Dua Imam Baru dari Paroki Terkecil dan Tertua di Keuskupan Timika

0
71

NABIRE, SUARAPAPUA.com — Dua dari lima Imam baru yang ditahbiskan Uskup Keuskupan Agats, Mgr. Aloysius Murwito, OFM, di Gereja Katedral Tiga Raja Timika, Papua, Jumat (4/10/2019), tercatat berasal dari paroki terkecil dan tertua di wilayah Keuskupan Timika.

Pastor Fransiskus Uti, Pr, salah satu imam baru di Keuskupan Timika, berasal dari Paroki Santo Fransiskus Obano. Paroki ini ada di Dekenat Paniai. Terletak di distrik Paniai Barat. Paroki Obano didirikan tahun 1971, merupakan paroki dengan jumlah umat paling sedikit dibanding paroki lainnya di Keuskupan Timika.

Baca Juga: Umat Keuskupan Timika Sambut Meriah Tahbisan Lima Imam dan Dua Diakon

Pastor Frans buah pasangan (alm) Leonardus Uti dan Siska Madai. Lahir di Wamena, 8 September 1989. Masa kecil ia habiskan di kota kelahirannya. Jelang usia sekolah ikut orang tua pindah ke Paniai.

- Iklan -

Masuk SD YPPK St. Fransiskus Obano hingga tamat tahun 2001, ia lanjut ke SMP Negeri Paniai Barat Obano dan tamat tahun 2004. Kemudian, masuk SMA YPPGI Wissel Meren Enarotali dan tamat tahun 2008.

Bercita-cita menjadi imam, Frans diterima di Kelas Persiapan Atas (KPA) Keuskupan Timika yang dikelola di Paroki Kristus Sahabat Kita (KSK) Nabire. Setahun di KPA, tahun 2009 ia menjalani Tahun Orientasi Rohani (TOR) di Wanggar SP A Nabire. Selanjutnya kuliah di Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) “Fajar Timur” Abepura, selama empat tahun (2010-2014).

Dua tahun menjalankan Tahun Orientasi Pastoral (TOP) dan Tahun Karya, Frans lanjut studi Pascasarjana non gelar di STFT (2016-2018). Lalu, menerima tahbisan Diakonat oleh Mgr. John Philip Saklil, Pr, di Gereja Santo Stefanus Sempan, Timika, 22 Februari 2019.

Seusai tujuh bulan masa diakonat, anak keempat dari bapak Leo dan mama Siska ini akhirnya ditahbiskan menjadi Imam di Gereja Katedral Timika, 4 Oktober 2019.

Kecil dan Unik

Paroki Santo Fransiskus Obano tak hanya terkecil jumlah umatnya. Tetapi juga unik mengingat relasi antara umat Katolik dan gereja lain yakni Kingmi, sangat erat.

Jumlah umat di Paroki Obano, sesuai update data terakhir adalah sebanyak 1.600 lebih.

“Itu jumlah keseluruhan umat paroki Obano, bukan jumlah berdasarkan kepala keluarga,” kata Tiborius Adii, cendekiawan Katolik Papua yang lahir dan besar di Auyatadi, nama lain Obano.

Alasan jumlah umat sangat sedikit, karena mayoritas orang Obano dan distrik Paniai Barat umumnya adalah umat Gereja Kingmi.

Lantaran itu, Tibo menyebut Paroki Obano adalah “paroki bungsu” di Keuskupan Timika.

Dalam situasi begitu, kata Tibo, Fransiskus Uti muncul sebagai pembuka jalan. Ia imam pertama dari Obano, atau Paniai Barat secara umum.

Pastor Frans mencatat sejarah baru sebagai Imam pertama dari paroki dengan jumlah umatnya paling sedikit karena di sana mayoritas umat Kingmi. Hebatnya, umat Katolik dan Kingmi di Obano, distrik Paniai Barat, selalu saling membantu dalam setiap kegiatan keagamaan.

Itu biasa dibuktikan pada ajangnya pemuda gereja di sana. Mereka jaga betul toleransi antarumat beragama.

