Inilah Keputusan 2000 Mahasiswa Eksodus Asal Yahukimo

0
105

JAYAPURA, SUARAPAPUA.com — Lima poin hasil kesepakatan dan keputusan bersama diambil 2000 mahasiswa asal Yahukimo yang memilih meninggalkan aktivitas perkuliahan di berbagai kota studi di seluruh Indonesia.

Salah satu keputusan dari mahasiswa eksodus asal Yahukimo yang dikategorikan paling berani adalah tidak akan kembali ke kota studi mereka.

“Kami mahasiswa Yahukimo se-Indonesia menyatakan sikap tidak akan kembali ke kota studi se-Indonesia,” bunyi keputusan pada poin ketiga.

Baca Juga: 2000 Mahasiswa Yahukimo Sudah Pulang ke Papua

- Iklan -

Kesepakatan dan keputusan dari 2000 mahasiswa itu dihasilkan dalam pertemuan yang diadakan baru-baru ini menyikapi kepulangan mereka dari berbagai kota studi.

“Kami 2000 mahasiswa sudah pertemuan, dan hasilnya beberapa poin yang kami sepakat bersama. Saya dengar informasi bahwa ada yang kembali ke kota studi. Tetapi itu hanya dua sampai tiga orang saja,” kata Luis Kabak, pengurus Himpunan Mahasiswa Yahukimo se-Jawa dan Bali, Senin (14/10/2019) di Asrama Mahasiswa Yahukimo, kota Jayapura.

Pertemuan menurutnya diadakan setelah mendata ulang sekaligus verifikasi data mahasiswa eksodus pasca kasus rasisme di Surabaya, Malang, Semarang, Makassar, dan beberapa kota lain pada medio Agustus 2019.

Luis menegaskan, hasil dari pendataan dan verifikasi ulang dinyatakan valid, sehingga baru sekarang disampaikan ke publik.

“Data dari masing-masing ketua korwil di setiap studi sudah kami pengurus pusat terima dan saya bersama pengurus pusat sudah verifikasi hingga datanya valid. Jumlah seluruhnya 2000 mahasiswa,” jelasnya.

Omikson Balingga, ketua posko umum mahasiswa Yahukimo di Jayapura, membenarkan data tersebut.

Kata dia, data yang dirilis pengurus mahasiswa Yahukimo dari luar Papua tak berbeda dengan data yang telah diperolehnya bahkan sudah diserahkan beberapa hari lalu.

Balingga menilai laporan pemerintah daerah bahwa mahasiswa yang eksodus hanya 600 orang, tak sesuai fakta karena tak pernah ada komunikasi dengan pengurus organisasi mahasiswa.

“Waktu itu kami tidak membantah. Kami diam karena kami belum mendata. Sekarang data sudah jelas, jadi kami harap supaya sedikit yang ada di luar Papua itu dipulangkan saja,” ujarnya.

Poin pertama keputusan mahasiswa eksodus asal Yahukimo, pemerintah daerah kabupaten Yahukimo segera memfasilitasi mahasiswa Yahukimo yang tersisa di seluruh kota studi se-Indonesia untuk pulang ke Papua.

Kedua, Polda Papua dan Polri segera bebaskan seluruh aktivis HAM dan mahasiswa Papua yang ditahan di Jayapura, Jakarta, dan Kalimantan Timur.

Selain itu, mahasiswa Yahukimo se-Indonesia mendesak pemerintah daerah kabupaten Yahukimo untuk segera mendesak kepada pemerintah provinsi Papua dalam hal ini Gubernur dan MRP untuk mempertanggungjawabkan pernyataan mereka terkait menyiapkan kampus bagi mahasiswa eksodus di Papua maupun Pasifik.

Keputusan terakhir, pimpinan korwil mahasiswa Yahukimo se-Indonesia tidak bertanggungjawab jika ada mahasiswa Yahukimo yang kembali ke kota studi se-Indonesia dan kemudian hari terjadi sesuatu hal yang tidak dikehendaki.

Pewarta: Ardi Bayage
Editor: Markus You