Distorsi Peranan Generasi Z Dalam Konflik Papua

0
35
Aksi rasisme mahasiswa Papua di Jayapura, 19 Agustus 2019. (Agus Pabika)

Oleh: Alleb Koyau)*

  1.  Pendahuluan

Generasi Z adalah generasi yang lahir pasca generasi Y. Generasi Y disebut juga generasi Milenial. Generasi  Z didefinisikan oleh para pakar sosiologi moderen sebagai angkatan generasi yang lahir antara tahun 1995-2010. Angkatan generasi ini disebut juga sebagai ‘igeneration’, karena generasi yang lahir pada zaman pesatnya perkembangan IPTEK, khususnya internet. Generasi ini memiliki kesamaan dengan generasi Y, tapi mereka mampu mengaplikasikan semua kegiatan dalam satu waktu seperti nge-tweet menggunakan ponsel, ‘browsing’ dengan PC, dan mendengarkan musik menggunakan headset. Apapun yang dilakukan kebanyakan berhubungan dengan dunia maya. Sejak kecil mereka sudah mengenal teknologi dan akrab dengan gadget canggih yang secara tidak langsung berpengaruh terhadap kepribadian mereka [1].

Menurut pengamatan beberapa pakar, generasi Z dipandang sebagai generasi yang apolitis, mudah cemas, tak berani ambil risiko, serta pragmatis secara ekonomi. Skeptisisme itu tidak lahir dari ruang kosong. Generasi Z dianggap apolitis—cenderung manja, karena lahir dan hidup pada masa yang cukup nyaman [2].

Disamping itu, generasi Z juga memiliki beragam keunggulan yang mana menjadi pembeda dari generasi sebelumnya maupun generasi sesudah 2010-2024 mendatang. Keunggulannya mereka cenderung mandiri dan menguasai seluk beluk IPTEK.

Tulisan ini akan mencoba menarik korelasi keterlibatan generasi Z Papua yang katanya apolitis, namun berdasarkan penelitian jurnalis tirto.id, justru sebaliknya. Mereka tampak politis dan memiliki kepedulian sosial yang besar atas kehidupan berbangsa dan bernegara sebagaimana dipelopori oleh Greta  Thunberg saat ini [3].

Paradigma bahwa generasi Z adalah generasi apolitis, pragmatis dan seterusnya saat ini menjadi justifikasi pemerintah Indonesia, sehingga fenomena peran dan keterlibatan aktor generasi Z dalam konflik Papua baru-baru ini (Jayapura-Wamena) seolah-olah dikaburkan menjadi hanya akibat terprovokasi oleh adanya hoax, provokator, ditunggangi dan sebagainya, sehingga perlu diuraikan ke permukaan.

Riset para jurnalis tirto.id memberikan cukup gambaran bahwa generasi Z sebenarnya tidak final jika mereka hanya dipandang sebagai generasi yang seolah-olah tidak memiliki ‘common sense’ atas persoalan bangsa dan kondisi hidup bernegara yang kian memburuk di Indonesia, khususnya di Papua saat ini.

Pemerintah justru seharusnya mampu melihat dan menganalisa fenomena sosial ini untuk segera menemukan faktor utama causalnya.

Oleh karenanya, tulisan ini akan mendeskripsikan secara singkat beberapa fakta lapangan saat terjadinya kerusuhan di Papua, tepatnya di Jayapura pada tanggal 29 Agustus 2019 dan Wamena 23 September 2019 yang secara langsung sebetulnya menunjukkan adanya peran pergerakan atas keterlibatan masa pelajar secara spontan kompak dan solid disertai aksi pengrusakan berbagai fasilitas publik, pembakaran rumah, kendaraan dan bahkan mengarah pada kekerasan fisik hingga berujung mengakibatkan kematian.

  1. Fenomena Kasus Jayapura, 29 Agustus 2019

Penulis sempat ikut menyaksikan fenomena yang langkah dalam kasus amuk masa pada 29 Agustus 2019 lalu di Kota Jayapura. Mungkin para pembaca akan setuju jika penulis mengatakan pelaku pengrusakan fasilitas publik dan lainnya selama aksi-aksi pengrusakan rumah, motor, mobil, kios-ruko dan sebagainya juga lebih dominan dipelopori oleh generasi Z yang rata-rata berseragam sekolah menengah pertama dan menengah atas.

