TPNPB Ungkap Alasan Tembak Tiga Warga di Ilaga

0
1920
TPNPB from Kodap III Timika, a military wings of OPM. (IST - SP)

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com— Hendrik Uwamang, Komandan Operasi Tentata Pembebasan Papua Barat (TPNPB) Kodap III Timika menyatakan TPNPB yang melakukan penembakan yang menewaskan dua tukang ojek di distrik Ilaga Uatara dan satu warga sipil dekat bandara Ilaga.

Wamang mengungkapkan alasan pihaknya menembak mati tiga warga sipil di Ilaga, Pucak, Papua. Ia menjelaskan bahwa, sejak awal Agustus 2019 TPNPB menyatakan Ilaga bukan wilayah untuk berperang dengan aparat TNI dan Polri. Hal tersebut, kata dia, karena TNPB sudah memutuskan bahwa wilayah untuk bertempur dengan aparat adalah Nduga dan Timika, areal Freeport dari Portsite hingga Grasberg.

Wamang, kepada suarapapua.com dari Ilaga, Senin (3/9/2019), membeberkan alasan mengapa TPNPB melakukan penembakan yang menewaskan tiga warga sipil tersebut.

Pertama aparat TNI dan Polri menembak mati seorang anak sekolah bernama Yul Magai, pada akhir Agustus kemarin di kampung Tegelobak. Penembakan itu dilakukan saat aparat melakukan penyisiran dalam rangka mengejar TPNPB yang berada di kampung tersebut.

Baca Juga: TPNPB Bantah Baku Tembak dengan TNI/Polri di Kampung Olenki

Kedua, kata dia, penembakan dilakukan lagi oleh aparat TNI dan Polri di kampung Olenki dan menewaskan tiga orang. Satu anak sekolah, satu bayi dan satu lagi orang dewasa yang bekerja di Satuan Polisi Pamong Praja Kab. Puncak, Papua.

Menurutnya, dua peristiwa tersebut menjadi alasan mengapa TPNPB melakukan penembakan terhadap tiga warga sipil.

“Kami sudah sepakat untuk tidak perang dengan aparat di Ilaga [melainkan di Nduga dan Timika]. Tetapi kami lihat aparat tidak kejar kami tetapi mereka tembak mati warga pribumi yang tidak ada sangkut paut dengan kami. Sehingga kami juga melakukan penembakan terhadap tiga warga itu,” ungkapnya menjelaskan.

Baca Juga: Apa yang Terjadi Sebelum Penembakan di Olenki, Puncak Papua?

Dikatakan, karena aparat menembak mati warga pribumi dan melukai beberapa warga pribumi, maka, ia mengaku, TPNPB tidak tinggal diam. TPNPB melakukan penembakan lagi terhadap warga sipil juga.

“Kalau mau kejar kami [TPNPB] harusnya kejar kami. Bukan tembak warga pribumi yang tidak berdosa. Kami tembak karena aparat [TNI dan Polri] yang memulai untuk tembak warga kami,” jelasnya.

Untuk itu, Uwamang mengatakan, penyebabnya jelas. Di mana penembakan pertama dan kedua yang dilakukan aparat [TNI dan Polri] mengorbankan masyarakat sipil.

Ia mengaku, pihaknya tidak terima dengan penembakan yang mengorbankan warga sipil. Sebab, TPNPB sudah menyatakan dengan tegas bahwa wilayah perang antara TPNPB dan TNI/Polri bukan di Ilaga tetapi aparat melakukan penembakan warga pribumi.

Baca Juga: 800-an Orang Mengungsi ke Distrik Gome, Puncak Papua

“Aparat tidak pernah kejar kami langsung. Tetapi korbankan kami punya warga pribumi. jadi saya menyatakan bahwa penembakan di Ilaga itu kami [TPNPB] yang lakukan. Kami siap bertanggungjawab,” katanya.

