TPNPB Bantah Baku Tembak dengan TNI/Polri di Kampung Olenki

0
210

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com— Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) membantah tudingan TNI/Polri yang menyatakan telah terjadi baku tembak antara TNI/Polri dan TPNPB pada 17 September lalu di kampung Olenki, Distrik Ilaga Utara, Kabupaten Puncak Papua, Papua.

Bantahan ini disampaikan Hendrik Uwamang, Komandan Operasi TPNPB Kodap III Timika kepada suarapapua.com pada Sabtu (21/9/2019) kemarin dari Ilaga, Kab. Puncak Papua, Papua.

Kampung Olenki adalah salah satu kampung yang berada di distrik Ilaga Utara, Kabupaten Pucak Papua, porvinsi Papua.

Dikutip dari CNNIndonesia.com, pada 17 September pekan kemarin, Kodam XVII/Cendrawasih menyatakan tiga warga meninggal dunia saat kontak tembak antara Satgas Gakkum Gabungan TNI-Polri dengan Kelompok Separatis Bersenjata (KSB) di Kampung Olenki, Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua.

Kapendam XVII/Cenderawasih Letkol CPL Eko Daryanto mengatakan ketiganya meninggal akibat mengalami luka tembak.

“Tiga orang masyarakat dinyatakan meninggal dunia,” ujar Eko dalam keterangan tertulis, Kamis (19/8).

Eko mengatakan tiga orang masyarakat yang meninggal, yakni Tekiman Wonda (33), Edison Mom, dan seorang balita bernama Rudi Mom. Adapun korban luka tembak, yakni Topina Mom (36), Tabuni (37), Herina Kinal (32), dan Yefrina Mom (16).

Lebih lanjut, Eko membeberkan kontak tembak terjadi saat tim gabungan sedang mendekati posisi KSB OPM yang berada di sebuah honai di dekat sungai. KSB OPM disebut menembak secara sporadis atau tidak terarah mengetahui kedatangan tim gabungan.

“Akibat tembakan balasan dari tim gabungan, kelompok KSB melarikan diri berpencar ke arah hutan sambil terus menembak secara sporadis,” ujarnya.

Baca Juga: Apa yang Terjadi Sebelum Penembakan di Olenki, Puncak Papua?

Setelah kontak tembak selesai, Eko menyampaikan tim gabungan menemukan adanya tujuh orang masyarakat dalam kondisi luka tembak, di mana tiga di antaranya meninggal dunia.

TPNBP Membantah Baku Tembak dengan TNI/Polri

Hendrik Uwamang Komandan Operasi Kodap III Timika  membantah adanya kontak senjata antara TPNPB dan TNI/Polri di kampung Olenki saat saat menghubungi suarapapua.com.

Hendrik menegaskan bahwa TPNPB tidak pernah melakukan kontak tembak dengan TNI/Polri.

Sebab, kata dia, dalam unifikasi TPNPB yang dilakukan di kampung Tegelobak pada 1 Agustus, pimpinan TPNPB telah memutuskan bahwa  medan perang [antara TPNPB dan TNI/Polri] adalah Ndugama dan Timika [dari Tembagapura sampai Portsite].

Deklarasi Unifikasi penyatuan dan persatuan Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) OPM pada 1 Agustus 2019 di Ilaga, Papua. (Dok Kru TPNPB)

Ia menambahkan, penyisiran di kampung Tegelobak sejak 24 Agustus dilakukan oleh TNI/Polri dan di penembakan di kampung Olenki juga dilakukan TNI/Polri tanpa ada tembakan balasan dari TPNPB.

Hendrik mengklaim bahwa pihaknya sudah menyatakan bahwa Ilaga adalah tempat aman untuk masyarakat dapat melakukan aktifitas dengan aman.