Baca Juga: Tahbisan Imamat Fransiskus Uti, Pr; Refleksi Perjuangan Iman Katolik Umat Paroki Obano

Pater Sebastianus Amamean, Pr, oleh karena itu sangat kerasan di Obano sejak ditugaskan tahun 2006. Pastor paroki ini memang suka berbaur dengan warga setempat.

Pada hari pertama Musyawarah Pastoral III (26/2/2011), umat Kingmi Klasis Paniai Barat saat mengantar bahan makanan, sempat “demo” Uskup Saklil, dengan salah satu tuntutan mereka adalah Maipaiwiyai —sapaan akrab Pater Sebastianus— selamanya bertugas di Obano alias tak boleh ditarik ke keuskupan atau dipindahkan ke paroki lain.

Lima Imam dan dua Diakon sesaat ditahbis Uskup Agats Mgr. Aloysius Murwito di Gereja Katedral Timika, Jumat (4/10/2019) sore.

Tahbisan imamat Frans ini, imbuh Tibo, disambut gembira seluruh umat Katolik, Kingmi maupun komunitas Bunani di Paniai Barat sebagai bukti syukur kepada Sang Pencipta atas suksesnya salah satu anggota keluarga mereka menjadi Imam Projo Keuskupan Timika.

“Pilihan panggilan hidup memang diperhadapkan pada tantangan dan harapan. Adanya tahbisan imamat ini menjadi satu peristiwa sejarah yang patut direfleksi dan dihayati sebagai ungkapan pembangunan dan pertumbuhan Iman Katolik telah menjadi dewasa dan berbuah,” katanya.

Tibo merefleksi peristiwa Iman ini menandakan Iman Umat Katolik telah dewasa dan berakar dalam tatanan hidup menggereja dan mengumat di tengah dunia yang sedang berubah.

“Berbuah untuk menghasilkan banyak buah yang limpah atas limpahan rahmat Imamat ini.”

“Terhitung tahun ini umat di Paniai Barat menerima peradaban baru sesuai dengan yang difirmankan Allah melalui para RasulNya. Sebuah peristiwa iman bertumbuh dalam sejarah hidup umat terkecil di Dekenat Paniai. Luar biasa besar jasa Bapa Uskup Saklil yang terus mendorong, mendidik dan membina agar keterwakilan dari umat kecil ini menjadi Imam Projo Keuskupan Timika dalam upaya Parate Viam Domini,” tutur Tibo.

Menanti Enam Tahun

Pastor Yuvensius Tekege, Pr, berasal dari Paroki Santo Fransiskus Assisi Epouto, Dekenat Paniai. Paroki ini terletak di pinggir Danau Tage —satu dari tiga danau yang pada masa Belanda terkenal dengan sebutan Wissel Meren— tergolong paroki tua, didirikan tahun 1952 setelah Pater Lactantius Nouwen OFM dipindahtugaskan dari Pos Yaba —kini stasi dari Paroki St. Yohanes Pemandi Waghete— tahun 1950.

Yuven —sapaan akrab anak sulung dari pasangan Philipus Tekege dan Magdalena You— lahir di Epouto 13 Juli 1984, setelah menjalani studi dan karya pastoral, mendapat tahbisan diakonat dari Mgr. Leo Laba Ladjar, OFM, Minggu 29 Desember 2013 di Gereja Kristus Raja, Waena, Jayapura.

Uniknya, Diakon Yuven menanti tahbisan imamat dalam ketidakpastian selama enam tahun. Bahkan, tak ada respons dari atasannya di kantor Keuskupan Jayapura.

Hingga kini tak diketahui secara pasti apa alasan utama sampai statusnya digantung kala itu.

Bertahun-tahun lamanya Diakon Yuven menunggu. Luar biasanya, ia tetap sabar.

Hingga akhirnya “hijrah” ke Keuskupan Timika. Uskup Saklil menerima lamaran pindah dari Diakon Yuven.

Pria yang lahir dan besar di komplek Misi Epouto ini —ayahnya karyawan Pastoran Epouto sejak usia muda hingga kini, akhirnya mengikuti pembaharuan tahbisan diakonat bersama empat frater: Fransiskus Uti, Agustinus Rumsory, Agustinus Suprianto Elmas, dan Herman Yosep Betu.