Rata-rata mereka tampil digarda depan bersama generasi Y dengan segala keberanian dan ekspresinya. Mereka tampil dengan action yang unik; memakai pakaian seragam yang diikatkan melingkari kepala. Tangan mereka tampak ringan, melempar, menghancurkan dan membakar apa saja yang tampak didepan mereka. “Branggg…., bukkk…… baaakkkkk…..” bunyi pagar, kaca rumah yang hancur atas lemparan anak- anak muda dalam perjalanan masa menuju Kantor Gubernur Papua.

Mereka dominan berlari di barisan terdepan dan di samping barisan masa panjang mengular di jalan raya Argapura- Jayapura kota. Generasi ini juga tampak paling getol menyuarakan Papua merdeka sepanjang jalan. Mereka meneriakan “Papua” yang diikuti  teriakan, “merdeka” oleh masa aksi lainnya secara bersamaan.

Pun demikian tidak hanya itu, aksi-aksi heroik reaksioner generasi Z tampak dari perlawanan terhadap berbagai halauan aparat kepolisian yang menembakan gas air mata. Ketika generasi Y dan generasi sebelumnya mundur dan masih bimbang dan ragu. Generasi Z tampil kemuka menjadi eksekutor berani-patriotik. Mereka mengambil peran memimpin dan mengkomandoi banyak aksi-aksi spontan yang terjadi saat itu.

Keterlibatan mereka sebelumnya, sebenarnya sudah nampak pada aksi demo tertanggal 19 Agustus 2019. Seminggu sebelum aksi susulan yang berdarah-darah itu. Saat itu tampak beberapa anak-anak yang secara fisik merupakan bagian dari generasi Z yang tampil memakai pakaian seragam lengkap berjumlah sekitar 15 orang di barisan masa di sekitar Argapura. Dengan kompak dan militan mereka masuk ke dalam barisan masa untuk bergabung bersama melakukan aksi. Mereka bergabung sembari meneriakan yel-yel Papua merdeka dan seruan “Referendum Yes, Indonesia No!”

Kehadiran mereka mendapatkan perhatian dan sambutan hangat dari masa lainnya. Kami berbisik, “luar biasa pelajar hari ini. Bisa bergabung padahal sebelumnya jarang, apakah ini merupakan keberhasilan proses Dikpol aktivis kemerdekaan rakyat Papua?” Sedikit lagi kita merdeka?” Demikian pertanyaan-pertanyaan sepintas yang muncul dalam perjalanan aksi masa pada 19 Agustus 2019 itu.

Dengan melihat fenomena kasus Jayapura ini sebenarnya jelas, bahwa keterlibatan generasi Z sudah makin dominan dan terasa. Akibatnya banyak yang bingung kenapa demo kali ini bisa sangat lain dari yang biasanya. Apakah ada upaya menunjukkan jati diri dan ini merupakan sinyal bahwa generasi Z mustinya perlu dilihat dengan kaca mata yang lain? Tentu semua fenomena sosial ini butuh kajian mendalam.

  1. Fenomena Aksi Demo Wamena, 23 September 2019

Siapa aktor inti kasus  Wamena. Sebenarnya tidak sulit dideteksi jika kita mau jujur dan secara terbuka melihat serta siap menerima faktanya. Bahwa hanya dengan melihat dari faktor pencetusnya saja, sangat terang benderang berkaitan erat dengan aktor; para pelajar berseragam yang turun ke jalan memprotes ujaran rasialis seorang guru di salah satu SMA di kota Wamena.

Pergerakan masa aksi yang nampak dalam video-video atau foto yang beredar selama pengrusakan, pembakaran dan penghancuran fasilitas publik maupun swasta lainnya jelas menunjukkan fakta bahwa generasi Z marah, tidak terima dan mereka mengamuk. Kemarahan itu karena ada faktor pemicu. Pemicunya jelas, tembakan-tembakan senjata militer Indonesia yang tampak hiperaktif atas demo damai siswa.