Dikutip dari papua.antaranews.com, pada Kamis (26/9/2019) sekitar pukul 12.53 WIT, Polsek Ilaga menerima laporan dari warga bahwa telah terjadi penembakan terhadap dua tukang ojek di depan Jembatan Gantung Muara Kampung Amugi, Distrik Ilaga Utara, Kab. Puncak.

“Identitas pelaku adalah KKB wilayah setempat dengan dua orang warga yang menjadi saksi,” kata Kabid Humas Polda Papua, Kombes Pol, Ahmad Kamal.

Kedua tukang ojek yang ditembak tersebut adalah alm. Sattiar B alias Midun dan alm. Laode Alwi.

Kedua jenazah korban yang ditembak TPNPB tersebut telah diterbangkan ke Timika untuk selanjutnya dikirim ke kampung halamannya masing-masing sambil menunggu keluarga korban.

Pada Sabtu (28/9/2019) TPNPB kembali menembak mati seorang warga sipil yang sehari-hari berjualan di dekat bandara Ilaga, Puncak, Papua.

Bupati Puncak, Willem Wandik, saat dikonfirmasi Antara dari Jayapura membenarkan insiden tersebut.

“Memang benar ada insiden warga sipil kembali ditembak di Ilaga yang terjadi sekitar pukul 12.30 WIT,” ujarnya ketika dihubungi melalui telepon selulernya.

 Dikutip dari kompas.com, Jenazah Caharuddin (25), warga yang tewas ditembak TPNPB di dekat Bandara Aminggaru,  Distrik Ilaga, Kabupaten Puncak, Papua, dibawa ke Timika, pada Minggu (29/9/2019) pagi.

Jenazah Caharuddin diterbangkan dari Ilaga ke Timika menggunakan pesawat milik maskapai Dimonim Air. Selanjutnya, jenazah dibawa ke Kamar Jenazah RSUD Mimika dan ke Masjid Agung Babussalam, Jalan KH. Dewantara, Kota Timika.

Setelah itu, Jenazah Caharuddin dibawa ke Bandara Mozes Kilangin Timika, untuk diterbangkan ke Makassar Sulawesi Selatan, untuk dimakamkan di kampung halamannya di Desa Walenreng, Kecamatan Cina, Kabupaten Bone.

Kabid Humas Polda Papua Kombes Polisi Ahmad Musthofa Kamal mengatakan, dari keterangan masyarakat, disebutkan bahwa warga melihat adanya dua orang menggunakan celana pendek datang ke kios.

Keduanya menggunakan penutup kepala hitam. Satu di antara mereka menggunakan sepatu lumpur. Para pelaku kemudian mengeluarkan pistol dan menembak korban di bagian kepala.

“Mereka mengeluarkan pistol lalu mengarahkan kepada korban, serta melakukan penembakan yang mengenai kepala korban hingga meninggal dunia,” kata Kombes Kamal saat dikonfirmasi Kompas.com, Sabtu sore.

Baca Juga: Perkuat TPNPB, Goliat Tabuni Cs Tolak Organisasi Tandingan

Sementara itu, Noris Waker, salah satu pemuda berada di Ilaga saat dihubungi suarapapua.com pada Minggu (30/9/2019) kemarin membenarkan adanya informasi penembakan terhadap dua tukang ojek dan satu penjaga kios di sekitar bandara.

Selain itu, ia juga mengatakan, pada Minggu di Ilaga,  mengatakan warga sedang dalam ketakutan dan tinggal di rumah masing-masing di Kota Ilaga. Selain itu ia mengatakan,  warga non Papua yang ada di Ilaga semua mengungsi di Polsek dan Danramil.

Wakerkwa mengaku mendengar ada bunyi tembakan pada Sabtu kemarin. Hingga hari ini [Minggu] pagi, ia masih mengaku masih mendengar bunyi tembakan.

“Kalau malam mereka [TPNPB] ada bakar kios. Kalau bunyi tembakan sekarang juga ada. Warga ada panik dan takut ada tinggal tenang di rumah saja,” katanya.

Pewarta: Arnold Belau