Pasukan Keamanan Pasifik Diperlukan Untuk Perdamaian Papua

29
21144

SUVA, SUARAPAPUA.com — Pasukan penjaga perdamaian Pasifik harus dimobilisasi di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk memungkinkan solusi damai untuk kekerasan yang terjadi saat ini di Papua.

Sekretaris Jenderal Konferensi Gereja-Gereja Pasifik, Pendeta James Bhagwan menyerukan pasukan penjaga perdamaian setelah tembakan dilepaskan di daerah dekat perbatasan Papua Nugini – Papua pada hari Selasa agar dimobilisasi untuk solusi perdamaian.

“Kami sangat prihatin dengan kematian terbaru di Wamena, di daerah pegunungan tengah Papua dan pembunuhan ekstra-yudisial orang-orang Papua oleh pasukan keamanan Indonesia yang terjadi di Tanah Papua,” kata Pdt.Bhagwan kemarin.

Baca juga: Perbatasan PNG-Papua Ditutup

“Serangan balasan akan berlanjut di sepanjang garis etnik dan agama jika langkah cepat tidak diambil untuk mewujudkan stabilitas dan mengakhiri kekerasan oleh milisi sipil bersenjata yang disponsori negara.

Pasukan keamanan Indonesia telah menunjukkan dukungan terang-terangan mereka untuk satu sisi dari konflik tragis ini dan tidak dapat dipercaya untuk tetap netral dan melindungi semua orang.”

Baca juga: 1500 Pesan Solidaritas Untuk Papua Diserahkan Kepada Kantor PBB Fiji

Pendeta Bhagwan mengatakan pilihan yang dapat dipercaya adalah pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa yang terdiri dari pasukan penjaga perdamaian Pasifik yang berpengalaman untuk dimobilisasi dan dikirim untuk mengamati situasi.

“Kita harus membantu menciptakan situasi di mana pihak-pihak yang terlibat konflik ini dapat duduk dan membahas masa depan Papua dengan cara yang damai,” kata Pdt. Bhagwan.

Ia mencontohkan apa yang telah dilakukan pasukan pedamaian Pasifik di regional Pasifik.

“Pasukan penjaga perdamaian dari Fiji, Tonga dan Vanuatu telah berhasil dikerahkan di saat krisis di Bougainville dan Timor Leste, membantu mewujudkan perdamaian. Tentu saja kami akan melihat ke Australia dan Selandia Baru untuk dukungan logistik dalam operasi semacam itu.”

Ketegangan di Papua meningkat pada Agustus setelah orang Papua menolak mengibarkan bendera Indonesia selama perayaan kemerdekaan.

Baca juga: Gereja Pasifik Serukan Tarik Pasukan dan Ijinkan PBB ke Tanah Papua

Ketika orang non-Papua melakukan penghinaan rasial terhadap penduduk asli, terutama mahasiswa di daerah Jawa, protes pecah dan pasukan Indonesia keamanan bereaksi secara brutal, menembak dan membunuh warga sipil.

Gereja-gereja Papua telah menyerukan intervensi PBB melalui kunjungan ke wilayah tersebut oleh komisaris hak asasi manusia PBB.

Mereka juga menginginkan pemindahan pasukan dan dialog antara pemerintah Indonesia dan perwakilan rakyat Papua.

Seruan ini telah didukung oleh 32 anggota Konferensi Gereja-Gereja Pasifik atau Pacific Conference of Churches (PCC).

Sumber : pacificconferenceofchurches.org

Editor: Elisa Sekenyap