Dengan fakta tewasnya teman siswa dan ujaran rasialis yang menurunkan derajat kemanusiaan orang Papua ke bawah titik merah sub manusia atau hewan, maka sebagai manusia yang bermartabat, berbudaya dan memiliki sistem nilai kemanusiaan yang ketat, tentu saja para siswa merasa sangat dilecehkan. Oleh sebab itu, mereka tidak bisa menerima ujaran guru tersebut sehingga wajar jika mereka akhirnya tumpah ruah ke jalanan mengamuk. Kelalaian utama pihak aparat adalah sama, yakni dengan serta merta mengeluarkan tembakan. Padahal bisa saja memakai cara-cara persuasif tanpa menggunakan senjata. Di sini mestinya aparat paham jika senjata memiliki relasi historis traumatis dengan orang Papua, tetapi lagi-lagi mereka (aparat) gagal paham.

Tidak bisa disangkal bahwa pergerakan masa yang didominasi pelajar dengan suatu sistem kordinasi autodidak spontan mampu menguasai kota Wamena selama beberapa jam. Ini mengindikasikan bahwa generasi Z yang dipandang sebelah mata mampu berubah menjadi senjata mematikan tak terduga jika persoalan bangsa ini yang sudah busuk-membusuk dihinggapi lalat dan ulat ini terus diabaikan oleh negara melalui Pemerintah Indonesia.

Kasus Wamena yang berhasil memecahkan rekor kehancuran dan kematian terbesar pasca reformasi ini, adalah sebuah tragedi yang diaktori oleh generasi Z yang katanya apolitis, pragmatis dan cenderung hedonis. Tapi apakah benar mereka demikian atau ada yang fenomena sosial, psikobiologis yang hampir tidak kita sadari menjadi aktornya?

  1. Penutup

Keterlibatan generasi Z yang dipelopori oleh generasi Y dalam mengukir sejarah peradabannya akan berlangsung terus ke depan. Menyangkal keberadaan generasi yang semakin sadar akan posisi dan peranan sosialnya sebagai bagian dari komunitas sosial yang terus mengalami pendewasaan hanyalah upaya menabur bom waktu. Demikian juga peran mereka dan posisi mereka dalam perjuangan hari ini menegakan keadialan, HAM, hukum dan demokrasi mestinya tak terus diabaikan dengan dalih-dalih yang tak relevan. Narasi akibat terprovokasi hoax, ditunggangi, dibayar, ditipu, dimanfaatkan dan sebagainya atas realitas partisipasi arti generasi Z mestinya dihentikan. Sebab ini hanya akan membuat realitas suatu fenomena didistorsikan.

Saatnya keberadaan mereka dan peranan mereka dipandang dan diberikan ruang. Mereka mesti juga didengar, dilibatkan dan dihargai. Terlebih dalam kerangka memantapkan kepercayaan, pemerintah musti jujur dan mau serius menyelesaikan masalah bangsa yang ada saat ini, terutama untuk kasus Papua. Jika tidak maka “distrust” generasi Z akan menjadi masalah besar yang terus menghantui dan bereproduksi sepanjang sejarah.

Peristiwa turunnya generasi Z dari STM Jakarta saat demonstrasi menolak pengesahan RUU KUHP, KPK, PKS dan seterusnya menjadi titik balik dari suatu realitas makin dewasa, kritis dan politisnya generasi Z ini. Itu sebuah fakta dan yang terpenting dari semua itu yang mesti diingat adalah bahwa dengan semakin besar dan meratanya keterlibatan generasi Z di Indonesia, khususnya di Papua dalam aksi-aksi anti pemerintah merupakan cermin bahwa ada yang salah dengan sistem kehidupan berbangsa dan bernegara dalam rumah besar yang disebut “NKRI Harga Mati” ini.

Oleh sebab itu, harus segera dikoreksi. Sebelum terlambat, sebab mereka adalah aset emas masa depan bangsa yang dipundaknya akan diletakkan eksistensi bangsa dan negara yang bernama Indonesia.

Sejarah yang salah musti diluruskan, sedangkan yang benar musti diwariskan atas mereka, agar bangsa ini tidak ada utang di masa depan. Bukankah demikian?

Catatan;

  1. Tirto.Id (3.10.2019)
  2. Wikipedia.org (3.10. 2019)
  3. Ibid.

Papua, 5 Oktober 2019

*)Penulis adalah mahasiswa Papua tinggal di Papua.