan masuk Daftar Pencarian Orang (DPO) karena dituduh sebagai aktor provokasi penyebab konflik di Papua, Pasca Peristiwa Diskriminasi Rasial yang terjadi di Surabaya tersebut.

“Vero dan Surya ini sebenarnya korban  dari konspirasi negara dalam mengalihkan akar masalah yang sebenarnya mengenai persoalan penentuan nasib sendiri bagi Papua Barat, Pelanggaran HAM termasuk Persoalan RASISME yang puncaknya terjadi pada bulan Agustus ini,” tegasnya.

Menurutnya, kehadiran Pengacara HAM Veronika Koman dan Aktivis FRI West Papua Surya Anta dalam advokasi dan Perjuangan Papua Barat memberi harapan bagi para aktivis Papua Barat dan masyarakat Papua pada umumnya, bahwa masih ada cahaya menuju kebenaran dan keadilan yang sedang diperjuangkan di Negeri ini.

“Sebagai Pengacara HAM Papua kami mendesak Kepolisian Republik Indonesia untuk menghentikan segala bentuk kriminalisasi terhadap Veronica Koman dan Surya Anta dan rekan-rekannya, karena apa yang diperjuangkan bagi rakyat Papua merupakan hak asasi manusia yang dijamin oleh Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia, Konvenan Hak-Hak Sipil dan Politik (Konvenan Sipol), Konvenan Hak-Hak Ekonomi Sosial dan Budaya, UUD 1945, UU HAM dan Undang-Undang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum,” katanya.

Menurut Kawer, hal yang penting dan urgent dilakukan negara adalah menyelesaikan persoalan sejarah masa lalu Papua, pelanggaran HAM, termasuk menuntaskan persoalan “rasisme” yang masih sering terjadi di negara Indonesia.

Sebelumnya, Solidaritas pembela aktivis Hak Asasi Manusia ( HAM) yang terdiri dari berbagai lembaga swadaya masyarakat (LSM) menganggap tindakan polisi yang menetapkan Veronica Koman sebagai tersangka merupakan ancaman bagi pembela hak asasi manusia.

Veronica sebelumnya ditetapkan sebagai tersangka karena diduga menyebarkan konten berita bohong atau hoaks dan provokatif terkait Papua.

“Kapolda Jawa Timur menetapkan pembela hak asasi manusia Veronica Koman sebagai tersangka yang menyiarkan berita bohong di media sosial. Kami menilai tindakan kepolisian ini sebagai ancaman bagi pembela hak asasi manusia,” ujar salah satu anggota solidaritas Tigor Hutapea, saat audiensi dengan Komnas HAM di Jakarta, Senin (9/9/2019) seperti dikutip media ini dari kompas.com.

Adapun LSM yang tergabung dalam solidaritas tersebut yaitu LBH Pers, Safenet, LBH Jakarta, YLBHI, Yayasan Satu Keadilan, LBH Apik, dan Perlindungan Insani.

Pewarta: Arnold Belau