“Sebab daerah ilaga bukan tempat perang bagi TPNPB. Kami inginkan  ilaga daerah yang aman untuk masyarakat melakukan aktivitas seperti biasanya. Kami juga sudah menyampaikan kepada masyarakat dari kepala air sampai di ilaga,” klaim Wamang.

Pernyataan bahwa ada kontak senjata antara pihaknya dengan TNI/Polri, kata dia, adalah pernyataan yang hanya membenarkan aparat sendiri. Padahal, kata Hendrik, di lapangan kejadiannya lain dan tidak sesuai dengan apa yang diberitakan di media massa.

“TNI/POLRI lewat media mengatakan bahwa ada penembakan balasan di kampung Olenki pada tanggal 17 kemarin. Itu omong kosong dan tidak benar. Mereka [TNI/Polri] sendiri yang menembak warga sipil di kampung Olenki dan di kampung Tegelobak,” tegasnya.

Menurut Hendrik, penembakan yang menewaskan seorang balita, seorang remaja, dan seorang anggota PolPP di Kab. Puncak serta beberapa warga sipil mengalami luka-luka adalah murni dilakukan oleh TNI/Polri.

Dan dalam insiden tersebut, kata Hendrik, TPNPB tidak pernah melakukan tembakan balasan.

”Jadi aparat [TNI/Polri] mencari nama baik untuk menghancurkan nama baik TPNPB pada momentum [penembakan di kampung Olenki] tersebut. Pelakunya aparat keamanan,” katanya.

Pdt. Anis Labene Menjelaskan

Sementara itu, pendeta Anis Labene dari Gereja Kemah Injil Indonesia [GKII] yang melayani di gereja kampung Olenki mengakui jika sebelum ada insiden penembakan terhadap jemaatnya tersebut anggota TPNPB berada di kampung Olenki.

“Saat itu memang mereka datang dan ada di sini [kampung Olenki]. Tapi bukan mereka tinggal di sini. Hanya hari itu [hari selasa tanggal 17 september] mereka datang dan ada di sini,” jelasnya.

Pdt. Anis Labene (kanan) saat menjelaskan tentang peristiwa yang terjadi pada tanggal 17 September di Olenki. (NW for SP)

Ia menjelaskan, ketika anggota TPNPB berada di kampung Olenki, sekitar pukul 16.00 atau pukul 16.30 ia mendengar ada bunyi tembakan. Penembakan itu dari pihak keamanan karena melihat ada anggota TPNPB [dengan senjata].

Ia menceritakan, pada saat itu tembakan langsung dari arah atas ke sekitar gereja GKII Olenki. Penembakan itu mengakibatkan semua hancur, gereja juga hancur.

“Mereka melakukan penembakan secara langsung lapis masyarakat. Penembakan itu bikin enam orang luka-luka dan tiga orang mati di tempat. Penembakan itu bikin gereja hancur. Seng dan jendela semua hancur. Tapi Tuhan ada sama-sama kita jadi yang tidak kena [tembakan] tapi tiga orang itu yang mati,” ungkapnya.

Pdt. Anis Labene saat menunjukkan bagian atap gereja yang hancur saat penembakan terjadi. (NW for SP)

Pdt. Labene menegaskan bahwa masyarakat yang tinggal di Olenki adalah masyarakat biasa yang tidak tahu apa-apa. Untuk itu, jika mencari dan mengejar musuh, pihak keamanan harus lihat baik.

“Kita ini masyarakat biasa. Ini tidak tau apa-apa. Kita tinggal di gereja. Kita punya kebun. Tapi mereka langsung datang tanpa lihat baik-baik langsung penembakan,” jelasnya.

Pdt. Labene mengatakan, dalam insiden tersebut masyarakat menjadi korban. Ia mengaku bingung karena masyarakat yang menjadi korban.

“Kita juga bingung. Kalau cari musuh mereka harus cari musuh dan tidak korbankan masyarakat. Ini mengorbankan masyarakat di distrik Ilaga Utara,” jelasnya.

Pewarta: Arnold Belau