Setelah tujuh bulan berlalu, bersama empat Diakon ini, Diakon Yuven dan Diakon Frans ditahbiskan menjadi Imam. Sedangkan dua Frater ditahbiskan menjadi Diakon, masing-masing Benyamin Magay dan Nikolaus Wakei.

Jikapun sempat sampai titik amat mengecewakan, pengalaman Yuvensius Tekege melewati masa-masa ketidakpastian tahbisan imamat sejatinya memperkokoh keteguhan hati dia menjawab panggilan Tuhan untuk bekerja di ladangNya.

“Bukan karena manusia, melainkan kerja Roh Allah bagi adik Yuven. Hebatnya dia pegang teguh pada komitmen menjadi imam, adalah buah karya Roh Allah,” tutur Yosep Yeimo, tokoh awam Katolik di Dekenat Paniai.

“Luar biasa karena dia teguh pada panggilan hidup menjadi imam,” ujarnya sembari menyampaikan proficiat atas tahbisan imamat.

Masih Butuh Imam

Dengan ditahbisnya lima imam baru, Keuskupan Timika kini memiliki 32 orang pastor.

Menurut Pater Marthen Ekowaibi Kuayo, Pr, Administrator Diosesan Keuskupan Timika, jumlah imam masih kurang mengingat luasnya jangkauan wilayah pastoral di Keuskupan Timika.

“Sesungguhnya ini masih kurang. Kalau dalam satu keluarga ada anak laki-laki, tolong kasih ke Gereja. Wilayah pelayanan gereja Katolik ini besar dan luas,” katanya.

Prosesi pentahbisan lima Imam dan dua diakon di Gereja Katedral Tiga Raja Timika, Jumat (4/10/2019) sore. (Abeth You untuk Suara Papua)

Jauh sebelumnya, Uskup Saklil semasa hidupnya selalu bicara soal masih sangat kurangnya tenaga pastoral. Uskup bahkan gemar minta umat Katolik agar anak-anak muda memilih menjadi petugas Gereja, baik imam maupun awam. Ia memang menyadari ini satu tantangan tersendiri yang nyata dihadapi Keuskupan Timika.

Uskup Saklil biasa heran dengan tuntutan umat minta pastor untuk layani ataupun usulan paroki baru, tetapi anaknya tak diarahkan untuk masuk seminari atau studi di STFT “Fajar Timur”.

Kecenderungan ini kerap disentil Uskup Saklil saat kunjungan pastoral ke paroki-paroki. Kini ia telah pergi meninggalkan renungan ini. Ia menyadari bahwa memang tak mudah bagi keluarga-keluarga untuk bersaksi agar anak-anak mau menjawab panggilan hidup selibat.

Pentahbisan lima Imam baru ini patut disyukuri, dan sembari mendoakan keteguhan iman mereka akan panggilan imamat sekaligus melapangkan jalan tahbisan imamat bagi dua Diakon. Juga, harapan akan munculnya barisan panjang pada tahun-tahun mendatang.

Pater Kuayo pun menghunjukan rasa syukurnya kepada Tuhan yang senantiasa membuka jalan bagi calon pekerja di ladang-Nya. Kehadiran mereka sangat penting. Sebab, umat membutuhkan gembala sebagai penuntun di jalan kebenaran dalam situasi dengan banyaknya persoalan duniawi.

Saat memimpin liturgi pentahbisan, Mgr. Aloysius Murwito menyebut keputusan iman dari lima imam baru merupakan tanggapan terhadap panggilan Tuhan menuju kesempurnaan kesucian dan kesempurnaan kasih melalui tahbisan imamat.

Uskup Murwito ucapkan proficiat atas keputusan iman lima imam tertahbis. Karena menurutnya, imamat merupakan satu dari sekian banyak jalan untuk menanggapi panggilan Tuhan dalam menjalankan proses kehidupan manusia di muka bumi ini.

Pewarta: Markus You